Osechi, Hidangan Tahun Baru Khas Jepang

untukHampir di seluruh dunia, akhir tahun menjadi waktu untuk perayaan. Apakah di restoran maupun di rumah, beramai-ramai bersama lusinan teman dan kenalan atau hanya berempat di rumah, datangnya tahun yang baru seringkali identik dengan pesta. Dan pesta identik dengan makanan enak. Tentu saja yang dihidangkan bukan sembarang makanan, dan tidak sedikit budaya yang memiliki makanan khas untuk perayaan akhir tahun. Misalnya Jepang.

Hidangan tahun baru di Jepang dikenal dengan istilah osechi-ryōri, atau hanya osechi untuk singkatnya. Osechi sendiri terdiri atas berbagai jenis makanan yang dihidangkan dalam kotak-kotak khusus yang disebut jūbako. Seperti kotak untuk bentō, jūbako biasanya ditumpuk sebelum dan sesudah acara makan.

Walaupun variasi osechi sendiri praktis tak terbatas, umumnya setiap ‘paket’ osechi setidaknya menampilkan beberapa makanan tradisional yang memiliki makna tersendiri sehubungan dengan perayaan tahun baru

Misalnya kuro-mame (kacang kedelai hitam); di sini, kata ‘mame’ juga berarti ‘rajin’, sehingga diikutkannya kuro-mame di dalam osechi melambangkan harapan agar bisa selalu rajin bekerja di tahun yang baru. Ada pula kazunoko, telur ikan baring (herring); di mana ‘kazu’ berarti ‘jumlah’ dan ‘ko’ berarti ‘anak’. Makanan yang satu ini melambangkan harapan tradisional agar diberkahi banyak anak di tahun mendatang. Satu lagi entry tradisional adalah tazukuri, ikan sardin kering yang dimasak dengan kecap. Ikan sardin yang dikeringkan dulu digunakan sebagai bahan untuk pupuk, dan tazukuri dihidangkan sebagai lambang harapan panen yang baik di musim tanam mendatang.

Orang Jepang umumnya juga menyukai permainan kata. Jadi, dalam osechi juga akan ditemui konbu, sejenis rumput laut. Di sini kata ‘konbu’ dihubungkan dengan kata ‘yorokobu’, yang berarti ‘kebahagiaan’. Lalu tai-no-shio-yaki, red sea-bream  (sejenis ikan dari perairan Eropa) yang dibumbui dengan garam kemudian dipanggang. Di sini, kata ‘tai’ dihubungkan dengan kata ‘medetai’, yang menunjukkan perayaan.

Tentu saja, masih banyak lagi hidangan pelengkap osechi. Seperti ebi no saka mushi (udang yang dikukus dengan sake), kurikinton (chestnut yang ditumbuk), dan namasu (asinan daikon, sejenis lobak, dan wortel). Satu lagi menu yang cukup terkenal (dan boleh dibilang wajib hadir) adalah zōni, sejenis sup yang berisi mochi dan berbagai bahan lainnya. Seperti kebanyakan sup tradisional Jepang, ada berbagai versi zōni. Tetapi pada dasarnya, ada dua versi utama: di wilayah Barat Jepang, zōni berupa sup dengan bahan dasar miso dengan mochi yang dibentuk bulat, sementara di wilayah Timur, zōni umumnya menggunakan kaldu ikan dengan mochi yang dipotong kotak-kotak. Konbu dan kuromame merupakan tambahan yang paling umum, diikuti daging, ayam, kamaboko, bayam, potongan wortel dan lain-lain.

Pada malam tahun baru, seringkali dihidangkan juga toshi-koshi soba, yang berarti ‘soba pindah tahun’. Menurut kepercayaan setempat, tidak menghabiskan toshi-koshi soba yang dihidangkan dapat membawa celaka. Memang di dalam osechi ada banyak makanan yang dihidangkan untuk mengusir ketidakberuntungan.  Tetapi ada juga minuman yang dipercaya membawa khasiat yang sama. Terutama di antaranya adalah toso, yaitu sake yang dibumbui dengan campuran rempah-rempah (antara lain merica Jepang, jahe kering, kayu manis, dan lain-lain). Kanji pertama yang membentuk kata ‘toso’ berarti ‘roh jahat’, sementara kanji kedua berarti ‘mengalahkan’. Karena itu tradisi minum toso diidentikkan dengan membasuh hal-hal negatif dari tahun yang lalu.

Ketika tradisi osechi dimulai, tepatnya pada periode Heian, hidangan tahun baru ini hanya berupa nimono, yaitu sayuran yang direbus bersama kecap dan gula. Lama kelamaan, semakin banyak jenis makanan yang ditambahkan, mulai dari makanan tradisional seperti yang disebutkan sebelumnya, juga sushi dan sashimi, sampai berbagai masakan dari luar negeri. Dan jika dulu variasi osechi tergantung pada kreativitas serta keahlian anggota keluarga yang bekerja di dapur, kini osechi juga dapat dibeli di toko-toko dan supermarket.

Kagami-mochi adalah mochi yang khusus dihidangkan untuk para dewa menjelang pergantian tahun. Biasanya kagami-mochi dibuat (atau dibeli) pada tanggal 31 Desember, lalu disajikan di depan altar di dalam rumah. Kagami-mochi terdiri dari 3 tumpukan, 2 yang terbawah terdiri dari mochi, sedangkan pada puncaknya ditempatkan buah jeruk. Sesuai artinya (kagami = cermin), maka hidangan ini dimaksudkan untuk mengusir atau mengalahkan kekuatan roh jahat. Cermin dalam tradisi masyarakat Jepang dipercaya bisa mengalahkan kekuatan roh jahat.

Ternyata, ada juga ‘hidangan penutup’ perayaan tahun baru. Hari ketujuh bulan Januari, yang dikenal dengan istilah jinjitsu, adalah hari festival Nanakusa no Sekku. Festival ini ditandai dengan dihidangkannya nanakusa-gayu, yang berarti ‘bubur tujuh bumbu’ atau ‘bubur tujuh rumput’. Seperti namanya, hidangan tradisional ini berupa bubur nasi yang dimasak dengan tujuh jenis tanaman: seri, nazuna, gogyō, hakobera, hotokenoza, suzuna dan suzushiro. Saat disajikan, bubur ini dicampur dengan kagami-mochi (yang selama 7 hari disajikan untuk para dewa). Hidangan ini dipercaya bisa mendatangkan kesehatan selama tahun yang baru, dan yang menyantapnya mendapatkan kekuatan dari dewa. Selain itu, bubur kombinasi ini juga membantu memulihkan kondisi perut yang dipaksa bekerja ekstra keras selama perayaan tahun baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s