Ramadhan di Jepang – ラマダーン

“bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu…” (2:185)

Bersyukurlah kita, tinggal di Indonesia yang mayoritas Muslim. Berpuasa pun lebih mudah, tapi bagaimana dengan saudara kita di Jepang?

Quote:
Berpuasa di Tokyo adalah sesuatu yang cukup berat pada awalnya. Terutama bagi yang belum pernah merasakan berpuasa di daerah dengan agama Islam sebagai agama minoritas. Butuh keteguhan iman yang cukup agar tidak terbawa arus. Jika dibandingkan dengan ketika berada di Indonesia, dibutuhkan kesabaran yang lebih karena masyarakat di sekitar kita tetap menjalankan aktivitas mereka seperti biasanya. Berbeda dengan di Indonesia, yang penduduknya mayoritas Islam. Semua orang mencoba untuk menjaga perasaan kaum muslimin yang sedang berpuasa. Paling tidak hal ini dilakukan dengan menutup jendela-jendela restoran dengan kain misalnya.

Godaan dari sisi zina mata pun, terutama bagi kaum ikhwan, perlu ditangani secara khusus. Hal ini sebenarnya bisa diatasi dengan niat berpuasa yang tulus dan ikhlas. Karena, perlu diketahui bahwa di Jepang, terutama di Tokyo, orang berjalan dengan pakaian you can see atau bikini bukanlah hal yang aneh. Begitu pula dengan media advertisement yang ada di mana-mana. Cukup banyak yang memanfaatkan keindahan tubuh wanita untuk menarik perhatian.Lain lagi dari masalah makanan. Bagi para single fighter, berpuasa menjadi hal yang cukup berat. Terutama dalam hal penyediaan hidangan sahur dan berbuka. Muncul perasaan rindu terhadap makanan rumah, bukanlah hal yang aneh. Cukup sulit di sini untuk mendapatkan kolak pisang, kacang hijau, ketupat sayur, lontong, dan berbagai macam makanan khas Ramadhan di Indonesia. Dibutuhkan usaha lebih untuk bisa mendapatkannya. Namun demikian, bagi yang berdomisili di Tokyo dan sekitarnya, bisa mengatasi hal ini dengan datang ke SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo) setiap hari minggu. Paling tidak, bisa mengobati rasa rindu tadi, meski terkadang perjalanan yang ditempuh cukup jauh.

Namun, selain berbagai macam rintangan yang ada, sisi-sisi positifnya pun tidak kalah banyak. Bagi beberapa orang, meski tidak semuanya, kondisi seperti ini jadi lebih membangkitkan keimanan. Banyak diantara kita yang justru jadi sering datang ke masjid meski hanya untuk shalat ashar atau maghrib. Meski tempatnya cukup jauh, tapi dengan niat yang ikhlas, Insya Allah jarak itu akan menjadi berkah. Bahkan di tempat-tempat tertentu setiap bafda maghrib diadakan buka puasa bersama. Meski dengan hidangan ala kadarnya, tapi tetap dengan rasa persaudaraan satu agama, Agama Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s