Jejak Kaki yang Tertutup Salju

Kisah ini terjadi pada saat musim dingin telah tiba. Saat itu salju tipis turun di sore hari. Seorang pendeta Budha yang sedang dalam perjalanan hendak singgah ke sebuah desa yang sangat miskin. Setiap rumah telah diketuknya untuk meminta kesediaan mereka mengijinkan dirinya tinggal barang semalam saja di rumah mereka. Namun tak satu pun rumah mau membuka pintu untuk sang pendeta. Akhirnya sampailah sang pendeta di sebuah rumah yang kelihatannya paling miskin di dekat jembatan. Ternyata penghuninya adalah seorang nenek.

“Silakan masuk ke dalam. Rumah ini sangat kecil dan tidak ada apa-apa di dalamnya. Tetapi kalau hanya menginap semalam saja, silakan!” kata nenek.

Rumah nenek benar-benar kecil dan hampir-hampir tidak ada perabotan sedikit pun. Saat itu, nenek juga tidak mempunyai makanan sedikit pun. Di tungku perapian juga tidak ada kayu dan api setitik pun. Sang pendeta pun masuk rumah sang nenek dan segera duduk di perapian yang tidak ada apinya itu.

Di luar benar-benar sangat dingin. Salju pun masih turun walaupun tidak begitu besar. Melihat sang pendeta yang diam bersemedi di hadapan perapian itu, sang nenek pun jadi merasa salah tingkah. Ia sudah tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan pada sang pendeta. Dalam kebingungannya, nenek pun pergi keluar menuju sebuah lumbung padi milik tetangganya yang kaya. Diambilnya beberapa batang padi lalu pergi ke kebun untuk mengambil beberapa batang lobak. Sejenak nenek berpikir bahwa ia telah meninggalkan jejak kaki di atas salju. Mungkin keesokan harinya perbuatannya akan ketahuan juga oleh pemilik lumbung dan kebun lobak itu. Namun, biarlah apa yang terjadi besok akan ia hadapi besok saja. Ia sangat kasihan melihat sang pendeta yang nampaknya letih karena telah berjalan jauh. Sang nenek pun kemudian pergi ke dalam hutan untuk memotong beberapa ranting dan dahan pohon kering. Setelah itu ia pulang kembali ke rumahnya.

Segera sang nenek menyalakan api di perapian lalu menumbuk padi itu hingga menjadi beras, memotong lobak lalu memasaknya hingga menjadi nasi dan sup yang lezat. Beberapa saat kemudian nenek sudah dapat menghidangkan masakan tersebut.

“Silakan makan. Tentunya pendeta juga sudah lapar kan?” kata nenek membangunkan sang pendeta dari bertapanya. Sang pendeta pun akhirnya makan hidangan nenek itu dengan nikmatnya.

“Terima kasih, nek. Sepertinya malam ini akan turun hujan salju yang lebat” kata sang pendeta sambil mengakhiri santap malamnya. Setelah itu baik nenek maupun sang pendeta pun tertidur.

Keesokan harinya, sebelum pergi meneruskan perjalanannya sang pendeta berkata,

“Semoga mulai hari ini berkat dari sang Budha selalu melimpahi kehidupanmu, nek!” dan pendeta pun pergi melanjutkan perjalanannya.

Ternyata semalam benar-benar turun salju dengan lebatnya. Jejak kaki nenek di kebun dan lumbung tetangganya pun sudah hilang tertutup oleh salju. Dan sejak saat itu kehidupan sang nenek yang baik hati itu pun benar-benar penuh dengan berkah. Ia tidak pernah lagi kekurangan makanan. Dan ia pun tetap selalu mau menolong orang yang sedang kesusahan. Sang pendeta Budha yang telah mengunjungi rumah sang nenek itu sesungguhnya adalah seorang pendeta besar Budha di Jepang.

—————————————————————————————————————————-

Nah… Menurut Anda, pesan moral apakah yang ingin disampaikan dari cerita di atas? Silakan tulis pendapat Anda di bagian Komentar.

 

Judul asli: Ato-kakushi no yuki (Jejak kaki yang tertutup salju) berasal dari Prefektur Hiroshima.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s