零-zero-

Chapter 1
“Apakah Anda bersedia menovelkan game?”
Demikianlah bunyi telepon yang kuterima dari pak Ioka hari itu, musim semi, tahun 2002. Dia adalah seorang editor majalah yang telah kukenal saat tengah mencari data untuk pekerjaanku sebelum ini.
Sering sekali sebuah game terkenal dinovelkan untuk menarik fans dari kalangan non-gamers. Bahkan aku yang bukan seorang gamers pun tahu hal itu. Tapi kupikir, yang berhak menulis novel semacam itu hanyalah para penulis skenarionya, atau orang-orang yang memang terlibat dalam pembuatan game itu.
Waktu aku menanyakan itu pada pak Ioka, dia menjawab,
“Tidak juga. Kebanyakan novel seperti ini sebenarnya menggunakan penulis orang luar, agar memiliki nuansa yang agak berbeda dengan gamenya. Perusahaan kami saat ini sedang mencari tenaga penulis baru.”
“Tapi, apa tidak apa-apa saya yang ditunjuk?”
“Tentu saja. Saya ingat, anda pernah bercerita bahwa anda pernah menulis novel semasa sekolah. Karena itulah saya langsung menelepon anda.”
Aku adalah seorang jurnalis freelance. Tapi, pada masa kuliah, aku memang pernah belajar menulis novel, dan juga terlibat dalam pembuatan doujinshi. Dan kalau kuingat-ingat, aku memang pernah menceritakannya pada pak Ioka.
Tapi…itu kan cuma sebatas level amatir saja. Yah…bukannya aku tidak ingin jadi profesional, sih….
Hening beberapa saat, kemudian terdengar suara pak Ioka dari seberang sana,
“Saya sebenarnya juga tidak enak tiba-tiba minta tolong deperti ini. Maksud saya, Anda kan seorang jurnalis. Apa…tidak bisa?….”
“Tidak, sama sekali tidak apa-apa. Dengan senang hati!” aku buru-buru menyahut kembali.
“Syukurlah. Kalau begitu, apakah besok Anda ada waktu untuk bertemu dengan para staff lainnya?”
“Ya.”
“Kalau begitu, besok jam 2 siang kita akan bersama-sama mengunjungi game maker yang bersangkutan. Kita bertemu jam 1 lewat 50 di stasiun Ichigaya. Bagaimana?”
Aku mengiyakan, lalu setelah memberi salam, aku memutuskan hubungan.
Begitu meletakkan gagang telepon, aku merasakan bulu kudukku berdiri.
Aku telah melakukan…menerima sesuatu yang diluar kemampuanku, itulah sebabnya.
Tidak…daripada itu……Apa betul mereka akan menyerahkan penulisan novel itu kepadaku? Aku yang cuma seorang jurnalis freelancer, dan kacangan pula ini?
Tapi, ini sebuah kesempatan besar bagiku. Selama ini aku selalu berangan-angan namaku bisa tercantum di tankoubon, dan bukan cuma sekedar nama inisial di penghujung artikel saja. Mimpiku untuk menerbitkan buku, sepertinya akan jadi bukan sekedar mimpi.
Tapi….
Keesokan harinya, saat akan berangkat ke Ichigaya, adik perempuanku yang tinggal bersama menghentikanku.
“Jangan pergi ke sana.” katanya tanpa basa-basi.
Aku sudah tidak memiliki orang tua, dan satu-satunya yang bisa disebut saudara olehku hanyalah adikku ini. Adikku menganggapku bukan hanya sebagai kakak, tapi juga orang tua. Wajar saja.
Walaupun begitu, sulit mengatakannya, tapi aku selalu agak menjaga jarak dengannya. Kenapa bisa begitu, aku tidak tahu.
Aku tidak menanggapinya. Padahal tidak ada salahnya berkata sedikit lembut kepadanya……
Setiap kali berhadapan denganku, adikku selalu sangat diam. Bukan salahnya….Karena setiap kali aku merasa dia ingin bicara, aku selalu tidak menunjukkan minat terhadapnya…..Aku juga tidak pernah membicarakan pekerjaanku padanya. Tentu saja pekerjaan kali ini pun tidak terkecuali.
Tapi kenapa tiba-tiba dia berkata begitu?….
“Kenapa kamu bilang begitu?” tanyaku akhirnya.
“Tidak tahu….tapi….” adikku sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. Dia hanya menatapku lekat-lekat, kemudian kembali berkata lirih,
“…..Kumohon…..Jangan pergi…..”
Dia ketakutan. Itu sangat terlihat jelas.
Tapi, saat ini aku belum tahu apa yang dia takutkan.
Aku merasa agak was-was.
Pasti ada sesuatu….atau dia mendapat firasat sesuatu yang akan terjadi, makanya dia sampai ketakutan seperti ini….
Tapi aku segera membuang perasaan itu dari kepalaku.
“Kakak harus pergi. Ini kesempatan baik. Sayang kalau dilewatkan, dan itu berarti aku gagal sebagai seorang pro.” kataku.
Kata-kata itu kuucapkan lebih kepada diriku sendiri. Sekali lagi, aku kembali menjauh dari adikku….Tidak ingin bersentuhan dengan apa yang dia ketahui, ataupun dia cemaskan….
Dan, mengacuhkan kecemasan adikku, aku pun meninggalkan rumah.
***
Untuk mencapai Ichigaya, aku harus menggunakan trem, yang jalurnya termasuk jarang kugunakan.
Saat menuruni tangga stasiun, perasaan aneh muncul di dalam hatiku. Seolah-olah ada sesuatu yang ingin menahanku.
Tidak ada apa-apa. Semua baik-baik saja.
Entah darimana, tiba-tiba terdengar suara itu. Dan itu bukan suara manusia.
Perasaanku semakin tidak enak. Aku melirik sekeliling, dan tiba-tiba saja, sesosok bayangan putih melintas di hadapanku.
Aku langsung menyadarinya.
Suara yang kudengar barusan, dan juga bayangan putih itu bukanlah sesuatu yang bisa didengar maupun dilihat oleh orang biasa.
Begitu memikirkan itu, perasaan tidak enak yang kurasakan tadi semakin bertambah. Nafasku bahkan mulai sesak karenanya. Setelah membeli tiket, aku langsung beristirahat di kursi terdekat yang ada di platform.
Jantungku berdebar keras. Suasana platform di sekelilingku seolah-olah berubah menjadi sebuah gua zaman purbakala. Entah pengaruh stasiun yang jarang kudatangi atau apa, aku merasa seolah-olah terkurung di tempat ini.
Atau lebih tepatnya, tempat ini yang berusaha mengurungku.
Perasaanku benar-benar tidak nyaman.
Aku seperti ditarik ke dalam kegelapan di bawah tanah yang tak berdasar oleh kekuatan jahat yang tidak terlihat.
Aku tidak bisa di sini terus……
Aku berdiri dan bersiap melarikan diri dari tempat itu saat kereta yang akan kunaiki akhirnya tiba dengan suara berderu.
Kedatangan kereta itu sepertinya menenangkanku. Aku naik, dan saat tengah mengatur kembali nafasku serta menghapus keringat yang membanjiri wajahku, seseorang memanggil namaku.
Aku menoleh, dan segera melihat Takamine-sensei, seorang pengarang novel terkenal bersama asistennya, Hirasaka Tomoe-san, duduk di bangku dekat situ. Aku langsung menundukkan kepala dalam-dalam.
Takamine-sensei, nama lengkapnya Takamine Junsei, adalah seorang pengarang novel misteri terkenal. Karya-karyanya selalu menjadi best seller.
Aku berkenalan dengan beliau sekitar satu tahun silam. Beliau mengajar di sekolah jurnalistik tempatku belajar. Sebelum itupun aku memang sangat mengagumi karya-karya beliau, sehingga aku mengambil mata kuliah yang diajarnya dengan sangat serius, dan meraih peringkat pertama di akhir tahun ajaran.
Beliau memujiku, dan setelahnya bahkan menawarkan pekerjaan padaku untuk membantunya. Takamine-sensei, selain menulis misteri juga menulis karya non-fiksi. Saat itu ia akan mengumpulkan data ke luar negeri dan membutuhkan seorang asisten.
Diminta tolong begitu oleh orang yang kukagumi, tentu saja kegembiraanku langsung meluap-luap. Tapi, aku juga khawatir. Apa keberadaan bocah berumur 20 tahun yang masih hijau ini bukannya malah jadi penghalang baginya? Aku mengutarakannya pada Takamine-sensei. Beliau kemudian berkata,
“Ikutlah. Kesempatan hanya datang sekali, dan kalau kau tidak menangkapnya, dia akan kabur. Kau punya bakat, karena itulah aku mengajakmu.”
Aku sangat terharu dengan kata-kata itu, kemudian menerima tawarannya dan membantunya mengumpulkan data ke luar negeri. Data-data itu kemudian menjadi novel berjudul ‘Benmei No Kaku’, yang menjadi best seller.
Setelah itupun, Takamine-sensei sering memberikan pekerjaan padaku lewat koneksi-koneksinya, dan aku sudah dianggapnya sebagai murid dalam dunia tulis-menulis novel. Berkat itulah aku bisa sukses sebagai seorang jurnalis, walaupun cuma freelancer seperti ini.
Ngomong-ngomong, pak Ioka yang akan berurusan denganku sebentar lagi juga dikenalkan oleh Sensei.
“Jangan berdiri terus seperti orang bodoh. Duduklah. Bukan kursiku, sih…” Takamine Sensei menepuk-nepuk kursi di sebelahnya sambil tertawa kecil. Aku tersenyum dan menuruti ajakannya.
“Apa kabar?” tanya Hirasaka-san dari samping sensei.
Hirasaka Tomoe adalah asisten sekaligus juga sekretaris tetap Takamine-sensei. Umurnya pertengahan 20-an, dan dia lumayan cantik. Dia sangat mengagumi Takamine-sensei, mungkin melebihiku. Begitu lulus kuliah, dia mendatangi sensei dan setengah memaksa meminta dijadikan asisten sensei. Begitulah yang dia ceritakan padaku….
Sedangkan menurut Takamine-sensei,
“Aku memaksanya menjadi asistenku, karena nilainya sangat baik. Padahal dia sudah dapat posisi bagus dimana-mana.”
Aku tidak tahu mana yang benar, tapi aku yakin, dari kedua versi itu pasti masing-masing ada yang mengandung kebenaran.
Hirasaka-san, tentu saja, juga mengarang novel. Namanya cukup terkenal sebagai pengarang baru berbakat yang beberapa kali memenangkan penghargaan. Aku pernah membaca karya-karyanya, dan harus kuakui, sebagai seorang wanita, dia sangat hebat.
“Kamu ada pekerjaan, ya?” pertanyaan Takamine-sensei membuyarkan lamunanku. Aku buru-buru menjawabnya dan menjelaskan asal-muasal kedatanganku ke stasiun ini.
“Hebat! Kalau begitu, ini akan jadi debutmu, ya?” Hirasaka-san memujiku. Cukup keras, karena para penumpang yang lain, walau kereta ini sedikit penumpangnya, langsung menoleh ke arah kami.
Aku menunduk dan menggaruk-garuk kepalaku malu-malu.
“Yah…dibilang begitu juga, konsep ceritanya kan sudah ada. Mungkin itu sebabnya mereka meminta saya yang menulisnya….” ucapku merendah.
“Kalau berpikir begitu, seumur hidup kau tidak akan maju-maju! Membuat sesuatu yang sudah ada karya original seperti terkadang jauh lebih sulit ketimbang membuat sesuatu yang baru, kau tahu?” Takamine-sensei memotong dengan tajam.
Rasanya aku seperti kena siram air dingin.
“Maaf…” aku cuma bisa menundukkan kepala. Aku ini bikin malu saja, tidak pe de, sampai jadi dimarahi begini oleh Sensei.
Takamine-sensei menepuk bahuku dan berkata dengan ramah, “Aku mengerti perasaanmu. Kau tegang, bukan? Orang kalau tegang memang biasa berkata tanpa berpikir panjang begitu.”
Rasanya aku mau nangis.
Tapi, aku juga merasa sangat senang dan bertambah semangat karena didukung oleh orang sehebat beliau.
Tak lama kemudian, kereta berhenti di stasiun Ichigaya. Aku turun disana dan berpisah dengan Takamine-sensei dan Hirasaka-san setelah sebelumnya berjanji untuk mengontak mereka lagi.
***
Pak Ioka sudah menunggu di bawah peta jalur JR Ichigaya. Dia lebih tua kira-kira 10 tahun dariku, tapi gayanya masih seperti anak muda. Rambutnya saja dicat coklat.
Aku langsung mendekatinya dan setelah berbasa-basi sejenak, kami berjalan.
Selama berjalan, aku setengah mati mencari bahan pembicaraan. Maklumlah, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku dapat pekerjaan ini. Basa-basi penting disini. Tapi, memang dasar aku payah, nggak jago basa-basi, pembicaraan kami terdengar kering-kering saja.
Aku memang selalu begini kalau bertemu orang yang belum akrab denganku. Gara-gara sikapku ini, pernah juga aku dipecat di hari ketiga kerja sambilanku waktu masa kuliah dulu.
“Horor katanya.” kata pak Ioka sambil berjalan.
“Eh?” Aku tidak langsung menyambung dengan perkataannya.
“Genre game yang akan dinovelkan itu. Judulnya ‘Zero’. Katanya sih cukup seram lho.”
“Anda sudah memainkannya?”
“Belum. Rencananya nanti Saya akan pinjam versi betanya sekalian.”
“Versi…beta?..”
“Prototype. Produk yang sudah hampir sempurna dan tinggal finishing touchnya saja disebut beta atau trial version. Anda punya Playstation 2?”
“Ya. Punya adik saya tapinya.”
“Lho? Anda punya adik?”
“Bukankah saya sudah pernah cerita sebelum ini? Saya tinggal berdua dengan adik perempuan saya.”
“Hee…Aneh, ya…Kalau tidak salah, waktu itu anda bilang anda tinggal sendirian….”
Aku hanya tersenyum kecil saja mendengarnya.
Aneh.
Sebelumnya, aku pernah bercerita pada pak Ioka bahwa aku tinggal berdua dengan adik perempuanku. Aku ingat benar waktu itu, dia langsung berkata, “Wah, kalau begitu kapan-kapan kenalkan, ya.”
Orang ini memang agak aneh dan kurang bertanggung jawab, sih. Aku pernah meminjamkan video rekaman acara TV yang kebetulan juga disukainya. Tapi, setelah beberapa lama, dia tidak mengembalikannya juga sehingga aku jadi agak habis sabar juga. Tapi waktu kutanyakan pada pak Ioka, dia malah berkata,
“Waduh, maaf! Videonya terpakai oleh putri saya waktu dia merekam anime kesukaannya, tuh.”
Dia mengatakan itu tanpa nada penyesalan sama sekali. Entah itu namanya pikun, atau tidak bertanggung jawab, deh….
Mungkin dia memang sudah lupa ya, mengenai pembicaraan bahwa aku tinggal bersama adikku.
Kantor game maker yang kami tuju berjarak kira-kira 5 menit berjalan kaki dari stasiun. Bangunannya seperti mansion, tapi lebih megah dan kira-kira berlantai 10. Ada resepsionisnya segala.
Sementara pak Ioka memberi tahu siapa kami dan apa tujuan kami datang kesini, aku berdiri dengan gelisah, seolah-olah berada di tempat yang salah.
Penyakit gugup di hadapan orang yang baru kutemui memang kumat, tapi yang paling membuatku tidak tenang adalah masalah penulisan novel ini. Apa benar mereka akan menyerahkannya padaku?
Aku sama sekali tidak punya contoh karya yang layak di pamerkan. Artikel atau yang sejenisnya memang mudah. Aku tinggal meng-copynya saja. Tapi novel?
Aku sempat berpikir untuk membawa novel yang kutulis saat masih sekolah. Tapi setelah kubaca-baca lagi, kelihatan sekali novel itu ditulis oleh orang yang sangat amatir. Kalau aku nekat membawanya juga, bisa-bisa malah jadi dianggap tidak kompeten.
Beberapa menit kemudian, seorang wanita muda turun ke lobby menemui kami. pak Ioka, yang sebelumnya sudah bertemu dengannya mengenalkan kami.
Namanya Tsukihara. Dia kelihatan sangat cantik dalam setelan yang dikenakannya. Dari tubuhnya tercium bau harum parfum yang tidak kukenal. Dia tersenyum ramah saat pak Ioka mengenalkanku.
Aku masih terbengong-bengong selama beberapa saat, kemudian buru-buru mengeluarkan kartu namaku dari saku dan memberikannya pada Tsukihara-san.
Kami bertukar kartu nama. Begitu melihat kartu namaku, Tsukihara-san kelihatan kaget. Dia menatap wajahku lekat-lekat.
“Kenapa? Jangan-jangan, dia ini tipe kesukaannya Tsukihara-san, ya?” pak Ioka menyeletuk dengan nada bercanda khasnya.
Tsukihara-san tersentak mendengarnya.
“Eh? Oh, maaf…” Tsukihara-san kembali tersenyum. “Mari, ikuti saya.” katanya.
Saat berada dalam lift, aku agak kepikiran mengenai sikap aneh Tsukihara-san saat berhadapan denganku tadi.
Jangan-jangan aku sudah memberi kesan buruk tanpa kusadari di awal pertemuan? Aduuh, aku ini benar-benar payah deh kalau sudah tegang!
Tsukihara-san mengajak kami ke semacam ruang rapat yang kosong. Aku dan pak Ioka duduk berdampingan. Tidak lama kemudian, dua orang pria masuk ke dalam ruangan.
Pak Ioka sepertinya juga baru kali ini bertemu mereka. Kami berdua sama-sama bangun dan memberikan kartu nama masing-masing.
Mereka adalah pak Kitaike sang produser game, dan pak Shibaguchi, yang menangani skenario. Keduanya berusia sekitar 30 tahunan.
Pak Kitaike bertubuh ramping, dan kelihatan sangat kalem. Cocok dengan gambaran seorang pengusaha muda. Mungkin pengaruh dari setelan jas yang dipakainya juga.
Sedangkan pak Shibaguchi justru sebaliknya. Dia pendek, gemuk, berpakaian seadanya. Matanya tak henti-hentinya melirik kami dari balik kacamata tebal yang dipakainya.
Saat mereka melihat kartu namaku, keduanya sama-sama terkejut. Pak Shibaguchi menatapku seolah tidak mempercayai matanya sendiri. Tapi pak Kitaike tidak demikian. Dia melihat pak Shibaguchi yang kelihatan tidak percaya itu, dan entah kenapa, aku merasa melihatnya tersenyum.
“Kaget, kan?” kata Tsukihara-san.
“Anu…Maaf, tapi, apa ini nama asli Anda? Atau nama pena?” tanya si penanggung jawab skenario itu.
“Nama asli…”
“Bagaimana cara bacanya?”
“Hinasaki Mafuyu” aku menyebutkan nama lengkapku.
Aku sudah terbiasa ditanyai begitu. Apa boleh buat. Namaku memang agak aneh dan sulit dibaca dengan benar tanpa bantuan furigana.
“Ini…Apa-apaan…” pak Shibaguchi menatap pak Kitaike dengan pandangan bertanya-tanya.
“Yah, kebetulan memang hebat.” jawab pak Kitaike tenang.
“Kebetulan….Bagaimana bisa…” pak Shibaguchi kembali menatap kartu namaku dengan bingung.
“Kenapa? Apa ada yang aneh dengan wajah Hinasaki-san?” pak Ioka, yang sepertinya mulai menyadari ada yang aneh bertanya.
“Maaf….Tapi, hal macam ini….” pak Shibaguchi kelihatan masih bingung. Tsukihara-san kemudian bertanya pada pak Ioka,
“Anda belum mendapatkan bahan-bahan yang berhubungan dengan game ini sama sekali, ya?”
“Ya. Saya hanya diberitahu ini game horor bernuansa klasik, judulnya ‘Zero’….”
“Kalau begitu, bacalah ini. Anda akan mengerti kenapa kami terkejut.” Tsukihara-san menyodorkan setumpuk dokumen.
Aku dan pak Ioka kembali duduk dan mulai menekuni dokumen itu.
Itu adalah keseluruhan konsep game Zero.
Pertama-tama aku membuka halaman penjelasan karakter. Mataku langsung tertumbuk pada tokoh utama game itu.
Seorang gadis berusia 17 tahun, pada kolom namanya tertulis ‘Hinasaki Miku’. Tidak salah lagi. Di atas kanji nama itu tertulis furigananya.
Nama adikku!
Yang mengejutkan bukan hanya itu saja. Di sana dicantumkan kalau Miku memiliki seorang kakak laki-laki bernama ‘Hinasaki Mafuyu’.
Namaku sendiri.
“Ini sungguhan?” tanya pak Ioka.
“Silakan lihat halaman selanjutnya. Ada foto para karakter di sana.” kata Tsukihara-san. Kami membalik halaman sesuai sarannya.
“Polygon, ya…..Lho?! Kok wajah kakak tokoh utamanya persis Hinasaki-san begini?!” pak Ioka langsung membandingkan foto itu dengan wajahku.
Karena gambar itu polygon, terasa agak aneh. Tapi wajah di foto itu memang persis wajahku. Seolah-olah aku-lah yang menjadi model 3Dnya. Tapi yang lebih mengejutkan lagi, wajah gadis karakter utama yang bernama Hinasaki Miku itu.
Persis sekali dengan Miku, adikku.
“Sekarang anda mengerti, bukan, kenapa kami semua begitu terkejut?” kata Tsukihara-san.
“Oh, saya tahu! Kalian pasti sudah sekutu, ya?” pak Ioka tertawa terbahak-bahak sambil menatapku dan ketiga orang itu bergantian.
“Mana mungkin kami melakukan itu? Bukankah yang mengusulkan Hinasaki-san sebagai novelis adalah Anda?” balas Tsukihara-san.
“Iya, ya…..Kalau begitu, kalian kebetulan pernah melihat dan mendengar tentang Hinasaki-san, kemudian menjadikannya model karakter game ini?”
“Tidak. Kalau memang begitu, pasti kami akan minta izin dahulu sebelumnya. Iya kan, pak Kitaike?” pak Shibaguchi angkat bicara. Pak Kitaike mengangguk yakin.
“Tentu saja!” katanya.
“Lho? Kalau begitu?….Ngg…..” pak Ioka menggaruk-garuk kepalanya. Dia kelihatan seperti orang yang sedang menghadapi tipuan rubah. Sementara dia memandangi tumpukan dokumen di hadapannya dengan bingung, aku mulai membaca profil karakter.
Hinasaki Miku
17 tahun.
Memiliki kekuatan spiritual yang kuat, yang merupakan kekuatan turun-temurun di keluarga Hinasaki, sehingga memungkinkannya melihat hal-hal yang seharusnya tidak terlihat. Ia hidup seperti gadis remaja biasa, tetapi di lubuk hatinya menyimpan perasaan takut dan tidak pernah membuka hati sepenuhnya, kecuali kepada kakaknya.
Hinasaki Mafuyu
21 tahun, Jurnalis.
Kakak kandung Miku. Satu-satunya orang yang tahu mengenai kekuatan Miku. Satu-satunya keluarga bagi Miku yang telah ditinggal mati oleh kedua orangtuanya.
Aku merasa merinding.
Ini benar-benar kondisi kami berdua.
Tapi, ada yang aneh.
Kami tidak pernah sekalipun membicarakan kekuatan kami pada orang lain. Dan, ya, tentu saja, kami menyembunyikan fakta bahwa keluarga Hinasaki adalah keluarga yang memiliki kekuatan spiritual yang kuat.
“Kebetulan yang luar biasa.” komentar pak Ioka. Pak Shibaguchi mengangguk dan melanjutkan,
“Memang aneh. Saya memang penulis ceritanya, tapi saya berani jamin bahwa semua karakter yang ada disini adalah murni ciptaan saya sendiri. Dan saya baru sekali ini bertemu dengan Hinasaki-san, jadi, maaf saja, baru kali ini juga mendengar namanya.”
Dia tidak terdengar seperti orang yang sedang bohong.
Aku sendiri juga menganggap, kalau hanya wajahku saja, mungkin dia pernah melihat aku atau fotoku entah di mana kemudian dijadikan model. Tapi, bagaimana dengan Miku?
Apa memang pernah terlihat juga, atau mungkin kebetulan memang ada orang yang mirip dengan dia kemudian dijadikan model?
Yang lebih penting lagi, kenapa rahasia kami berdua, kekuatan spiritual itu bisa ketahuan juga? Apa ini masih bisa disebut kebetulan?
Seolah meledekku, tiba-tiba aku kembali melihat hal yang mengejutkan di data karakter NPC (Non-Play Character) yang ada di bawah keterangan karakter utama.
Takamine Junsei.
42 tahun, pengarang novel misteri.
Seorang pengarang terkenal yang karya-karyanya mencapai best seller. Selain misteri, juga mengarang novel non-fiksi. Berkenalan dengan Mafuyu saat tengah mencari bahan untuk pembuatan novelnya, dan sejak saat itu sering membantu agar Mafuyu mendapat pekerjaan.
Hirasaka Tomoe
28 tahun. Asisten Takamine
Memilih untuk menjadi asisten Takamine, dan belajar menulis novel di bawah bimbingannya.
Takamine Sensei adalah orang terkenal yang sering muncul di televisi atau media cetak. Masuk akal kalau beliau juga jadi model untuk karakter game ini. Hirasaka-san juga, pasti pernah muncul di majalah paling tidak.
Tapi, kalau memang beliau dipakai juga untuk model, kenapa sampai hubungan kami juga digambarkan begitu persisnya?
Sekonyong-konyong aku mendapat mulai mendapat gambaran apa yang sedang terjadi.
“Ini ide dari Takamine Sensei, ya?”
“Eh? Maksud Anda?…” pak Shibaguchi tidak mengerti.
“Ide naskah cerita game ini. Ide awalnya dari Takamine-sensei, kan? Tugas ini diserahkan pada saya juga karena rekomendasi beliau, bukan?” aku bertanya pada pak Ioka.
Itu satu-satunya penjelasan paling masuk akal.
Karena aku pernah menyinggung kalau adikku punya kekuatan spiritual yang kuat pada Takamine Sensei.
Tidak salah lagi.
Hanya beliaulah orang luar yang tahu sampai sedetil ini tentang kami bersaudara,
Tapi, kalau memang begitu, aku harus protes keras untuk satu hal.
Aku sudah berkata, dan bahkan memohon pada beliau untuk merahasiakan tentang kami. Terutama tentang Miku yang kekuatannya jauh di atasku.
Dan sekarang, cerita itu hendak dijadikan ide cerita game…..
Aku merasa agak marah.
Walaupun beliau naik sekali padaku dan sering membantuku dalam mencarikan pekerjaan, ini sih namanya pelanggaran privasi orang lain.
Paling tidak, samarkanlah nama dan kondisi kehidupan sehari-hari kami.
Itukah sebabnya Sensei meminta pak Ioka untuk menawarkan pekerjaan ini kepadaku? Jadi, pertemuan kami di kereta tadi bukanlah kebetulan?
Beliau mengetahui waktu dan tempat pertemuanku, kemudian menunggu, ingin bertemu denganku?
“Bagaimanapun juga, menurut saya ini melanggar privasi orang lain.” ucapku sambil berusaha menahan amarah.
“Tunggu dulu!! Kami benar-benar tidak tahu apa-apa. Ini kebetulan!” ujar pak Shibaguchi cepat-cepat. Dia menatap pak Kitaike untuk minta dukungan.
“Tentu saja.” jawab pak Kitaike tenang.
Bagiku, sikapnya yang tenang itu malah menambah kekesalanku. “Kalian merencanakan ini dengan Takamine-sensei, bukan? Saya bertemu dengannya di kereta tadi.”
“Maaf, tapi siapa Takamine Sensei yang Anda maksud itu?” pak Kitaike bertanya padaku dengan wajah serius.
“Eh?..Siapa…” aku tak melanjutkan ucapanku.
Walaupun dia orang yang kerjanya berkecimpung di dunia game, mana mungkin dia tidak mengenal Takamine Junsei? Apalagi mereka juga memakai beliau dan Hirasaka-san di dalam game ini. Wajah polygon mereka juga sama persis dengan aslinya.
Aku menatap pak Ioka dengan kebingungan luar biasa. Tapi bukan dukungan yang kuperoleh, dia malah balik bertanya,
“Tokoh Takamine Junsei ini….ada model aslinya?”
“Pak Ioka!?”
Apa-apaan ini? Kalau hanya Takamine-sensei tak ada hubungannya dengan diberikannya pekerjaan ini padaku, masih mending. Tapi kalau melihat gelagat pak Ioka, sepertinya orang bernama Takamine Junsei itu tidak pernah eksis.
Aku bingung. Sangat bingung. Pak Ioka sepertinya melihat gelagat itu, sehingga dia langsung bertanya pada ketiga orang itu,
“Apakah Takamine Junsei ini menggunakan model orang yang benar-benar ada?” dia menatap Tsukihara-san, pak Kitaike dan pak Shibaguchi bergantian.
Mereka bertiga diam sejenak, kemudian pak Shibaguchi memecahkan keheningan yang mencekam itu,
“Itu sama sekali tidak mungkin. Saya sudah bilang, bukan? Semua tokoh yang ada disini murni ciptaan saya.”
“Ti…Tidak mungkin Anda sekalian tidak mengenal Takamine-sensei. Takamine Junsei, pengarang novel terkenal yang karyanya selalu menjadi best seller. Jika bukan begitu, bagaimana mungkin saya bisa…menjadi karakter di game hingga sedetil ini?”
“Saya juga kaget. Jika saya mengenal anda, tidak mungkin saya mentah-mentah meniru seperti ini. Pasti paling tidak akan saya ubah wajah dan latar belakang kehidupannya.” ujar pak Shibaguchi. Pak Kitaike kemudian menimpali,
“Itu benar. Kami sama sekali tidak mengetahui tentang anda sebelum ini. Selain itu, Takamine Junsei juga hanyalah tokoh fiktif belaka. Kami tidak menggunakan model apapun untuk itu.”
Entah kenapa, dia terlihat begitu tenang saat mengatakan itu. Berbeda dengan pak Shibaguchi, sepertinya dia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi ini. Apa orang-orang yang berprofesi sebagai produser game itu memang seperti ini, ya?
“Jadi, menurut Anda, ini semua hanyalah fiksi belaka,begitu?…”
Suaraku bergetar karena amarah, aku tahu itu. Apa boleh buat. Aku tak mampu bermanis-manis menahannya lagi.
“Hinasaki-san, tolong tenang dahulu. Saya yakin ini hanya kebetulan. Apalagi selain itu? Kalau kami tahu bahwa karakter di game ini ternyata sebegitu miripnya dengan Anda, kami pasti akan memberitahukannya dahulu sewaktu mengontak Anda untuk menawarkan pekerjaan ini.”
“Lalu, bagaimana dengan Takamine-sensei?”
“Makanya, Saya bahkan tidak tahu ada pengarang novel bernama Takamine.” pak Ioka berkata dengan serius.
Aneh!
Amarahku seperti tertelan oleh sesuatu yang kelam, dan berganti dengan perasaan was-was. Kalaupun ini semua cuma akal-akalan untuk mengerjaiku, untuk apa?
“Maaf…Apa ada komputer yang bisa akses ke internet?” tanyaku akhirnya.
“Apa yang hendak Anda lakukan?” pak Ioka kelihatan khawatir.
“Mencari data mengenai Takamine-sensei. Dengan begitu semua akan jelas.”
“Tapi….walaupun begitu juga…..” sebelum pak Ioka selesai berkata, pak Kitaike memotong,
“Tidak apa-apa, kan? Silakan.”
Tsukihara-san segera pergi dan mengambil sebuah mobile persocon. Setelah internet mulai terkoneksi, aku masuk ke websearch, mengetikkan [Takamine Junsei], kemudian menekan enter. Takamine-sensei orang terkenal, jadi pasti banyak website yang menyebut nama beliau.
Betapa kagetnya aku ketika hasilnya ternyata justru kebalikannya.
Layar malah menunjukkan tulisan;
Penelusuran Anda – Takamine Junsei – tak cocok dengan dokumen manapun.
Aku tidak mau menyerah dan mencoba memasukkan nama [Hirasaka Tomoe]. Karena namanya lebih umum, kali ini ada hasilnya. Tetapi, bukan mengenai Hirasaka-san yang kukenal. Aku mencoba sekali lagi, setelah memastikan dulu apa nama yang kuketik benar, tapi hasilnya tetap saja nihil.
Aku mencoba akses ke websearch lainnya, tapi tetap saja tidak ada hasil. Bahkan saat aku mencoba akses ke webstore pun, tidak ada satu pun karya Takamine Junsei disana.
“Tidak mungkin…..”
Aku mengecek daftar terbitan buku-buku, baik yang terbaru maupun yang lama. Karya-karya Takamine-sensei menghilang bagaikan ditelan bumi.
Ini seperti…..orang bernama Takamine Junsei tidak pernah eksis di dunia ini.
“Ini tidak mungkin….pak Ioka…Tidak mungkin Anda tidak mengenal Takamine-sensei. Beliau yang mengenalkan anda kepada saya, bukan?!” aku menatap pak Ioka dengan ekspresi nyaris putus asa. Tapi, pak Ioka tetap dengan ekspresinya semula, ekspresi tidak mengerti apa-apa.
Pandangan mataku rasanya jadi gelap.
“Saya bertemu beliau di kereta tadi. Hirasaka-san juga bersama beliau. Betul!”
Aku tidak bohong….Percayalah….
Aku menatap para game maker itu sambil terus berdoa seperti itu di dalam hati.
“Hinasaki-san, apa Anda punya alamat atau nomor telepon Takamine-sensei yang Anda maksud itu?” pak Kitaike bertanya dengan tenang.
Oh, ya! Itu bisa dicoba juga!
Aku mengambil HP dari dalam tas dan memeriksa phonebooknya. Aku mencatat nomor telepon tempat kerja dan kediaman Takamine-sensei disana. Sekalian dengan nomor telepon rumah Hirasaka-san juga.
Aku yakin telah mencatatnya, tapi, dicari bagaimanapun juga, nomor-nomor itu tidak ada sama sekali di HPku.
Aku kembali membongkar tasku dan mengambil buku alamat yang biasa kubawa-bawa. Tapi, hasilnya sama saja.
Semua tulisan di buku alamatku kutulis menggunakan pensil agar mudah dihapus jika ada yang ingin diubah. Tapi, alamat dan nomor telepon mereka berdua hilang begitu saja dari posisinya, tanpa ada bekas dihapus.
Seolah-olah memang tidak ada sejak awal.
“Hinasaki-san, bagaimana kalau Anda telepon adik Anda dan tanyakan pada dia?” pak Ioka mengusulkan.
Dengan terburu-buru aku kembali memeriksa HPku dan mencari nomor HP Miku. Tapi, nomor itu pun hilang.
Memikirkan kemungkinan nomor itu tak sengaja terhapus olehku sendiri, aku mengingat-ingat nomor Miku dan mencoba menghubunginya. Tapi, berapa kalipun kucoba, yang menerima malah suara komputer yang berkata, ‘Nomor yang Anda hubungi tidak tersambung.’
“Tidak mungkin…..Sampai Miku pun ikut menghilang juga?….”
Ini merupakan pukulan yang sangat keras bagiku.
Aku menyandarkan kepalaku di atas meja dengan lunglai.
Kepalaku rasanya mau pecah.
Aku tidak mengerti sama sekali. Kondisi ini seolah-olah membuatku jadi satu-satunya pihak yang salah paham di sini.
“Apa semua yang ada di game ‘Zero’ ini benar-benar fiksi belaka?” terdengar suara pak Ioka bertanya, entah pada siapa.
Tidak ada yang menjawab, dan keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruangan.
Kemudian, tiba-tiba;
“Sebetulnya…..” pak Shibaguchi membuka mulut. Aku langsung mengangkat kepala dan menatapnya.
“Tidak….Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, semua karakter di sana murni fiksi…”
“Lalu saya….”
Pak Shibaguchi mengangkat kedua tangannya menahan protesku. “Tu…tunggu dulu! Memang, dengan adanya Anda di hadapan kami seperti, mungkin sulit dipercaya. Tapi, sebenarnya, rumah yang jadi setting dalam game ini benar-benar ada. Coba Anda buka halaman 3.”
Aku buru-buru membalik halaman dokumen di hadapanku, dan menghadapi sinopsis cerita ‘Zero’.

Himuro Mansion
Tempat ini memiliki segudang legenda dan kabar angin yang tidak menyenangkan. Dikatakan sebagai tempat pembawa sial.
Kepala keluarga Himuro yang terakhir dikabarkan gila dan membunuh seluruh penghuni rumah ini.
Keluarga yang menempati rumah ini setelahnya mengalami ‘Kamikakushi’.
Setelahnya, sering ditemukan mayat terpotong-potong di sekitarnya selama beberapa tahun belakangan ini.
Diduga kasus ini erat kaitannya dengan rumah itu.
Takamine Junsei Sang novelis terkenal tertarik akan legenda ini dan memutuskan untuk menjadikannya bahan novel selanjutnya.
Dengan ditemani asistennya, Hirasaka Tomoe dan editornya, Ogata Kouji, Takamine mengujungi Himuro Mansion.
Tetapi sejak itu, kabar mereka tidak terdengar lagi.

“Tempat yang namanya Himuro Mansion ini benar-benar ada?” tanyaku pada Shibaguchi-san.
“Di tempat kelahiran saya ada tempat yang sangat mirip dengan rumah itu. Waktu saya masih kecil, saya dilarang mendekati tempat itu. Kami menjulukinya rumah hantu. Rumah itu sampai sekarang masih berdiri tegak, kata ibu Saya waktu saya tanyakan lewat telepon belum lama ini. Padahal sudah 20 tahun berlalu. Karena itu, Saya jadikan ide untuk game ini saja.”
“Tempat itu memang hebat. Bisa dibilang itu masterpiece Saya.” pak Kitaike berkata sambil tersenyum tipis.
Masterpiece?
Apa aku salah dengar yang barusan itu?
Aku ingin bertanya untuk memastikannya, tapi tidak menemukan kata-kata dan alasan yang tepat untuk bertanya, jadi memutuskan diam saja.
“Waktu Saya masih kecil, rumah itu dijaga oleh seorang nenek. Tapi dia sudah meninggal sepuluh tahun silam, jadi sekarang rumah itu kosong sama sekali. Jadi, waktu survey mencari datanya, saya menghubungi real estate sekitar situ. Tapi…”
“Ada sesuatu yang terjadi?”
“Yah….Bukan hal yang penting…Tapi….” Shibaguchi-san kelihatan enggan melanjutkan ucapannya. Tsukihara-san kemudian melanjutkan,
“Pada waktu Anda melakukan survey itulah Anda mencapat ilham karakter-karakter game ini. Iya, kan?”
“Ya.”
“Jadi, pada waktu berada di rumah itu anda mendadak terbayang dan menciptakan Miku, si karakter utama, Mafuyu, sang kakak yang bernama sama dengan Hinasaki-san, dan juga novelis bernama Takamine itu?” pak Ioka menyimpulkan.
Pak Shibaguchi mengangguk.
“Agak sulit dipercaya memang, tapi entah kenapa, saat berjalan di dalam rumah itu, mendadak saya mendapat ide, dan nama-nama para karakter utama itupun bermunculan di kepala Saya. Waktu itu saya buru-buru mencatatnya supaya tidak lupa. Iya, kan pak Kitaike?”
“Ya. Waktu itu saya, pak Shibaguchi dan seorang illustrator menjelajahi rumah itu menggunakan senter, karena walaupun masih siang, suasana di dalam sana gelap sekali. Pak Shibaguchi tiba-tiba berjongkok dan mulai mencatat sesuatu di notesnya. Waktu saya coba mengintip, ternyata dia menulis beberapa nama. Nama-nama itulah yang kemudian dipakai dalam game ini. Nama-nama itu agak tidak lazim, jadi Saya sama sekali tidak menyangka ada orang yang bernama sama….Selain itu….”
“Ada lagi yang lain?” tanya pak Ioka. Kali ini pak Shibaguchi yang menjawab,
“Saya mendapat ilham nama di sana. Tapi bukan hanya itu yang aneh. Ilustrator yang melihat nama yang saya tulis itu mendadak juga mendapat ide dan langsung membuat sketsa wajah para karakter itu. Sketsa itulah yang kemudian jadi dasar pembuatan polygonnya.”
“Dengan kata lain, nama dan wajah karakter Hinasaki Mafuyu yang persis dengan Hinasaki-san diciptakan pada waktu yang bersamaan, di tempat yang jadi setting game ini, begitu?”
Mendengar pertanyaan pak Ioka itu, pak Shibaguchi dan pak Kitaike saling berpandangan dan menggelengkan kepala. Sepertinya mereka sudah kehabisan kata-kata.
“Sepertinya kita memang harus pergi kesana sendiri, ya…” pak Ioka bergumam dengan suara rendah.
“Pergi…Kemana?” tanya Tsukihara-san.
“Tentu saja ke rumah bermasalah itu. Habis, aneh sekali, kan? Begitu ke rumah itu, tiba-tiba saja pak Shibaguchi dan illustrator mendapat ide, yang bisa sebegitu persisnya dengan kondisi orang sesungguhnya. Menurut saya, ini sudah tidak bisa dibilang kebetulan.”
“Eng…Saya tidak bermaksud memanas-manasi, lho. Itu kenyataan….” pak Kitaike berkata.
“Tidak…Maaf. Soalnya terlalu banyak hal aneh disini. Begini, menurut saya, semua misteri ini mungkin bisa terjawab jika kita pergi kesana. Iya, kan Hinasaki-san?” pak Ioka menatapku. Aku tidak menjawab, tapi mengangguk dengan ragu-ragu.
Rumah itu memang agak mengganjal di pikiranku.
Tapi ini bukan karena semangat pekerjaan.
Takamine-sensei, Hirasaka-san, bahkan adikku, Miku, semua menghilang begitu saja, seolah-oleh mereka hanyalah khayalan belaka.
Aku merasa ditinggalkan seorang diri di dunia nyata, sementara mereka masuk ke dunia game yang berjudul ‘Zero’.
Aku ingin segera pulang dan melihat wajah Miku. Aku juga ingin memastikan keberadaan Takamine-sensei dan Hirasaka-san. Kepalaku sepertinya tidak sanggup untuk memikirkan hal lain selama belum memeriksa dan memastikan kedua hal itu.
“Maaf, Saya agak kurang enak badan. Saya boleh pamit duluan?” bisikku pada pak Ioka. Pak Ioka, yang sepertinya sudah tahu perasaanku memandangiku dengan khawatir.
“Baik, saya mengerti. Pokoknya, Anda bawa saja dulu dokumen-dokumen ini dan pelajari di rumah.”
“Ah, kalau begitu, sekalian saja anda bawa pulang beta version ini. Ini sudah nyaris mendekati versi sempurnanya.” Tsukihara-san memberikan sebuah DVD padaku.
Aku menerima dokumen-dokumen dan DVD itu kemudian bergegas keluar dari kantor game maker itu seperti sedang dikejar-kejar sesuatu. Pak Ioka ikut pulang denganku.
Begitu tiba di Ichigaya, aku segera meninggalkan pak Ioka dan menuruni tangga ke stasiun.
“Besok saya akan melepon lagi. Pikirkan mengenai rencana ke rumah bermasalah itu, ya!!” samar-samar aku mendengar pak Ioka berkata begitu di belakangku.
***
Aku pulang dengan jantung berdetak tak karuan.
Begitu tiba di depan rumah, aku menarik nafas panjang.
Tapi disana, aku langsung menyadari adanya keanehan.
Di depan pintu seharusnya tergantung papan nama keluarga yang ditulis Miku dengan pena, bertuliskan nama kami berdua, ‘Hinasaki Mafuyu-Miku’
Tapi, yang kuhadapi adalah papan nama dengan tulisan tanganku, bertuliskan ‘Hinasaki’ saja.
Dadaku terasa sesak. Aku rasanya mau pingsan. Dengan langkah sempoyongan aku memasuki kamar apartemenku.
Kamar yang biasanya bersih dan senantiasa dirapikan oleh Miku, sekarang penuh sampah dan sisa-sisa makanan. Khas kamar yang ditinggali seorang bujangan.
Tidak ada tanda-tanda Miku pernah tinggal disini.
Mug cup kesayangan Miku, sikat gigi, pakaian, meja belajar…Semuanya menghilang.
Tidak…lebih tepat dikatakan, seolah-olah sejak awal memang tidak ada. Hanya barang-barangku yang ada di kamar ini.
Aku harus membicarakan ini pada seseorang.
Tapi aku langsung menyadari itu percuma, karena aku tidak punya orang yang bisa diajak bicara dengan tenang. Apalagi untuk urusan seperti ini.
Kami bersaudara selalu berusaha menjaga jarak dengan orang lain. Sifat kami yang agak tertutup itu memang sama, tapi ada hal lain yang menyebabkan kami bersikap begitu.
Kekuatan kami.
Kami tidak ingin kekuatan spiritual kami menimbulkan salah paham dan masalah.
Aku memang memilikinya, tapi Miku sepertinya mewarisi kekuatan itu lebih banyak dan lebih kuat daripada diriku.
Kekuatan ini adalah ‘warisan’ dari ibu kami yang telah meninggal dunia.
Meninggal dunia…..
Tidak…..
Dia bunuh diri…..
Ibu lelah dengan kekuatan yang dimilikinya. Penderitaannya bertambah setelah mengetahui aku dan Miku juga mewarisi kekuatan itu. Dia memilih menghabisi dirinya sendiri dalam keadaan agak kurang waras.
Aku tidak pernah membencinya karena telah meninggalkan kami begitu saja.
Aku merasa, apa boleh buat. Mungkin ini yang terbaik baginya. Bahwa Ibu bisa bertahan sampai sebegitu lamanya saja sudah merupakan keajaiban tersendiri.
Aku tidak pernah memastikannya, tapi kurasa Miku pun berpikir demikian.
Apalagi kami sadar betul, alasan terbesar ibu bunuh diri adalah keberadaan kami berdua.
Tentu saja kami tidak pernah membicarakannya pada orang lain.
Bagi anak-anak seumuran Miku, memiliki kekuatan spiritual yang tinggi mungkin bisa dibilang merupakan suatu impian. Tapi itu karena mereka tidak tahu beban yang harus ditanggung karena memiliki kekuatan semacam itu.
Mereka tidak tahu bagaimana menakutkan dan menyesakkannya melihat atau merasakan sesuatu yang sama sekali tidak bisa dilihat oleh orang biasa.
Yang lebih menyakitkan, tidak ada yang mampu memahami atau bahkan membayangkan bagaimana perasaan orang yang memiliki kekuatan seperti itu.
Padangan sinis orang-orang, tatapan yang seolah mengatakan kami bukanlah manusia, lalu akhirnya tidak sudi lagi melihat kami……seperti itulah dunia yang harus kami hadapi.
Untungnya, aku dan Miku tidak sampai ke tahap separah itu.
Aku mengetahui ini semua dari ibu, yang tak pernah berhenti menceritakan hal-hal semacam itu.
Ya….
Semua yang dialaminya semasa muda……
Hingga saat ini, aku masih bisa mengingat dengan jelas wajah Miku, yang berurai air mata setiap kali mendengar cerita ibu.
Mungkin karena itulah, pada waktu ibu meninggal dunia, kami berdua merasa lega dibalik kesedihan kami.
Karena dengan begini, ibu akhirnya bisa beristirahat dalam kedamaian….
Itu jugalah latar belakang kebiasaan kami berdua yang senantiasa menjaga jarak dengan orang lain.
Dan juga alasan Miku mempercayaiku lebih dari siapapun….
Tapi apa yang kulakukan?
Aku malah menghindarinya.
Aku takut.
Miku merana karena kekuatannya. Sedangkan aku….aku merana karena tidak tahu apa yang bisa kulakukan untuknya…..
Dia membutuhkanku, tapi aku tidak mampu membantunya, dan akhirnya malah menjaga jarak dengannya….Padahal…..dia pasti juga menderita dan kesepian seperti diriku….
Mendadak kejadian tadi siang terlintas di benakku.
Miku melarangku pergi ke tempat pertemuan.
Dia pasti telah merasakan bahwa akan terjadi peristiwa seperti ini.
Kalau saja waktu itu aku menuruti kata-katanya…….hal ini tidak perlu terjadi….
Tapi aku langsung menepis pikiran itu.
Walaupun aku tidak pergi, entah kenapa, aku merasa, suatu saat pasti akan ada kejadian macam ini.
Karena walaupun aku tidak pergi, game berjudul ‘Zero’ dimana ada tokoh yang persis sama dengan aku dan Miku tetap ada. Dan tetap akan diluncurkan ke publik tanpa sepengetahuan kami.
Dan cepat atau lambat, berita itu pasti akan sampai ke telinga kami, membuat kami terlibat di dalamnya. Itu pasti.
Apalagi, yang muncul di game itu bukan cuma kami berdua. Ada juga Takamine-ensei dan Hirasaka-san.
Takamine-sensei?
Begitu teringat nama beliau, aku langsung memeriksa rak bukuku. Aku yakin betul di sana ada beberapa buah buku karangan beliau.
Tapi, saat aku melihatnya, di tempat yang harusnya ada buku-buku itu, ada buku karangan pengarang lain. Tentu saja, buku-buku itu memang milikku juga, tapi letak mereka berbeda dengan yang selama ini kutahu.
Walaupun tahu sia-sia saja, aku membongkar rak buku itu dan mencari-cari novel karangan Takamine-sensei.
Ini semua tidak masuk akal.
Maksudku, apa mungkin seorang pengarang novel best seller menghilang begitu saja tanpa jejak sama sekali?
Tapi, pikiran itu tidak bertahan lama.
Kekuatan spiritualku yang bereaksi ini adalah buktinya. Aku tertawa pahit dan mulai mengembalikan buku-buku yang kuacak-acak ke tempatnya semula. Saat akan memasukkan buku terakhir, aku menyadari buku itu adalah daftar nama dan alamat para pengarang terkenal yang diterbitkan oleh asosiasi pengarang.
Orang awam sepertiku sebenarnya tidak boleh memiliki ini sembarangan, tetapi berkat Takamine-sensei, yang meminta secara diam-diam pada orang asosiasi, aku memperolehnya pada salah satu pesta yang diadakan beliau.
Aku membolak-balik buku itu, dan dengan kecewa menyadari bahwa nama Takamine Junsei, yang seharusnya tertera di sana sebagai salah satu novelis terkenal, hilang begitu saja. Sama seperti yang terjadi di buku alamatku. Hilang, seolah-olah tidak pernah tercantum disana.
Aku terduduk dengan lemas.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Kehilangan semua harapan, aku mulai diserang perasaan kesepian yang amat sangat.
Hingga saat ini, aku memiliki Miku di sisiku.
Aku tahu dia kesepian, tapi, bukannya menemani dan menyembuhkan kesedihannya, aku malah menganggap dirinya sebagai tempat pelarian, dengan berpikir, ‘Untunglah aku tidak seperti dia.’
Air mataku mulai menetes memikirkan hal itu.
Untuk pertama kalinya, aku mulai bisa merasakan kesepian yang selama ini dialami Miku.
Dia menderita akibat kekuatan itu. Satu-satunya orang yang mengerti itu hanya aku, tapi aku malah menghindarinya.
Betapa kesepiannya dia selama ini….
Betapa merananya dia seorang diri menahan segala penderitaannya…
Dadaku sesak memikirkan bagaimana perasaan Miku selama ini.
Untuk pertama kalinya aku mengerti apa yang dia rasakan….pada saat dia menghilang dari hadapanku…..
“Tidak! Miku tidak mungkin hilang begitu saja!” teriakku tiba-tiba.
Miku tidak menghilang! Aku pasti akan menemukannya dan membawanya kembali.
Kalau aku terus-terusan begini, membiarkan Miku begitu saja dan tidak melakukan apa-apa sama sekali, aku pasti akan menyesal seumur hidup.
Aku pasti akan menyelamatkannya!
Hanya aku, kakaknya-lah yang bisa melakukan itu.
Aku menggeretakkan gigiku dan mulai berpikir keras mencari cara untuk menyelamatkannya.
Sebuah ide langsung terlintas di kepalaku.
Game ‘Zero’ itu.
Game itu adalah sebab musabab semua masalah aneh bin ajaib ini.
Aku berdiri dan buru-buru mengambil tas yang tadi kulempar begitu saja di depan pintu, kemudian mengeluarkan DVD game itu.
Aku menghidupkan TV 14 inchi milikku, kemudian mengaktifkan Playstation 2 yang sudah tersambung dengan TV.
Dengan berdebar-debar, aku memulai permainanku.
***
Begitu game itu dimulai, aku langsung merasa bulu kudukku berdiri.
Sosok polygon yang ada di layar itu benar-benar diriku.
Aku berdiri di hadapan sebuah rumah besar bergaya jepang kuno. Himuro Mansion.
Kenalan, dan sekaligus juga orang yang bisa disebut penolongku, Takamine Junsei dan rombongannya dikabarkan hilang saat menyelidiki rumah ini.
Aku tahu ini aneh, tapi, karena hubungan kami digambarkan sebegitu miripnya dengan dunia nyata, aku bahkan berpikir, kalau ini memang benar, aku juga pasti akan mencari Takamine-sensei.
Aku mulai menjelajahi bagian dalam rumah. Sepertinya rumah ini memang tidak dihuni untuk waktu yang lama.
Saat itu, tiba-tiba aku melihat sesosok orang melintas di dalam kegelapan koridor di hadapanku.
Takamine-sensei!!
Sensei!, aku memanggilnya. Tetapi, sepertinya beliau tidak mendengar dan menghilang di gang.
Aku langsung mengejar beliau. Suara langkahku menyebabkan lantai kayu tua itu berderit menyeramkan.
Aku mati-matian mengejar beliau. Melintasi ruangan dengan perapian di dalamnya, kemudian menaiki tangga. Di bordes pertama yang kukunjungi, aku menemukan sebuah notes tergeletak di lantai.
Secara iseng, tanpa maksud tertentu, aku memungut notes itu.
Begitu menyentuhnya, mendadak layar berubah menjadi monochrome, dan di benakku terlintas bayangan bagaikan film yang tengah diputar;
Itu adalah kejadian saat Takamine-sensei dan rombongannya berada di rumah ini. Sepertinya ‘ingatan’ akan kejadian itu ‘terekam’ di notes ini, dan mengalir ke dalam diriku saat aku menyentuhnya.
Saat itu, aku melihat wajah editor yang ikut bersama Takamine Sensei ke rumah ini. Aku menelan ludah begitu melihat wajahnya. Figur yang kurus, serta rambut yang dicat coklat itu…itu adalah pak Ioka!
Aku membuka dokumen yang kuperolah di kantor game maker tadi dan memastikan nama pria itu.
Menurut dokumen ini, dia bernama ‘Ogata Kouji’. Tapi, aku yakin betul itu adalah pak Ioka.
Ternyata game ‘Zero’ ini memang merupakan kunci semua masalah ini. Insting, atau kekuatan indra keenamku, yang mana saja boleh…..mengatakan demikian padaku.
Tapi aku tak sempat kaget lebih lama lagi, karena tiba-tiba saja flashback itu hilang, dan di hadapanku, muncul roh yang bersiap menyerangku!
Aku di dalam game itu hanya memiliki kamera, yang disebut juga Camera Obscura sebagai senjata (apa ini bisa disebut senjata juga ya?).
Camera Obscura ini dikatakan mampu menyegel roh jahat ke dalam foto jika kita menggunakannya untuk memotret mereka.
Kalau sukses sih bagus. Kalau gagal, langsung game over di tempat. Dan bagiku yang pada dasarnya bukan seorang gamer, melawan satu roh itu saja sudah susah-payah. Ditambah lagi, aku menganggap ini bukanlah sekedar duel dengan roh di dalam game saja.
Yang ada di hadapanku adalah ‘aku’ sendiri, dan aku harus berjuang sekuat tenaga agar tidak mati konyol.
Aku membidik lewat finder dan memotret habis-habisan. Lengah sedikit saja, dan roh itu akan menyerangku. Jantungku berdetak semakin kencang saat vibration joystick di tanganku aktif dan bergetar setiap kali aku kena serang.
Akhirnya aku mencoba menjaga jarak dengan roh itu, dan kembali menekan shutternya.
Berhasil!
Roh itu terlihat kesakitan, kemudian, ia membuka mulutnya yang robek hingga ke pipi, dan melolong keras sebelum akhirnya tersegel ke dalam kamera.
Aku menarik nafas lega.
Tapi sepertinya terlalu cepat.
Controllerku mendadak tak berfungsi. Perasaan was-was langsung menyergapku. ‘Aku’ di dalam game berbalik perlahan, dan berhadapan dengan sebuah cermin tua besar yang tergantung di dinding.
Sesosok bayangan keluar dari cermin itu dan menyerangku….
Aku merasakan tubuhku sudah banjir keringat. Begitu juga dengan tanganku yang menggenggam joystick erat-erat.
Tapi kejutan belum berakhir.
Miku!
Stage pertama yang bertajuk ‘1st Night: Strangling Ritual’ telah dimulai.
Sosok di hadapanku itu memang polygon, tetapi tidak salah lagi, itu adalah adikku, Miku.
“Dua minggu berlalu setelah kontak dari Kakak terputus. Dengan mengandalkan catatan yang ditinggalkannya, aku menuju rumah ini…..Entah kenapa…aku merasa ada yang memanggilku kemari….Kakak….”
Suara monolog yang sayup-sayup terdengar dari dalam game itu pun memang suara Miku.
Demi mencari aku, Miku pergi ke rumah di tengah gunung itu.
Dia mengkhawatirkan keadaanku, dan menahan ketakutannya….mendatangi rumah itu….demi aku…..
Aku tak bisa lagi menghadapi semua ini dengan kepala dingin sekalipun ini hanya game.
Ini bukan game biasa!
Ini seperti….konsep Camera Obscura yang mampu menyegel roh ke dalam kamera. Hanya saja, yang disegel oleh game ‘Zero’ ini adalah adikku sendiri.
“Miku!! Kamu dengar?! Mikuuuu!!!!” teriakku memanggil Miku.
Aku tahu ini gila. Tapi, bagiku, Miku di hadapanku bukanlah sekedar polygon belaka, tetapi benar-benar adikku, Miku.
Gerakan Miku di layar tiba-tiba berhenti. Kemudian, tanpa digerakkan oleh controller, ia berpaling menatapku dari balik layar kaca.
“Kakak…” ucapnya pelan.
“Miku!! Kamu benar Miku, kan!?”
Miku mengangguk alih-alih menjawab pertanyaanku. Air mata mulai menetes di pipinya. Kemudian, dengan suara agak serak dia mulai berkata,
“Setelah kakak berangkat…aku tak bisa menahan perasaan khawatirku dan menyusul kakak. Aku sempat melihat kakak di stasiun, tapi kakak keburu masuk kereta. Kemudian….aku dibimbing kemari oleh kekuatan yang tidak terlihat…”
Rupanya yang kurasakan waktu itu.
Perasaan aneh yang menyergapku saat memasuki stasiun kereta. Ternyata waktu itu memang telah terjadi sesuatu.
Mungkin itu adalah pergolakan ruang waktu.
Aku teringat, waktu kecil, saat pergi bersama-sama ibu, beliau pernah menghindari sebuah jalan yang tidak ada apa-apanya dan memilih jalan memutar.
Tapi, kalau kuingat-ingat lagi, di tempat yang sepintas terlihat tidak ada apa-apanya itu aku merasakan perasaan aneh.
Hanya sekelebat, tetapi sepertinya aku melihat ada sosok samar, bau yang tidak enak, serta bayangan ganjil.
Waktu aku mengatakan hal itu pada ibu, dia hanya menatapku dengan sedih, kemudian berkata,
‘Jangan katakan ini pada orang lain. Kalau suatu saat kamu merasakan hal seperti itu lagi, cepatlah menghindar dari tempat itu. Kalau tidak, orang-orang yang punya kekuatan spiritual seperti kita akan mudah sekali kesambet, atau tertangkap. Kamu mengerti? Janji, ya.’
Setelah diingat-diingat, perasaan aneh yang kurasakan di stasiun tadi adalah perasaan yang sama dengan yang kurasakan saat masih kecil dulu. Ibu menyebutnya pergolakan ruang waktu.
Hal yang luput dari ingatanku itu telah menangkap dan mengurung adikku entah dimana…..karena kelalaianku, Miku…..
“Kakak….tolong….keluarkan aku dari sini….” kata Miku.
Wajahnya yang memandangiku dengan padangan memelas dan penuh air mata itu bukan lagi polygon, tapi sudah berubah menjadi Miku yang sesungguhnya!
Dan dia meminta pertolonganku…….
Wajahnya seperti seorang anak kecil yang ketakutan, tetapi berusaha keras menahannya dan meminta pertolongan pada satu-satunya darah dagingnya…….aku……
Aku mengulurkan tanganku perlahan.
Tapi, saat aku nyaris menyentuh pipinya, yang kusentuh malah layar TV 14 inchiku.
Detik berikutnya, TV itu mati.
Waktu kutarik kembali tanganku, TV itu menyala kembali seperti semula.
Tapi sosok Miku yang tadi sudah tak ada disana.
Sebagai gantinya tampak sosok gadis polygon yang membawa senter tengah berjalan menuju rumah di hadapannya. Aku melihat tanganku masih menekan tombol keypad di joystick.
Begitu aku melepas jariku, gerakan gadis di layar itu pun berhenti.
Aku me-reset Playstation dan terus berusaha me-replay adegan dimana Miku tadi ‘muncul’. Tapi, berapa kalipun kucoba, hasilnya selalu sama. Adegan itu tidak pernah muncul lagi.
Aku beranjak ke meja kerjaku. Di sana ada komputer yang bisa akses ke internet. Aku duduk dan mengetik mail singkat untuk pak Ioka.
‘Saya ingin survey data ke tempat yang menjadi setting game ‘Zero’. Saya tunggu kabar dari Anda secepatnya.’

零-zero-
Chapter 2

Keluarga Himuro yang selama berabad-abad dipercaya sebagai keturunan dewa setempat konon telah melakukan berbagai upacara berdarah yang menelan banyak korban.
Tetapi, nyaris tidak ditemukan catatan atau dokumen resmi mengenai kegiatan mereka. Hanya kabar angin yang disampaikan dari mulut ke mulut.
Hal ini dipersulit dengan tutup mulutnya orang-orang yang punya hubungan dengan keluarga ini, maupun orang-orang yang terlibat dalam upacara itu.
Banyak hal yang tidak diketahui bersangkutan dengan upacara disana, terutama upacara yang dilakukan setiap tanggal 23 Desember. Penduduk desa sekitar konon tidak boleh keluar dari rumah pada hari itu. Jendela-jendela juga harus ditutup.
Konon semua kepercayaan itu ada hubungannya dengan upacara kejam yang dilaksanakan di Himuro mansion, tapi tidak ada catatan yang bisa menerangkannya dengan jelas.

Ditilik dari catatan yang tersisa, keterangan yang paling banyak kulihat adalah yang berhubungan dengan [Nawa no Miko].
Konon orang yang terpilih hidup dengan tali yang melilit tangan, kaki dan leher. Tetapi, apa gunanya dan perannya dalam upacara keluarga ini, tidak diketahui.
Salah satu sumber mengatakan kalau mereka ini adalah tumbal upacara, tapi rasanya sulit dipercaya ada yang tega melakukan upacara menggunakan tumbal semacam ini.

Dahulu, konon ada suatu bencana yang menimpa daerah ini. Oleh orang-orang, bencana itu disebut The Calamity. Sayangnya, tidak ada catatan yang menggambarkan seperti apa bencana itu.
Salah satu dokumen yang ketemukan mengatakan, ‘Saat cermin yang ada di kelima kuil pecah, para orang mati akan bangkit kembali’. Apakah memang ada bencana separah itu?….

***

Kami menempuh dua jam perjalanan dengan kereta Shinkansen menuju Tohoku lewat stasiun Ueno. Berikutnya, kami ganti naik kereta biasa dan turun di sebuah stasiun bernama ‘Sungai M’ setelah satu jam. Setelah itu digoncang-goncang selama satu jam di dalam bus, dan akhirnya kami tiba di desa tujuan kami.
Desa dengan rumah yang menjadi ide Himuro Mansion.
Kami datang bertiga; Aku, pak Ioka, dan pak Shibaguchi. Selama perjalanan, aku telah menghabiskan waktu dengan bertanya macam-macam pada pak Shibaguchi. Dia menceritakan beberapa kejadian aneh selama proses pembuatan naskah Zero.
“Saya sebenarnya tidak percaya hantu, tapi selama masa penulisan, saya mengalami kejadian-kejadian aneh. Tengah malam, saat saya sedang menulis skenario, tiba-tiba AC mati sendiri. Padahal masih baru, jadi aneh kalau rusak. Waktu keesokan harinya saya panggil tukang servis, AC itu berfungsi dengan baik. Yah, itu mungkin bisa dibilang kebetulan. Tapi besoknya, pak Kitaike bercerita kalau AC di rumahnya juga mengalami kejadian serupa. Mati mendadak, tapi tidak apa-apa waktu diperiksa ahlinya.”
Pak Shibaguchi kemudian melanjutkan,
“Lalu ada juga kejadian begini. Waktu itu saya sedang menginap di kantor untuk menyelesaikan bagian akhir skenario. Tiba-tiba, dari pintu ruang sebelah yang terbuka, muncul wajah yang mengintip, tapi langsung menghilang begitu saya mengangkat kepala untuk memperhatikannya lebih jelas. Penglihatan saya tidak begitu bagus, jadi saya pikir itu cuma salah seorang staff yang sedang iseng saja. Tapi, setelah satu jam, kejadian itu terus terulang. Akhirnya saya mengintip kamar sebelah. Ternyata tidak ada siapa-siapa disana.”
“Apa tidak dilakukan pengusiran setan atau yang sejenisnya?” tanya Pak Ioka.
“Yah, seperti yang saya bilang tadi; Saya tidak percaya pada hantu dan yang sejenisnya. Pak Kitaike juga mengatakan itu tidak perlu.”
“Apakah setelah itu kejadian aneh masih terus berlanjut?”
“Ya. Ada suara jeritan di dalam game yang tidak pernah kami rekam sebelumnya, lalu munculnya jejak kaki di beberapa tempat dalam game, yang sebetulnya belum diprogram.”
“Ini sih kutukan!! Iya kan, Hinasaki-san?” Pak Ioka memegangi kedua lengannya sendiri. Sepertinya dia merinding.
Aku sebisa mungkin ingin menghindari topik semacam ini, jadi aku langsung berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Apakah rumah yang akan kita kunjungi ini sebegitu miripnya dengan Himuro Mansion?” tanyaku.
“Struktur bangunan dan atmosfirnya sama, tetapi detil-detil kamar dan beberapa bagian lainnya adalah ciptaan kami.”
“Kalau begitu, bagaimana dengan isinya? Itu lho, keluarga Himuro yang secara turun-temurun menjadi penjaga gerbang Yomi, atau Strangling Ritual, atau upacara yang gagal dan pembunuhan yang dilakukan oleh Nawa no Miko itu, apa itu betul-betul ada?” Pak Ioka ganti bertanya.
Wajah pak Shibaguchi terlihat agak bingung mendengar pertanyaan pak Ioka, tetapi dia langsung menyembunyikannya sambil tertawa dan menjawab,
“Tentu saja buatan.”
“Syukur, deh. Seram kan kalau benar-benar ada yang seperti itu.” Pak Ioka tertawa. Tapi aku jadi penasaran dengan ekspresi bingung yang tadi ditunjukkan pak Shibaguchi.
Sialnya, tidak ada kesempatan bagiku untuk menanyakan penyebabnya. Tapi, kalaupun ada juga, aku harus tanya seperti apa? Akhirnya aku cuma bisa diam dan pura-pura tidak tahu apa-apa.
Sisa perjalanan kami dihabiskan dengan mendengarkan cerita pak Shibaguchi mengenai kehidupan keluarganya yang…yah, sebut saja makmur sejak zaman Edo.
Kalau ceritanya itu memang benar…..
***
Saat kami tiba di desa, hari sudah sore.
“Sudah sore, nih. Kalau begitu, kita cari penginapan dan besok kita mulai penyelidikan pagi-pagi saja bagaimana?” Pak Ioka mengusulkan. Tapi aku langsung menolaknya.
Bukan karena aku madatan ingin melihat rumah itu, tapi aku ingin secepatnya mencari Miku. Bayangan Miku tak pernah lepas dari benakku selama perjalanan tadi.
Masalahnya, selama memikirkannya, terkadang bayanganku jadi agak over, dan membayangkan foto adikku di altar persembahan dengan bingkai hitam. Aku menggelengkan kepalaku setiap kali pikiranku mulai melenceng ke arah sana, sehingga pak Ioka menyangka aku ngelindur dan berkali-kali menertawakanku.
“Wah, itu sih maksa namanya, Hinasaki-san. Rumah itu ada di tengah gunung. Jauh dari desa ini. Lagipula, itu kan rumah kosong. Mana boleh kita seenaknya saja ke sana. Selain itu, masak kita mau bermalam disana?”
“Saya tahu ini memaksa. Tapi saya ingin secepatnya kesana.” ujarku setengah memaksa. Pak Ioka kelihatan bingung. Dia menatap pak Shibaguchi untuk minta dukungan. Tapi Pak Shibaguchi malah berkata,
“Saya rasa tidak apa-apa, kok. Waktu saya kemari untuk survey, penjaga rumah itu sudah memberikan izin untuk mengunjungi rumah itu kapan saja, dan tidak usah lapor dahulu pada dia. Saya juga pernah bermalam disana, kok.”
“Ya ampun….Serius, nih?” Pak Ioka pasang tampang seperti hampir menangis. Padahal tempo hari dia yang paling gagah mengusulkan ke tempat ini. Aku jadi agak tidak enak juga padanya. Sudah kecapekan setelah menempuh perjalanan sepanjang itu, menginapnya di rumah kosong yang dijadikan model untuk setting game horror pula.
Aku sendiri sebenarnya juga bukannya sok berjiwa muda dan tidak takut. Tapi aku ingin secepatnya menolong Miku, dan jujur saja, aku tak ingin menundanya sama sekali.
Akhirnya, setelah aku memaksa sedikit lagi, mereka berdua setuju untuk langsung ke rumah itu. Kami mampir sebentar di rumah keluarga pak Shibaguchi untuk mengambil perlengkapan serta perbekalan, kemudian berangkat menuju rumah itu.
Kami menyusuri pematang sawah menuju gunung. Semakin lama, cahaya dari desa tidak lagi tampak. Kami hanya diterangi oleh cahaya matahari senja yang merah saat menelusuri jalan gunung yang semakin menyempit.
Sinar matahari itu begitu terang, merah…bagaikan darah yang mengalir dari tubuh yang terpotong-potong, mewarnai langit di atas kami….
Tentu saja aku tidak mengutarakan isi kepalaku itu kepada pak Shibaguchi dan pak Ioka. Tanpa aku menambah tegang suasana pun wajah mereka berdua sudah terlihat tegang.
Sepertinya, mereka bukan hanya kelelahan. Seperti aku juga, mereka mulai merasakan sesuatu….
Matahari sudah tenggelam saat kami mencapai rumah itu.
Kami membawa senter, tetapi karena malam itu ada bulan, kami tak perlu terlalu khawatir tentang cahaya.
Saat berdiri di hadapan satu-satunya bangunan di tengah gunung itu, aku merasa ada sesuatu yang dingin merayap naik dari dasar tanah tempatku berpijak.
Malam ini sangat sunyi, dan angin pun tidak bertiup. Tapi seluruh rumah itu seolah memancarkan gelombang panas yang menggelora.
Itu, tak diragukan lagi, adalah kekuatan roh yang luar biasa banyak dan kuat sekali.
Kekuatan roh yang memancar dari rumah itu bagaikan badai yang menghantam permukaan laut.
Mereka seolah-olah murka karena kedatangan kami…
“Ada apa?” Pak Ioka menanyaiku. Dia sepertinya tidak merasakan apa-apa. Yah, dia kan tidak punya kekuatan roh….
“Tidak ada apa-apa.” jawabku setenang mungkin. Di dalam benakku, kata-kata Ibu kembali terngiang.
Di dunia ini ada tempat yang harus dihindari, tempat dimana kita tidak akan bisa kembali jika sampai menginjaknya.
Rumah ini adalah contoh terbaik untuk tempat yang didefinisikan beliau.
Tapi kali ini aku tak bisa kabur pulang.
Karena di sini ada petunjuk mengenai Miku, adikku yang saat ini eksistensinya seolah tidak pernah ada di dunia ini.
Petunjuk…kata-kata itu mungkin tidak tepat juga, karena aku berpendapat, rumah ini sendirilah yang telah menangkap adikku.
Sampai saat ini aku memang tidak punya keyakinan seperti itu, tapi, sekarang, setelah menghadapi rumah ini, aku yakin, memang itulah yang terjadi.
Semua kejadian ini bukan hanya sekedar kebetulan belaka.
Roh jahat yang bersemayam di rumah inilah penyebab semua masalah yang kualami.
Aku menatap tajam ke arah Pak Shibaguchi.
Aku nyaris berkata, ‘Kenapa anda bisa-bisanya memilih tempat penuh roh jahat seperti ini sebagai model…’, tetapi Pak Shibaguchi sudah berjalan menuju rumah itu.
Sosok belakangnya tidak tampak seperti seseorang yang tengah menyembunyikan sesuatu.
Seperti boneka.
Pikiran itu tiba-tiba saja terlintas di benakku.
Pak Shibaguchi dikendalikan sesuatu.
Aku tidak tahu apa yang membuatku berpikir demikian, tapi aku mulai bisa melihat jawabannya.
Siapa…atau tepatnya, APA yang mengendalikannya?
Jawabannya ada di hadapanku.
Kekuatan spiritual yang ada di rumah inilah yang telah mengendalikannya.
Semakin Pak Shibaguchi mendekat, gelombang panas dari kekuatan roh yang dipancarkan rumah itu terlihat semakin kuat di mataku.
Desiran suara yang bukan berasal dari alam ini mulai terdengar. Bagi kami yang sudah mulai tegang, suara itu terdengar seperti suara tawa yang dingin….
“Itu suara burung malam, ya?” Pak Ioka celingak-celinguk. Sepertinya dia sudah mulai ketakutan,
Padahal ini baru pembukaannya saja. Tapi kalau kujelaskan juga dia tak akan mengerti.
Selain itu, kami toh harus menginap di rumah penuh kekuatan roh ini, karena hari sudah malam.
“Mungkin anda sebaiknya pulang saja.” kataku kemudian.
Pak Ioka kelihatan kurang senang. “Saya sendirian?”
“Ya. Besok pagi tolong anda jemput kami berdua.” aku mengatakan hal itu karena mengkhawatirkannya. Tapi sepertinya dia malah tidak suka.
“Sudah jauh-jauh sampai sini, masak hanya saya saja yang ditinggalkan?” protesnya. Aku tak bisa membalas protesnya itu.
Masalahnya, apa bisa pak Ioka memahami penjelasanku, sedangkan dia tidak punya kekuatan spiritual sama sekali? Apa dia tahu betapa berbahayanya tempat yang akan kita kunjungi ini? Aku sendiri, kalau tidak ada masalah Miku, tidak akan pernah mau menginjak tempat ini.
Ini tempat yang bisa membuat kita pulang dan merayap masuk ke dalam selimut untuk menggigil ketakutan, setelah sebelumnya menyucikan diri dengan garam dan air suci, atau yang sejenisnya.
Aku sih masih lumayan, karena punya sedikit kekuatan roh. Tapi pak Ioka bisa dibilang tanpa pertahanan sama sekali. Bagaimana kalau ada apa-apa dengannya?
Selain itu, pak Shibaguchi agak aneh.
“Bagaimana nih?” dia berhenti berjalan untuk berpaling dan bertanya padaku dan pak Ioka.
Saat itu, tiba-tiba muncul kabut putih berbentuk tangan-tangan yang tak terhingga jumlahnya dari arah rumah. Tangan-tangan itu memegangi tubuh pak Shibaguchi, seolah-olah ingin menangkapnya.
Aku nyaris saja menjerit, tapi pak Ioka keburu berkata,
“Ayo! Kalau cuma segini sih, Saya tidak masalah!” dia melengos dan menyusul pak Shibaguchi.
Sepertinya dia memang marah.
Aku menyesal telah mengajukan kesediaanku mendatangi tempat ini bersamanya. Tapi aku tak bisa mundur lagi. Aku ingin segera menolong Miku dari tempat penuh roh jahat ini.
Semakin lama waktu berlalu, keselamatan jiwa Miku semakin terancam.
Dia akan terperangkap dalam rumah ini, dan kehilangan eksistensinya di dunia nyata. Hanya akan menjadi karakter di dalam dunia game ‘Zero’.
Maaf.
Sambil berkata begitu di dalam hati, aku menyusul pak Ioka.
***
Dengan bantuan senter, kami mulai berjalan memeriksa rumah itu. Anehnya, begitu kami memasuki rumah, hawa spiritiual yang menyesakkan itu berangsur-angsur menghilang, seperti suara yang diredam.
Semua hal menyeramkan tadi seolah-olah hanya mimpi.
Tapi ini justru membuatku semakin tidak nyaman dan takut. Kesunyian yang mencekam ini seolah-olah menyembunyikan sesuatu yang siap menerkam dan menghancurkanku kapan saja…
MIku! Kalau kau dengar, jawablah!! Mikuuu!!!!
Aku terus meneriakkan itu di dalam hatiku selama menjelajahi isi rumah dengan senter. Kami berdua memiliki kekuatan spiritual yang memungkinkan kami mendengar atau melihat hal-hal yang biasanya tidak terlihat atau terdengar oleh orang biasa. Karena itu, mungkin…tidak…aku harus percaya….dengan begini, Miku bisa mendengar suaraku.
“Hebat, ya. Dari ujung sampai ke ujung, semua mirip sekali dengan Himuro Mansion di dalam game itu. Perapian tua itu, cermin di koridor, lemari tua, sampai baju zirah pajangannya pun sama persis.” Pak Ioka berkata.
“Sebegitu miripnyakah?”
“Kalau ada anak perempuannya, 100 persen sama.”
“Eh?…Anak perempuan?…”
“Lho? Hinasaki-san main gamenya juga kan?”
“Ya. Tapi saya game over mululu di tengah jalan. Sacret Water dan Herbal Medicine kehabisan stok, Stone Miror juga sudah habis saya punguti.” yang kubicarakan adalah healing item di dalam game.
“Saya sudah menamatkannya 3 kali. Ah, mengenai anak perempuan tadi itu, Saya cuma bercanda lho ya. Dia itu salah satu hantu yang ada dalam game. Kalau memang ada betul, saya juga takut.”
Bercanda, toh.
Aku agak keki juga mendengarnya, tapi sekaligus juga kagum dengan semangat pak Ioka. Dia sudah menamatkan game itu tiga kali, hanya berselang tiga hari dari hari kami menerima versi beta game itu.
Pak Ioka sepertinya juga memikirkan hal itu dan tertawa malu-malu. “Saya sampai didamprat atasan. Katanya, jangan main game melulu di waktu kerja.”
“Ngomong-ngomong, pak Ioka tidak merasa aneh dengan viusalisasi editor Ogata Kouji di game itu? Dia mirip sekali dengan anda kan?”
Pak Ioka menggelengkan kepalanya dengan heran. “Jangan begitu, dong. Mentang-mentang kami sama-sama editor majalah. Rambut saya kan coklat.” dia menyorotkan senter di tangannya ke arah rambutnya yang dicat coklat.
Aku merasakan sesuatu yang aneh dari perkataannya, tapi tidak bertanya lebih banyak lagi. Sudah terlalu banyak hal aneh disini tanpa aku perlu menambahkannya.
“Yah, kalau memang rumah ini sebegitu miripnya, tidak sia-sia dong kita kemari untuk referensi novel itu.” kataku.
“Benar juga, ya. Tapi, pak Shibaguchi, Anda seharusnya bilang, dong kalau sebegitu miripnya.”
Pak Shibaguchi tidak menanggapinya. Tidak terlalu jelas karena suasana remang-remang, tetapi wajahnya terlihat tegang.
Dan dia gemetar.
Aneh. Apa cuma perasaanku saja?
“Ada apa, Pak Shibaguchi?” Pak Ioka kelihatannya sadar ada yang aneh dengan pak Shibaguchi.
“Bukan….” Pak Shibaguchi membuka mulut setelah beberapa saat.
“Apanya yang bukan?”
“Saya memang memakai rumah ini sebagai model, tapi saya tidak membuat detail-detail di dalamnya sama persis dengan konsisi aslinya.”
“Anda ngomong apa, sih? Semuanya kan sama persis begini? Jangan menggoda kami begitu, ah. Tidak lucu.” Pak Ioka menanggapinya sambil tertawa. Tapi pak Shibaguchi menatapnya dengan tajam.
“Saya serius! Selain itu, kondisi rumah ini sangat jauh berbeda dengan saat kami datang kemari untuk survey! Waktu itu, rumah ini tidak terlantar seperti ini, dan masih layak dihuni. Tapi sekarang…..ini…benar-benar seperti Himuro Mansion di dalam game…”
“Ya…yang benar sajaaaa!!” Pak Ioka menatapku dengan pandangan ketakutan. Pak Shibaguchi juga semakin gemetar. Dia memegangi kepala dengan kedua tangannya dan terduduk di lantai.
Mendadak, hawa gaib yang tadi sudah surut meningkat lagi dengan drastis dan mengelilingi kami.
Pilar-pilar penyangga rumah mulai berderit. Kertas pintu sorong yang sudah robek-robek bergerak keras seolah ditiup angin.
Padahal tidak ada angin sama sekali!
Dari kejauhan terdengar suara derap kaki yang berjalan di lantai tanpa menggunakan alas kaki.
“Anda dengar yang barusan itu?” tanya pak Ioka.
Sepertinya keadaan sudah sampai ke tahap paling gawat, dimana bahkan orang yang tak punya kekuatan spiritual pun bisa merasakan keanehan tempat ini.
“Sebaiknya kita cari tempat untuk beristirahat dulu. Mondar-mandir tanpa tujuan begini hanya akan menambah lelah.”
Aku dan pak Ioka membantu pak Shibaguchi berdiri. Kami memilih beristirahat di tangga yang menghadap taman yang ada pohon sakuranya. Tapi, walaupun sudah beristirahat, pak Shibaguchi tidak berhenti gemetar juga.
Suhu udara turun karena sudah malam, tapi ini sebetulnya belum bisa dibilang dingin. Pak Shibaguchi membungkus dirinya dengan selimut yang kami bawa dari rumahnya tadi, tapi tetap tidak bisa berhenti menggigil.
Aku tahu apa penyebabnya.
Dan jelas sekali, bukan kedinginan karena suhu sekitar yang memang dingin.
Dia ketakutan.
Aku duduk di sebelahnya dan menepuk bahunya, “Jangan ketakutan sendiri begitu. Ceritakanlah pada kami.”
Pak Shibaguchi hanya membisu.
Aku menarik nafas untuk menenangkan diri. Perasaan ingin segera mencari Miku memang mendominasi pikiranku, tapi saat ini, aku harus tenang.
Aku harus mencari tahu dulu kondisi rumah ini dari pak Shibaguchi, baru setelah itu memutuskan akan mulai mencari petunjuk dari mana. Selain itu, roh-roh gentayangan punya kebiasaan menampakkan diri jika merasa ada manusia disekitarnya yang tidak tenang, dan akan semakin kuat jika manusia itu takut pada mereka.
Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, yang harus dilakukan pertama-tama adalah menenangkan pak Shibaguchi. Aku mulai berbicara padanya dengan suara rendah, seolah-olah ingin menghipnotisnya. Pak Ioka juga duduk di sebelah pak Shibaguchi dan mendengarkan ucapanku dengan serius. Sepertinya ia cukup paham akan kondisi rumah ini sekarang.
Sepuluh menit berlalu.
Pak Shibaguchi akhirnya membuka mulut,
“Seperti yang sudah kalian ketahui, saya memilih tempat ini saat survey karena kebetulan saja teringat. Waktu itu, suasananya memang sunyi, tapi tidak ada perasaan menyeramkan seperti ini. Makanya kami sampai berani memutuskan menginap semalam disini. Tapi, setelah kembali ke Tokyo, kejadian-kejadian aneh mulai bermunculan.”
“Ah, yang Anda ceritakan di dalam kereta tadi?”
“Ya…Selain itu…” seperti roda gigi yang mendapat pelumas, dia mulai bercerita dengan mulusnya,
“Setelah berkunjung ke rumah ini untuk mencari bahan tempo hari, ide-ide yang selama ini agak tersendat mengalir dengan lancar. Tapi, rasanya seperti bukan diri saya sendiri…. Tubuh saya bergerak sendiri seolah dikendalikan oleh sesuatu yang ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan ini.
“Naskah yang selesai padahal saya tinggal tidur sebelum rampung, penambahan scene yang seharusnya hanya ada dalam rancangan…Yah, memang ada kemungkinan ini bantuan dari Kitaike, tapi….
“Selama masa pembuatan, Saya tidak pernah memikirkannya secara serius. Baru setelah semua rampung, saya mulai menyadari kejanggalan-kejanggalan ini dan merencanakan kunjungan ulang kesini. Kesempatan langsung tiba saat pak Ioka mengusulkan kita kemari. Tapi…kenapa jadi begini?…” Pak Shibaguchi kembali memegangi kepalanya.
“Tapi kalau begitu, tempat kalian berada sekarang ini sebetulnya apa?”
Suara itu mendadak terdengar begitu saja.
Aku tersentak kaget dan melihat sekeliling.
Itu suara Takamine Sensei! Tak salah lagi.
Tapi aku tak melihat adanya sosok yang seperti beliau di sekitar sini.
Yang mengejutkan bukan hanya itu.
Begitu aku menoleh kembali, pak Ioka mendadak menghilang. Padahal tadi dia duduk disana, di anak tangga itu.
“Pak Ioka!!!”
Suaraku bergema di ruangan itu. Tapi tak ada respons sama sekali. Aku berpaling ke arah pak Shibaguchi,
“Pak Shibaguchi!! Pak Ioka hilang!!”
“Pak Ioka?….Siapa itu?” Pak Shibaguchi menanggapinya, masih sambil menunduk.
Untuk sesaat aku shock dan tidak bisa berkata apa-apa. Bukan hanya karena tanggapannya, tapi suara Pak Shibaguchi barusan adalah suara Takamine -sensei.
Pak Shibaguchi perlahan berdiri dan berjalan ke arah taman dengan pohon sakura di dalamnya. Setiap kali dia melangkah, sosok belakangnya pelan-pelan terlihat diselimuti kabut, dan perlahan-lahan berubah menjadi sosok belakang Takamine-sensei.
“Sensei!! Takamine-sensei!!”
Dipanggil begitu, dia berhenti berjalan dan menoleh perlahan ke arahku.
Dengan wajah berlumuran darah segar.
Aku langsung menjerit ketakutan.
Suara teriakanku bergema di seluruh penjuru taman. Seolah menunggu momen itu, pohon sakura yang diterangi cahaya bulan di tengah taman itu mulai berguguran.
Sebagai gantinya, sosok Takamine-sensei menghilang di tengah-tengah bunga yang berguguran itu.
Tapi kejutan belum berakhir.
Mulutku mendadak berbisik sendiri;
“Yang barusan itu…tak salah lagi!! Takamine Sensei, yang sedang dicari-cari Kakak!”
Miku!!
Aku berusaha berteriak, tapi suaraku tidak keluar. Sebagai gantinya,
“Kakak?” mulutku kembali bergumam.
Suara Miku keluar dari mulutku.
Aku memperhatikan tanganku. Tangan yang kecil dengan jari-jarinya yang mungil. Ini bukanlah tanganku.
Hal yang sulit dipercaya, memang. Tapi, sepertinya aku telah menjadi Miku.
Miku sedang menjelajahi rumah dengan senter di tangannya. Aku memusatkan pikiran dan memanggil Miku sekuat tenaga.
Miku. Aku disini, Miku!!!
Tapi, setelah mengatakan itu, aku tercenung sendiri.
Aku mengatakan aku ada disini. Tapi, dimana sebenarnya aku berada?
Tidak…aku sedang menghilang.
Yang tersisa dariku hanyalah kesadaran yang saat ini tengah menetap di dalam tubuh Miku. Aku melihat dunia ini sebagai Miku. Dan bukan hanya itu.
Aku juga berpikir dan merasakan segala sesuatu sebagai Miku.
Tapi, aku tidak bisa lepas dari Miku.
Sekuat apapun aku berkonsentrasi memanggilnya, yang terdengar oleh telinga Miku hanyalah suara yang sayup-sayup. Miku yang sedang gundah tidak menanggapinya dengan serius dan menganggap itu semua hanya perasaannya.
Ya. Aku mengerti sebab saat ini, seluruh perasaan dan apa yang dipikirkan Miku tersampaikan padaku.
Miku ketakutan. Dan dia tengah menangis tanpa suara.
Kakak. Kakak dimana? Kumohon…kembalilah. Kembalilah ke tempatku tanpa kurang suatu apapun.
Dia….memikirkan diriku sampai sejauh ini…..
Aku…..
Aku….
***

Kakak menghilang.
Hanya memikirkan hal itu saja sudah membuat Miku ingin menangis. Mafuyu menghilang. Padahal, bagi Miku, setelah kematian ibunya, satu-satunya yang bisa disebut keluarga olehnya hanya Mafuyu, Kakaknya.
Mafuyu menghilang saat mencari jejak penulis novel yang pernah membantunya, Takamine Junsei. Beliau dikabarkan hilang di Himuro Mansion ini. Dan sekarang, Mafuyu ikut menghilang.
Mafuyu memiliki kekuatan spiritual, sama seperti Miku. Dia pasti juga merasakan perasaan tidak nyaman yang langsung menyergap begitu mendekati tempat ini. Tapi dia tetap masuk, dan sejak itu tidak terdengar kabarnya lagi.
Mafuyu memang seperti itu. Dia tipe orang yang tidak ragu-ragu untuk terjun ke sungai demi menyelamatkan orang yang disayanginya, sekalipun dirinya sendiri tidak bisa berenang.
Tahu dirinya tidak akan selamat, tapi tetap berusaha menolong.
Miku sadar, kakaknya sering pusing menghadapi dirinya.
Setelah ibunya bunuh diri, Miku semakin tertutup pada orang lain. Bukannya dia suka menyendiri, tapi lebih karena dia sendiri tidak bisa membaur dengan mereka.
Sekalipun dia berusaha, itu tidak berlangsung lama. Hubungan pertemanan dengan cepat hancur, dan dia kembali seorang diri.
Dia sudah menyadarinya sejak dulu.
Sewaktu kecil, ketika bermain ‘Kagome kagome’ (permainan anak-anak Jepang dimana beberapa anak bernyanyi sambil berputar mengelilingi satu orang yang berjongkok di tengah-tengah mereka. Anak yang berjongkok itu harus menebak siapa yang berdiri di belakangnya ketika lagu berakhir) Miku selalu mampu menebak dengan tepat siapa yang berada di belakangnya. Dari 100 kali permainan, 100 kali pula tebakannya tepat.
Kekaguman teman-temannya hanya berlangsung sesaat. Tidak lama kemudian, semua itu berubah jadi tuduhan curang.
Tidak suka disebut curang, Miku membuktikan bahwa dia sama sekali tidak berbohong. Tapi yang terjadi malah dia dijauhi teman-temannya.
Kalau Miku mencoba mendekati, mereka langsung menjauh sambil pasang tampang tidak kenal.
Tidak tahu alasannya, Miku mengejar mereka. Tapi mereka malah berbalik mengejek dan menyakitinya.
Semua menganggapnya sebagai pengganggu.
Ketika tersadar, Miku menyadari bahwa dirinya bagaikan bermain ‘Oni gokko’ (setan-setanan). Hanya saja, ini bukannlah permainan belaka bagi Miku. Dia merasa dirinya benar-benar menjadi ‘oni’ atau setan.
Dalam permainan sekalipun yang namanya menjadi setan sudah tidak enak. Dan ini harus dialaminya di dalam kehidupan sehari-hari. Miku tidak pernah mengingat-ingat betapa dirinya terluka karena itu.
Perasaan yang tidak akan dimengerti selain oleh yang pernah mengalaminya.
Karena itulah Miku selalu menyembunyikan diri.
Menyembunyikan setan dalam dirinya…..bukan.
Miku tak pernah menganggap dirinya setan. Sama sekali.
Walaupun begitu, dia tidak bisa menjelaskan hal ini pada orang lain. Menjelaskan sekalipun tidak ada yang mau menerimanya.
Miku mengerti perasaan ibunya yang memilih untuk bunuh diri.
Sejak kecil, Miku sendiri sudah berkali-kali punya keinginan yang sama.
Seperti apa…seberat apa hidup yang telah dijalani ibunya hingga menjadi dewasa…Miku tak mau membayangkannya.
Mungkin orang akan menganggapnya tidak hormat jika sampai mengetahui hal ini, tapi ada dua hal yang selalu ingin dikatakan Miku kepada almarhum ibunya;
“Terima kasih”, dan “Syukurlah, dengan begini ibu bisa bebas.”.
Karena sebenarnya, kalau bisa, Miku memang ingin mati saja. Dan bukan cuma satu dua kali dia merasa seperti itu.
Jangan!
Memikirkan masa lalu seperti ini hanya membuat perasaan dan suasana semakin tidak nyaman saja.
Apalagi saat ini dirinya berada di mansion besar yang penuh dengan suasana mencekam dan penuh hawa aneh.
Setiap kali melangkah, terdengar bunyi derit menyeramkan dari lantai yang diinjaknya.
Di telinga Miku yang tengah ketakutan, suara itu terdengar seperti suara tawa terkekeh-kekeh.
Ditambah lagi, kadang-kadang dia melihat apa yang seharusnya tidak terlihat.
Ketika berbelok di sudut, mata Miku terbelalak dan dia langsung menutup mulutnya dengan kedua belah tangan untuk menahan jeritannya yang nyaris keluar.
Berjarak kira-kira lima sampai enam meter di hadapannya, berdiri seorang wanita mengenakan kimono putih yang acak-acakan.
Rambut hitamnya yang mencapai pinggang basah kuyup seolah-olah orang itu baru saja keluar dari air.
Tubuhnya kurus dan sempoyongan, seolah bisa ambruk setiap saat.
Tapi yang paling mengejutkan adalah matanya.
Di tempat yang seharusnya ada bola mata terlihat lubang menganga yang terus mengucurkan darah kehitaman. Sepertinya kedua matanya telah dihancurkan, entah oleh apa.
Wanita itu berjalan menyeret kakinya sambil mengacungkan kedua tangannya ke depan.
“Di mana….Ada di manaaa…..” wanita itu bergumam dengan suaranya yang terdengar seperti gemerisik kertas.
“Setan…”
Miku refleks bergumam begitu.
Bahkan dalam suasana mencekam semacam ini sekalipun Miku tidak bisa mencegah otaknya berpikir, sosok wanita yang tampak menyedihkan itu mirip seperti dirinya yang menjadi setan dalam ‘Oni Gokko’ dulu.
Suara Miku tidak luput dari telinga wanita itu.
Perlahan dia memalingkan wajahnya ke arah Miku. Kemudian, tidak seperti saat berjalan tadi, dengan langkah yang lebih cepat dia mendekati Miku.
“Tidak….Jangan mendekat…”
Mata Miku mengerjap, dan dia menggelengkan kepalanya.
Bukan! Aku bukanlah orang yang kau cari. Karena itu, jangan kemari.
Tapi, semakin dia membatin demikian, wanita itu seolah mendapat kepastian dan terus mendekatinya.
Miku merasa lehernya seperti tercekik.
Kakinya seolah membatu, tidak bisa bergerak.
Selama ini dia sudah sering sekali melihat penampakan yang tidak bisa dilihat manusia biasa. Tapi baru kali ini dia melihat yang begini jelas.
Sekali pandang saja sudah terlihat bahwa wanita di hadapannya jelas-jelas bukan penghuni dunia ini.
Tapi eksistensinya terasa begitu nyata, dan hal ini menimbulkan kepanikan serta kengerian yang tak pernah dirasakan Miku sebelumnya. Miku bisa merasakan nafasnya mulai terasa sesak.
Harus kabur!
Kalau sampai tertangkap, entah apa jadinya nasibku.
Sambil berpikir begitu, Miku berusaha menggerakkan kakinya yang bagaikan terpancang di tempat.
Tidak bisa…
Jarak wanita itu dengan dirinya sudah kurang dari lima meter.
Walaupun di dalam mansion itu gelap, tubuh wanita itu memancarkan cahaya redup seperti api arwah sehingga semakin dia mendekat, semakin jelas Miku dapat melihat wajahnya.
Darah merah kehitaman yang mengucur dari kedua lubang matanya terlihat sangat kontras di pipinya yang pucat pasi.
Warna merah itu bagaikan kebencian yang mengalir keluar dari dalam dirinya.
Tentu saja, dia bukannya membenci Miku secara pribadi. Tapi hal itu sudah tak ada hubungannya.
Mungkin yang dibencinya adalah orang-orang yang telah membuatnya jadi seperti ini.
Tetapi, setelah menjadi hantu dalam waktu lama, yang tersisa dari dirinya hanyalah kebencian terhadap dunia ini. Semua selain dirinya hanyalah objek untuk dibenci. Miku tahu dari pengalaman, bahwa kalau ada orang yang sampai bertemu makhluk macam itu, satu-satunya predikat yang tepat hanyalah nasibnya sedang malang.
Kumohon, pergilah ke sana! Kumohon!!
Miku merasa matanya mulai berair.
Wanita itu sudah berada persis di hadapannya.
Tanganya yang terulur bahkan nyaris menyentuh wajah Miku.
Saat itulah suatu pemandangan mendadak muncul di hati Miku, seolah ada yang menyalakan TV.
Pemandangan itu seperti film hitam putih yang sudah rusak.
Pemandangan di saat wanita itu kehilangan kedua matanya.
Beberapa orang yang tampak seperti pendeta memegangi wanita itu. Salah seorang diantaranya berusaha menempelkan semacam topeng di wajahnya.
Tapi itu bukan topeng biasa.
Lubang matanya tidak ada. Sebagai gantinya, di sisi dalam, dua buah duri mencuat di tempat yang seharusnya ada lubang mata itu.
Kalau sampai memakai topeng itu, si pemakai pasti akan langsung kehilangan matanya. Hancur oleh kedua duri tajam itu.
Ini penyiksaan.
Tidak ada kata lain yang tepat untuk menggambarkan ini semua selain penyiksaan.
Wanita itu memohon ampun, tapi para pendeta itu seolah tak peduli dan tanpa memperlihatkan keraguan sedikitpun langsung menempelkan topeng itu.
Jeritan yang seolah mampu merobek kerongkongan menggema di seluruh penjuru.
Ketika akhirnya para pendeta melepas pegangannya, wanita itu terduduk dan langsung melepas topeng yang melekat di wajahnya.
Tapi kedua bola matanya sudah tak ada, digantikan darah yang mengucur deras membasahi kimono putih yang dikenakannya.
Kejam! Kenapa harus melakukan hal seperti….Aaaah!!!
Selang beberapa detik setelah shock yang dialaminya karena melihat pemandangan menyeramkan itu, kengerian yang mirip perasaan sakit menyergap Miku.
Wanita itu telah menyentuhnya.
Miku merasa ada tangan-tangan yang terhitung jumlahnya menangkap dan memegangi tubuhnya. Rasa dingin terasa hingga ke tulang-tulang.
Harus kabur!!
Tapi tubuh Miku seperti terikat erat. Sama sekali tidak bisa bergerak.

To be Continue…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s