Buah-Buahan dan Sake Bisa Dengar Musik?

Bisa. Kata orang Jepang.

Toyoka Chuo Seika, perusahaan yang berbasis di prefektur Hyogo baru saja mengirim produknya yang bernama “Pisang Mozart” ke semua supermarket di daerah tersebut.

Tiba di Jepang sebagai pisang biasa dari Filipina, pisang-pisang tersebut akhirnya bertemu dengan takdir yang aneh. “String Quartet 17” dan “Piano Concerto 5 dalam D mayor” di antara karya-karya lain, dimainkan terus menerus selama satu minggu di ruang pematangan yang memiliki speaker-speaker besar khusus untuk tujuan ini.

pisang  jepang

Tapi mereka bukan pisang pertama di Jepang yang mendengar alunan komposer besar Austria dari abad ke-18 itu. Sebuah pusat grosir buah-buahan di prefektur Miyazaki sudah melakukannya dari tiga tahun yang lalu. Bahkan dalam beberapa dekade terakhir, berbagai macam makanan dan minuman telah terkena getaran musik klasik, seperti kecap di Kyoto, mie udon di Tokyo, miso di Yamagata, jamur maitake di Ishikawa dan “Roti Beethoven” di Nagoya.

Ini cukup untuk membuat para skeptis bertanya-tanya: Apakah produsen benar-benar serius tentang manfaat dari musik klasik? Seorang wakil dari perusahaan buah Hyogo, Isamu Okuda, mengatakan bahwa mereka percaya kalau musik klasik bisa membuat pisang menjadi manis.

“Kami pikir ini akan menjadi investasi yang baik,” kata Okuda, “yang akan membedakan perusahaan kami dari yang lain.”

Pisang yang dijual secara lokal di Toyoka dibandrol dengan harga ¥300 (sekitar Rp. 30.000) per buah, dan dibandingkan dengan tahun lalu tingkat penjualan pun terus meningkat. Rencananya adalah meluaskan area penjualan ke jaringan supermarket yang lebih luas di masa depan.

sake jepang

Perusahaan lain yang menggunakan musik klasik adalah Shuzo Ohara, produsen sake di prefektur Fukushima. Direktur senior, Fumiko Ohara, mengatakan bahwa mereka telah memulainya lebih dari 20 tahun yang lalu ketika sang presiden, Kosuke Ohara, menemukan sebuah buku tentang pembuatan bir dengan musik. Mereka pun bereksperimen dengan jazz, Mozart, Bach, dan Beethoven.

“Hasilnya adalah Mozart yang terbaik untuk pembuatan sake,” kata Ohara, “dan itulah sebabnya kami hanya menggunakan musiknya.”

Selama 24 sampai 30 hari, pada langkah ketiga dari proses pembuatan sake, Mozart dimainkan selama satu jam di pagi hari dan satu jam di sore hari selama proses fermentasi di tangki stainless-steel berlapis enamel. “‘Symphony 41’ dan ‘Piano Concerto 20’ membuat sake memiliki aroma yang lebih kaya dan rasa yang lebih ringan,” katanya.

Sejak tahun 1989 sake buatan Ohara yang berlabel “seri klasik” dengan kisaran harga ¥1.000 s/d ¥5.000 selalu terjual habis.

Sejumlah ilmuwan menolak untuk diwawancarai untuk cerita ini karena tidak ada penelitian yang cukup, tapi itu tidak membuat Hiroko Harada berhenti menyetel lagu klasik. Manajer perusahaan Harada Tomato itu telah membuktikannya dengan tomat-tomat produksinya yang lebih lezat dan manis berkat Mozart.

Harada pertama kali memikirkan ide gila ini 15 tahun yang lalu, setelah dia mendengar tentang sapi di Spanyol yang produksi susunya meningkat setelah mendengarkan Mozart.

Di perkebunan Harada, speaker-speaker ditempatkan di seluruh sembilan rumah kaca dan lagu Mozart diputar selama 10 jam sehari dari Oktober sampai Mei. “Yang paling penting adalah bahwa musik klasik menciptakan lingkungan yang santai dan nyaman bagi kita untuk bekerja, dan ini rupanya menular kepada tomat-tomat kami,” katanya.

Menurut Tokushima Kogyou Shikenjyo, sebuah lembaga penelitian publik, tomat Harada mengandung tiga kali lebih banyak zat besi dan vitamin C daripada tomat biasa. Apakah ini hasil dari musik klasik atau karena cara berkebun organik yang terampil? Sulit untuk mengatakannya, tapi Harada merasa Mozart memainkan perannya dengan baik.

Walaupun tidak ada data penelitian resmi untuk mendukung klaim bahwa musik Mozart memiliki efek pada makanan dan minuman, satu penjelasan untuk popularitasnya manfaat di balik musik klasik adalah frekuensi tinggi yang bisa memberikan efek “tenang” pada manusia.

Musik Mozart yang mempunyai frekuensi diatas 8.000 Hz memang sering dimanfaatkan untuk terapi pada pasien dengan tingkat stress yang tinggi. Tapi apakah berlaku untuk makanan, minuman dan tanaman? Bukankah semua itu benda mati? Tanaman dan tumbuhan mungkin makhluk hidup, tapi… memangnya mereka punya kuping?

wolfgang amadeus mozart

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s