Tanabata, Festival Cinta Pada Malam Ketujuh

Orihime, putri Kaisar Tentei, adalah seorang dewi penenun yang membuat pakaian-pakaian indah untuk ayahnya. Pada suatu hari ia duduk termenung di samping sungai Amanogawa. Rupanya Orihime sedang diliputi kesedihan karena ia saking sibuknya dengan tenunan sampai-sampai dia tidak bisa jatuh cinta.

Tentei, sang penguasa langit, pun ikut sedih. Lalu dia mengatur sebuah pernikahan untuknya dengan Hikoboshi, si penggembala sapi, yang tinggal di seberang sungai. Pasangan itu sangat bahagia dan sangat mencintai satu sama lain. Mereka bertemu setiap hari. Akibatnya, mereka mengabaikan pekerjaan mereka. Mereka lupa kalau mereka mempunyai kewajiban yang harus mereka lakukan.

Ini membuat marah Kaisar Tentei, sehingga dia memutuskan untuk memisahkan pasangan tersebut dan menempatkan mereka kembali di sisi sungai yang berlawanan. Tentei menetapkan bahwa pasangan itu hanya boleh bertemu dan melihat satu sama lain pada satu malam setiap tahunnya, yaitu pada hari ketujuh di bulan ketujuh.

Tanabata, Festival Cinta Pada Malam Ketujuh

Tanabata (juga dikenal sebagai festival bintang) adalah festival yang merayakan penyatuan antara dua orang yang sedang jatuh cinta yang sudah lama tidak bertemu. Festival ini berasal dari negeri China dan dianggap hari Valentine-nya orang China dimana banyak pasangan kekasih merayakan dengan makan malam sederhana nan romantis.

Dalam tradisi Jepang, orang-orang menulis keinginan mereka pada kertas tanzaku (kertas berwarna-warni) dan menggantungnya pada pohon bambu. Orang juga menghiasi pohon bambu dengan berbagai macam ornamen dan dekorasi kertas serta menempatkannya diluar rumah mereka.

Keinginan yang ditulis pun bisa bermacam-macam. Tidak harus berhubungan dengan jalinan cinta mereka. Banyak yang menulis untuk kesehatan mereka, pekerjaan yang lebih baik, dan lain-lain. Tidak semua orang di Jepang merayakannya secara bersamaan. Ada yang hari ini, ada pula yang di bulan Agustus, tergantung tradisi daerahnya masing-masing.

Tanabata, Festival Cinta Pada Malam Ketujuh

Sekarang pertanyaannya: Bagaimana rasanya kalau kamu bisa bertemu dengan kekasihmu hanya satu hari dalam satu tahun?

Tanabata = 七夕

Iklan

Kenapa Orang Jepang Lebih Memilih Hewan Peliharaan?

Di lingkungan yang serba mahal di pusat kota Tokyo, Toshiko Horikoshi sedang bersantai dengan memainkan grand piano-nya. Dia adalah seorang ahli bedah mata yang cukup sukses. Dia memiliki sebuah apartemen mewah, mobil Porsche dan dua hewan peliharaan: Tinkerbell, seekor chihuahua, dan Ginger, pudel.

Orang Jepang Lebih Memilih Hewan Peliharaan?

“Pemilik anjing di Jepang menganggap anjing seperti anak kecil,” kata Toshiko. “Saya tidak punya anak, jadi saya benar-benar mencintai dua anjing saya.”

Banyak wanita Jepang seperti Toshiko yang lebih memilih hewan peliharaan ketimbang menjadi ‘orangtua beneran’ alias orangtua yang memiliki bayi sungguhan. Yang mengejutkan; saat ini Jepang memiliki lebih banyak hewan peliharaan daripada anak-anak. Perkiraan resmi menyebutkan populasi hewan peliharaan berada di kisaran 22 juta ekor, tetapi hanya ada 16,6 juta anak di bawah usia 15 tahun.

Tinkerbell dan Ginger memiliki kamar mereka sendiri dan lemari penuh pakaian yang ber-merk. Mereka memiliki gaun, jas, topi, kacamata hitam dan bahkan sepatu kecil. Toshiko mengajak anjing-anjingnya berbelanja saat akhir pekan dan biasa membelikan mereka pakaian baru setiap musim.

Di Jepang, desainer-desainer terkenal seperti Chanel, Dior, Hermes dan Gucci banyak menjual produk-produk untuk anjing dan kucing. Contohnya saja satu set kaos dan celana anjing bisa dijual dengan harga Rp. 2 juta.

Orang Jepang Lebih Memilih Hewan Peliharaan?

Di Tokyo, lebih mudah untuk seseorang menemukan sebuah tempat penitipan hewan daripada mencari tempat khusus bayi. Jika ada yang mau pergi berlibur, mereka dapat membayar ¥8.000 (atau sekitar Rp. 800.000) per malam untuk menitipkan anjing mereka di hotel anjing.

Untuk ¥5.000 atau sekitar Rp.500.000 per sesi, seekor anjing bisa mendapatkan pelajaran berenang, bersantai mandi busa, dipijat menggunakan minyak aromaterapi dan layanan manicure. Ada juga kuil dimana anjing dan kucing yang mati dikuburkan dengan upacara ala agama Buddha; pemakaman mewah dan upacara kremasi yang lengkap bisa menelan biaya lebih dari ¥650.000 atau sekitar Rp. 65.000.000,-.

“Saya melihat banyak orang yang berduka lebih dalam untuk hewan peliharaan mereka daripada untuk orang tua atau kakek-nenek mereka,” kata seorang pendeta di sebuah kuil di pinggiran kota Tokyo. “Hal ini karena mereka menganggap hewan peliharaan seperti anak mereka sendiri, jadi mereka seperti kehilangan seorang anak.”

Tidak bisa dipungkiri lagi; negeri sakura ini adalah salah satu tempat di muka bumi dimana anjing dan kucing bisa hidup lebih layak daripada manusia.

Orang Jepang Lebih Memilih Hewan Peliharaan?
Industri hewan peliharaan di Jepang diperkirakan bernilai lebih dari ¥1 triliun (atau sekitar Rp. 100 triliun) per tahun. Dari toko yang menjual hewan, toko makanan dan aksesoris, tempat pemandian air panas bersama hewan, kelas yoga bersama hewan, studio foto khusus hewan, sampai restoran dimana anjing dan kucing boleh makan bersama di meja makan, semuanya tersedia disini.

Anjing-anjing kecil seperti dachshund mini, pudel dan chihuahua sangatlah populer karena kebanyakan orang di Tokyo, salah satu kota yang paling padat penduduknya di dunia, tinggal di apartemen kecil.

Orang Jepang Lebih Memilih Hewan Peliharaan?

Jika di postingan kemarin kita berbicara dari sudut pandang orang kaya, lain lagi cerita dari Jiro Akiba, seorang karyawan swasta biasa.

Dalam apartemennya di pinggiran kota Tokyo, Jiro Akiba sedang memberi makan anjingnya yang bernama Kotaro, sebuah dachshund mini yang beratnya hanya 3,4 kg. Arti nama Kotaro adalah anak sulung. “Dia seperti bayi pertama bagi kami, jadi itu sebabnya kami memutuskan untuk memanggilnya Kotaro,” kata Jiro. “Saya rasa bagus untuk memiliki anjing jika anda tidak punya bayi, karena sangat menyenangkan untuk merawatnya seperti bayi.”

Jiro sangat menginginkan seorang anak, tapi istrinya ingin tetap bekerja. “Dalam masyarakat Jepang, sangat sulit bagi wanita untuk memiliki bayi sekaligus mempertahankan pekerjaan… jadi pacar saya memutuskan untuk tidak memiliki bayi, dan itulah mengapa kami memiliki seekor anjing sebagai gantinya.”

Jiro menambahkan bahwa solusi seperti ini sangatlah masuk akal secara ekonomi, mengingat biaya hidup di Tokyo yang tinggi, pajak yang tinggi dan gaji yang tidak naik-naik. Wajar saja jika banyak pasangan suami-istri yang kemudian lebih memilih anjing atau kucing untuk dipelihara.

Memang, stagnasi ekonomi Jepang telah memukul banyak orang. Lebih dari 10 juta orang berusia antara 20 dan 34 tahun masih tinggal dengan orangtua mereka. Mereka tidak mampu untuk membeli atau mengontrak rumah sendiri, mereka tidak mampu untuk menikah dan memulai sebuah keluarga.

Angka kelahiran di Jepang menurun drastis dalam satu dekade terakhir dan usia rata-rata penduduk Jepang terus mendaki. “Kami menyadari bahwa kami hidup di masa yang berbahaya,” kata wakil direktur Institut Nasional Penelitian Populasi, Ryuichi Kaneko. “Banyak anak muda yang ragu-ragu untuk punya anak sekarang.”

Orang Jepang Lebih Memilih Hewan Peliharaan?

Penduduk Jepang memiliki harapan hidup terpanjang di dunia. Jika ditambah dengan angka kelahiran yang terus merosot tajam, berarti Jepang sedang menyimpan bom waktu. Bayangkan kalau bom ini meledak, maka kita hanya bisa melihat kakek-kakek dan nenek-nenek di mall. Tidak ada anak muda.

Jadi, kenapa orang Jepang lebih memilih hewan peliharaan?

Bagi orang kaya, hewan peliharaan tidak cerewet, tidak merengek, dan tidak menangis-nangis, cocok untuk menjadi teman bermain kapan saja. Bagi orang yang berpenghasilan pas-pasan, hewan tidak terlalu mahal dan tidak ribet untuk dipelihara.

Hewan Peliharaan = Petto / ペット

Prefektur-Prefektur Di Jepang

Kata “prefektur” pertama kali diciptakan oleh bangsa Romawi untuk menamakan sebuah wilayah yang mempunyai pemerintahannya sendiri (seperti pemerintah daerah), kira-kira seperti provinsi yang dipimpin oleh gubernur di Indonesia.

Di Jepang sendiri kata prefektur sebenarnya tidak ada, melainkan Todofuken, yang ditetapkan oleh pemerintahan Meiji pada tahun 1868 dengan sistem haihan-chiken (廃藩置県), sistem yang membagi-bagi pemerintahan daerah menjadi lebih dari 300 prefektur.

Karena jumlah yang besar ini dinilai terlalu ribet, banyak wilayah dimerger (digabung) yang kemudian menjadi 72 pada tahun 1871, lalu dirubah lagi menjadi hanya 47 pada tahun 1888 sampai sekarang.

Prefektur-Prefektur Di Jepang

Lambang-Lambang Prefektur Di Jepang

Prefektur = Todofuken / 都道府県

Bila ada yang meninggal di Jepang

Proses bila ada yang meninggal di Jepang

Hal-hal yang perlu diperhatikan :

Bila meninggal bukan di rumah sakit maka jenazah akan diserahkan ke kepolisian dan polisi akan meneliti penyebab kematian tersebut. Apakah memang meninggal karena sakit atau karena pembunuhan atau yang lainnya. Polisi akan memanggil orang-orang yang terdekat dengan almarhum.

Yang perlu dilakukan :

1. Menghubungi KBRI bidang Konsuler.

Bapak Amir Radjab Harahap Minister Counsellor
Telp : 03-3441-4201 ext. 425, Fax : 03-3447-1697
(Sumber : http://indonesianem bassy.jp/)

Bila ada kematian maka yang bertanggung jawab di KBRI adalah bidang konsuler. Bila ada urusan dengan kepolisian, Bidang Konsuler ini yang menjadi penjamin bahwa jenazah memang WNI. Setiap ada kematian di Jepang dan ditangani oleh kepolisian harus ada orang KBRI yang langsung datang ke kepolisian, karena kepolisian tidak akan melepas jenazah sebelum ada penjaminnya. Bidang Konsuler ini yang akan membantu membuatkan surat-surat yang diperlukan seperti surat untuk mengurus pemulangan jenazah ke Indonesia, surat untuk mengambil jenazah di bagian cargo di Indonesia.
2. Bila jenazah adalah muslim maka perlu menghubungi pengurus
KMII Jepang untuk meminta bantuannya dalam memandikan, mengkafani dan menshalatkannya. Ini untuk warga Tokyo dan sekitarnya. Alternatif lainnya adalah menghubungi mesjid atau pengurus pengajian setempat. Untuk yang diluar kanto atau kansai, bisa dilakukan oleh pengajian setempat tanpa harus memanggil pengurus KMII Jepang/KMII Kansai
3. Menghubungi pemberi beasiswa bila mahasiswa atau kantor bila sudah bekerja.
Perjelas apakah pemberi beasiswa atau kantor memberikan bantuan atau asuransi untuk jenazah. Untuk mahasiswa atau jenazah adalah keluarga dari Mahasiswa sebaiknya menghubungi juga Atase Pendidikan KBRI Tokyo sebagai informasi awal mengenai kematian ini.

Bapak Edison Munaf Atase Pendidikan
03-3441-4201 ext. 240, Fax :03-3447-1697
(Sumber : http://indonesianem bassy.jp/)

4. Bila ingin dibawa pulang ke Indonesia maka perlu menghubungi Perusahaan yang mengurus tentang hal ini. Untuk teman-teman di sekitar Tokyo, biasanya KBRI Tokyo menggunakan jasa Yoshida san.
Hal-hal yang didapat dengan menggunakan Yoshida san adalah :
1) Mereka yang mengambil dari kepolisian dan membawa ke tempat dimandikan, dikafani dan dishalatkan. (Biasanya dilakukan di KBRI)
2) Menyediakan Peti Jenazah yang cukup tebal.
3) Mengurus beacukai di Jepang utk mengeluarkan jenazah dari Jepang.
4) Membawa jenazah ke cargo pesawat garudaBila akan diberangkatkan besok hari dengan Pesawat Garuda maka Jenazah harus sudah masuk Cargo di Narita jam 20:00 hari sebelumnya. Oleh karena itu proses memandikan, mengkafani dan menshalatkan diharapkan dapat seleseai sebelum sore hari.
5) Memberikan bahan pengawet dan juga ice dry Jenazah akan tahan sampai 7 hari.
Bila menggunakan Yoshida san ini, keluarga di Indonesia perlu menyewa Mobil Ambulance untuk mengangkat jenazah dari  bandara ke rumah duka.
5. Menghubungi teman-teman yang meninggal untuk membantu dalam pengurusan jenazah, baik mempersiapkan tempat mandi, mengkafani dan menshalatkan.
6. Menghubungi teman-teman yang meninggal untuk mengumpulkan dana yang akan diberikan kepada keluarga jenazah. Bisa melalui SMS atau milis. Diusahakan untuk mengumpulkan dana sebesar 1 juta yen dalam waktu 1 pekan. Pembayaran kepada Yoshida san bisa dilakukan 2 tahap.
Tahap pertama setengah dari biaya dan sisanya dapat dilakukan setelah jenazah sampai di Indonesia. Hal ini dapat terlaksana bila ada orang atau organisasi yang menjamin akan melunasi uang tersebut. Mengenai pembayaran dan biaya perlu negosiasi dengan Yoshida san.
7. Menghubungi keluarga terdekat dari yang meninggal baik yang berada di Jepang maupun yang ada di Indonesia. Sampaikan hal2 yang perlu dipesiapkan seperti Mobil Ambulance dan informasi kapan jenazah akan tiba di Indonesia.
8. Bila ada keluarga yang ditinggalkan di Jepang dan akan ikut pulang bersama jenazah, perlu dicarikan tiket pulang bagi keluarga yang ditinggalkan di jepang. Keluarga yang ditinggal di Jepang dan akan mengantarkan jenazah ke Indonesia dan berencana akan kembali ke jepang lagi, perlu membuat Re-entry permit. Bila waktu tidak memungkinkan untuk pergi ke Imigrasi, dapat membuat Re-Entry Permit di Bandara dengan alasan darurat.
9. Mengurus hutang piutang seperti kartu kredit dll dan juga hal-hal penting lainnya seperti tabungan di bank, pelunasan peminjaman rumah, pengepakan barang-barang almarhum dan menghubungi pihak keluarga di Indonesia mengenai barang-barang tsb, apakah akan dikirim ke Indonesia atau dihibahkan ke teman-teman di Jepang atau dibuang.
Alternatif lain :
1. Jenazah dikubur di Jepang. Dapat menghubungi teman-teman di Mesjid Otsuka. Kalau melalui Mesjid Otsuka biasanya akan dikubur di pemakanan muslim di Yamanashi. Biaya 320.000. (Info dari teman yang tinggal di dekat Mesjid Otsuka)

2. Pemulangan jenazah tidak memakai jasa Yoshida san tapi dilakukan sendiri seperti teman-teman di Fukuoka 5 tahun yang lalu. Paling mahal hanya memerlukan 300.000 – 400.000.(Info dari teman yang pernah mengurusnya di Fukuoka)

Musim Panas: Saatnya Kembang Api!

Warna-warni kembang api di Tokyo Horserace Fireworks Festival
[foto Mahardian Rahmadi, 2010]

Musim panas di Jepang. Libur semester, pantai, es krim, dan… kembang api.
Omong-omong, apa sih spesialnya kembang api di Jepang?

Berbeda dengan situasi di Indonesia atau negara-negara barat, kembang api di Jepang,atau disebut juga “hanabi”, tidak dinyalakan saat tahun baru, melainkan di waktu musim panas. Ini terkait dengan sejarah festival kembang api tertua di zaman Edo, saat banyak warga Jepang meninggal akibat kelaparan dan kolera.

Pada tanggal 28 Mei 1733, pemerintahan shogun Yoshimune mengadakan peringatan bagi dewa air di sungai Sumida (dahulu Ookawa) untuk mendoakan roh para korban wabah itu dan mengusir penyakit jahat, dan memberikan izin kepada restoran-restoran di dekat jembatan Ryogoku untuk meluncurkan kembang api. Meski tahun 1961 festival ini sempat dihentikan karena alasan polusi sungai, festival kembang api sungai Sumida kembali dilanjutkan tahun 1978 dan berlangsung tiap musim panas hingga sekarang.

Selain dari segi budaya, kembang api Jepang juga berbeda dengan kembang api barat dari segi bentuk. Kembang api barat biasanya berbentuk silinder, sedangkan kembang api Jepang berbentuk bola, tentu saja dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bentuk dan tampilan akhirnya dapat dilihat di gambar berikut.

Kembang api Jepang (atas) dan kembang api barat (bawah)
[dari http://japan-fireworks.com/basics/ekatachi.html%5D

Sesuai dengan ukuran ”ledakan”nya, ukuran selongsong kembang api juga beragam, mulai dari diameter 8,5 cm (nomor 3) yang menghasilkan kembang api berdiameter 60 meter, hingga diameter 88,5 cm (nomor 30) yang bisa menghasilkan kembang api berdiameter 500 meter!

Ukuran selongsong kembang api
[dari http://japan-fireworks.com/basics/size.html%5D

Ini adalah hiburan khas musim panas Jepang, sarana bergaul dengan warga setempat, dan… gratis! Jadi, mengingat jarangnya kesempatan melihat kembang api seperti ini, yuk kita nikmati kembang api di Jepang!

Informasi tambahan:
Jenis kembang api secara umum:

Kehidupan di Jepang

Salah satu gaya hidup yang membuat saya berdecak kagum adalah gaya hidup Jepang. Mengapa saya katakan demikian? Karena memang ini bukan isapan jempol semata. Selain karena dunia sudah banyak yang mengetahuinya, saya sendiri pernah berada di Jepang selama lebih kurang delapan tahun lamanya dan ini sungguh pengalaman yang sangat  luar biasa sekali tentunya.

Kalau saya bandingkan gaya hidup orang Indonesia dan gaya hidup orang Jepang, wahhh…, sungguh teramat jauh sekali perbedaannya. Bagaimana gaya hidup orang Indonesia ? Secara kasat mata, rasanya saya tidak perlu menjelaskan lagi. Tetapi yang jelas dan yang tidak pernah berubah adalah, terlalu santai dan membiarkan banyak waktu terbuang sia-sia. Dan saya tidak pernah bilang itu adalah hal yang buruk. Tergantung bagaimana Anda menyikapinya saja.  Selama Anda menikmatinya yah… kenapa tidak !?

Berbanding terbalik ketika saya melihat gaya hidup Jepang. Dimana waktu begitu sangat berharga bagi orang   Jepang. Saya bisa bilang kalau hidup di Jepang, laksana seperti robot saja. Lho koq…!? Iya, maksudnya adalah karena   orang Jepang  sangat menghargai waktu, sehingga selalunya diisi untuk hal-hal yang bermanfaat. Khususnya bagi para pekerja di sana. Lapangan pekerjaan yang begitu luas, menuntut orang Jepang berlomba-lomba untuk bekerja dan bekerja. Telah tertanam di dalam benak mereka bagaimana pentingnya mencari uang dari sejak dini. Karena hanya dengan uang mereka bisa mendapatkan kesenangan mereka.

Satu hal yang paling unik adalah bagaimana mereka memanfaatkan waktu di sela-sela hari kerja mereka. Biasanya pada malam hari adalah malam yang tepat buat mereka menghabiskan waktu dengan bersenang-senang. Misalnya saja mabuk-mabukan. Tapi hebatnya, keesokan harinya, dengan semangat ke – Jepang – an, mereka tetap melaksanakan kewajiban mereka untuk bekerja. Karena tiap perusahaan di sana memiliki peraturan yang sangat disiplin. Malah pimpinan perusahaan biasanya datang lebih awal daripada pekerjanya. Bagaimana dengan di sini yah…??  hehehe…

Tadi saya katakan bahwa telah tertanam di dalam benak mereka bagaimana pentingnya mencari uang sejak dini, bukan? Orang Jepang itu terkenal juga dengan hematnya menyimpan uang. Para orang tua di Jepang, sangat tidak memanjakan anak-anaknya dengan uang dan segala fasilitas nyaman lainnya. Dan anak-anak Jepang tidak kehabisan akal bagaimana caranya mendapatkan uang. Jadi untuk menyiasatinya yah dengan bekerja part time yang biasanya mereka lakukan di supermarket atau di restoran. Wehh…, luar biasa sekali yah…

Negara Jepang adalah salah satu negara maju di seluruh dunia. Lalu apakah tidak ada orang miskin atau pengemis di Jepang ? Hmmm…, tetap ada. Mereka-mereka itu adalah orang-orang yang malas bekerja atau orang-orang stress akibat korupsi dan segala macamnya. Tidak sedikit juga jumlahnya para koruptor yang mengambil jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya. Karena orang Jepang paling tidak bisa menahan rasa malu akibat ulah buruknya. Mereka tidak suka berhutang uang dan tidak pula suka berhutang budi atas kebaikan orang lain. Secepatnya akan mereka balas kebaikan seseorang dengan kebaikan juga, bisa berbentuk bingkisan dan lain sebagainya kecuali uang.

Bila di Indonesia terbiasa dengan pergaulan saling traktir sesama teman atau sama pacar, di Jepang beda lagi. Mereka terbiasa dengan gaya pergaulan BMM alias bayar masing-masing.

Sebenarnya masih banyak lagi lho hal-hal yang membedakan gaya hidup Jepang dengan gaya hidup kita sehari-hari. Tapi saya khawatir, ntar bacanya malah jadi pegel dan kunang-kunang. Intinya orang Jepang itu tidak suka punya hutang, tidak suka ngobrol di saat jam kerja, bebas berekspresi dalam berbusana dan pergaulan, juga sama sekali tidak bergaya hidup konsumtif. Kalau ada yang mau ditanyakan dan masih penasaran, monggo lho yah mampir di komen saya… :)

Fotografi, Mengintip Budaya Jalan Kaki Orang Jepang

Selain punya kedisiplinan yang tinggi dan budaya ‘gila kerja’, orang Jepang juga patut diacungi jempol karena kesederhanaan meraka. Walaupun negara ini punya perusahaan otomotif kelas dunia semisal Honda dan Toyota, ternyata orang Jepang tidak begitu suka naik kendaraan. Bisanya untuk perjalanan jarak dekat, orang Jepang akan jalan kaki atau naik sepeda. Bahkan berangkat kerja pun mereka biasa naik sepeda hingga stasiun, lalu menitipkan sepedanya di tempat parkir stasiun yang canggih (ada robotnya juga lho), lalu saat pulang mereka akan kembali mengambil sepedanya.

Langsung saja, yuk kita intip kesederhanaan orang Jepang

Seorang Ibu jalan-jalan sambil mendorong kereta bayinya

orang jepangorang jepang

Lihat di belakang si ibu, motor jadul jaman 70?

Bersepeda sambil cuci mata, tapi kok pake masker ya?

sederhanasederhana

Semua orang suka jalan kaki

semua suka jalan kaki
semua suka jalan kaki

Bahkan semua usia

semua usia jalan kakisemua usia jalan kaki

Bahkan yang paling tua sekalipun

Beda ya dengan orang Indonesia. Dikit-dikit pake motor, dikit-dikit pake mobil. Jadinya macet deh.