Momotaro

Momotaro adalah cerita rakyat Jepang yang mengisahkan anak laki-laki super kuat bernama Momotaro yang pergi membasmi raksasa. Diberi nama Momotaro karena ia dilahirkan dari dalam buah persik (momo), sedangkan “Taro” adalah nama yang umum bagi laki-laki di Jepang.
MySpace

Di zaman dulu kala, hiduplah seorang kakek dan nenek yang tidak punya anak. Ketika nenek sedang mencuci di sungai, sebutir buah persik yang besar sekali datang dihanyutkan air dari hulu sungai. Buah persik itu dibawanya pulang ke rumah untuk dimakan bersama kakek. Dipotongnya buah persik itu, tapi dari dalamnya keluar seorang anak laki-laki. Anak itu diberi nama Momotaro, dan dibesarkan kakek dan nenek seperti anak sendiri.

Momotaro tumbuh sebagai anak yang kuat dan mengutarakan niatnya untuk membasmi raksasa. Pada waktu itu memang di desa sering muncul para raksasa yang menyusahkan orang-orang desa. Momotaro berangkat membasmi raksasa dengan membawa bekal kue kibidango. Di tengah perjalanan menuju pulau raksasa, Momotaro secara berturut-turut bertemu dengan anjing, monyet, dan burung pegar. Setelah menerima kue dari Momotaro, anjing, monyet, dan burung pegar mau menjadi pengikutnya.

Di pulau raksasa, Momotaro bertarung melawan raksasa dengan dibantu anjing, monyet, dan burung pegar. Momotaro menang dan pulang membawa harta milik raksasa.

Kucing Pengundang Kebahagiaan

Pada suatu ketika terdapat beberapa orang samurai yang sedang berkuda di kawasan Musashino, wilayah Edo. Serombongan samurai tersebut dipimpin oleh seorang tuan yang bernama Ii Naotaka, penguasa wilayah Hokane. Mereka sedang menikmati pemandangan di sekitar daerah tersebut.

“Pemandangan di kawasan ini agak berbeda dengan Danau Biwa ya?” ujar sang tuan sambil menikmati indahnya alam.

“Benar, tuan. Pemandangan disini hanya terdiri dari hutan belantara belaka. Namun, karena daerah ini juga wilayah kekuasaan kita, kita harus menjaganya dengan baik!” kata salah seorang penasehatnya.

Ketika mereka menghentikan kudanya, tiba-tiba seekor kucing berwarna putih bersih keluar dari balik pepohonan. Hal ini agak mengejutkan mereka. Sang kucing kemudian melompat dan duduk di atas sebuah batu besar. Sejenak rombongan samurai itu berhenti dan memandang tingkah laku kucing itu. Warna bulu kucing yang putih bersih dan bola matanya yang bulat sangat menarik hati. Sang kucing tersebut sambil duduk, terus menatap wajah Naotaka. Naotaka agak terkejut. Apalagi setelah itu sang kucing mengangkat sebelah tangannya seolah-olah memintanya untuk mendekat.

“Hei, lihat! Bukankah kucing itu melambaikan tangannya untukku?” kata Naotaka kepada para pengawalnya.

Sang kucing pun kemudian melompat turun dari batu tempatnya duduk tadi lalu pergi ke balik pepohonan di belakangnya.

“Mari, kita mengikuti kucing itu. Bukannya dia telah mengundang kita untuk datang?” kata Naotaka seraya turun dari kudanya.

Lalu, para pengawalnya pun mengikuti sang tuan. Mereka menambatkan tali kudanya di pepohonan, kemudian berjalan di belakang sang tuan. Ternyata kucing itu pergi menuju sebuah kuil Budha tua yang tersembunyi di balik pepohonan.

“Oh, mungkin kucing itu mengundang kita untuk mampir di kuil tua itu. Mungkin dia akan menghidangkan teh hangat untuk kita” kata Naotaka berkelakar.

“Permisi… apakah ada orang disini?” teriak Naotaka sesampainya di depan kuil tua itu.

Beberapa saat kemudian muncullah seorang pendeta tua dan mempersilakan mereka masuk ke dalam kuil.

“Apakah yang menyebabkan tuan-tuan sudi mampir ke kuil tua kami ini?” tanya sang pendeta.

“Seekor kucing putih di luar itu yang telah mengundang kami kesini” kata Naotaka menjelaskan.

“Seekor kucing?” tanya sang pendeta keheranan.

“Ya benar. Ia melambaikan tangannya mengundang kami untuk datang ke kuil ini” kata penasehat Naotaka menjelaskan.

“Oh, begitu ya? Kalau begitu, mari kita minum teh dahulu” kata sang pendeta.

Beberapa saat lamanya pendeta dan Naotaka bercakap-cakap, tiba-tiba kucing yang tadi mengundangnya datang dan melompat ke serambi depan kuil. Kepalanya didongakkan ke atas. Matanya berkedip-kedip ketika memandang ke angkasa. Semua orang yang hadir disitu keheranan. Namun beberapa saat kemudian awan hitam menyelubungi langit dan turunlah hujan dengan lebatnya. Mereka keheranan melihat itu semua. Akhirnya mereka sadar bahwa kucing putih itulah yang memberikan peringatan bagi mereka agar mampir untuk berteduh di kuil tua tersebut.

“Bukan main hebatnya kucing putih ini! Kucing ini telah menyelamatkan kita dari hujan yang lebat. Kucing ini adalah kucing pengundang kebahagiaan!” kata Naotaka dengan gembira.

Sejak saat itu ketenaran kucing putih meluas di seluruh Edo. Masyarakat pun akhirnya sering mengunjungi kuil tua itu untuk bertemu dengan sang kucing. Mereka menganggap kucing tersebut adalah penjelmaan dari dewa. Beberapa tahun kemudian, sang kucing pun akhirnya mati. Untuk mengenangnya, sang pendeta membuat patung kuicing kecil dengan salah satu tangannya melambai ke atas. Patung kucing tersebut sangat diminati masyarakat Edo. Mereka sering mampir ke kuil tersebut dan membeli patung kucing tersebut sebagai oleh-oleh. Dan sampai saat ini pun orang-orang Jepang sering memajang patung kucing kecil dengan sebelah tangan yang melambai untuk mengundang kebahagiaan dan keberuntungan.

—————————————————————————————————————————

Judul asli: Shiawase no maneita neko (Kucing pengundang kebahagiaan) berasal dari prefektur Tokyo. Patung kucing dengan kaki kanan melambai seperti dalam cerita ini dibuat di seluruh Jepang. Patung kucing itu disebut Maneki-Neko (Kucing Pengundang). Biasanya diletakkan di depan rumah atau tempat-tempat usaha bisnis untuk mengundang tamu agar mau singgah.

Jejak Kaki yang Tertutup Salju

Kisah ini terjadi pada saat musim dingin telah tiba. Saat itu salju tipis turun di sore hari. Seorang pendeta Budha yang sedang dalam perjalanan hendak singgah ke sebuah desa yang sangat miskin. Setiap rumah telah diketuknya untuk meminta kesediaan mereka mengijinkan dirinya tinggal barang semalam saja di rumah mereka. Namun tak satu pun rumah mau membuka pintu untuk sang pendeta. Akhirnya sampailah sang pendeta di sebuah rumah yang kelihatannya paling miskin di dekat jembatan. Ternyata penghuninya adalah seorang nenek.

“Silakan masuk ke dalam. Rumah ini sangat kecil dan tidak ada apa-apa di dalamnya. Tetapi kalau hanya menginap semalam saja, silakan!” kata nenek.

Rumah nenek benar-benar kecil dan hampir-hampir tidak ada perabotan sedikit pun. Saat itu, nenek juga tidak mempunyai makanan sedikit pun. Di tungku perapian juga tidak ada kayu dan api setitik pun. Sang pendeta pun masuk rumah sang nenek dan segera duduk di perapian yang tidak ada apinya itu.

Di luar benar-benar sangat dingin. Salju pun masih turun walaupun tidak begitu besar. Melihat sang pendeta yang diam bersemedi di hadapan perapian itu, sang nenek pun jadi merasa salah tingkah. Ia sudah tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan pada sang pendeta. Dalam kebingungannya, nenek pun pergi keluar menuju sebuah lumbung padi milik tetangganya yang kaya. Diambilnya beberapa batang padi lalu pergi ke kebun untuk mengambil beberapa batang lobak. Sejenak nenek berpikir bahwa ia telah meninggalkan jejak kaki di atas salju. Mungkin keesokan harinya perbuatannya akan ketahuan juga oleh pemilik lumbung dan kebun lobak itu. Namun, biarlah apa yang terjadi besok akan ia hadapi besok saja. Ia sangat kasihan melihat sang pendeta yang nampaknya letih karena telah berjalan jauh. Sang nenek pun kemudian pergi ke dalam hutan untuk memotong beberapa ranting dan dahan pohon kering. Setelah itu ia pulang kembali ke rumahnya.

Segera sang nenek menyalakan api di perapian lalu menumbuk padi itu hingga menjadi beras, memotong lobak lalu memasaknya hingga menjadi nasi dan sup yang lezat. Beberapa saat kemudian nenek sudah dapat menghidangkan masakan tersebut.

“Silakan makan. Tentunya pendeta juga sudah lapar kan?” kata nenek membangunkan sang pendeta dari bertapanya. Sang pendeta pun akhirnya makan hidangan nenek itu dengan nikmatnya.

“Terima kasih, nek. Sepertinya malam ini akan turun hujan salju yang lebat” kata sang pendeta sambil mengakhiri santap malamnya. Setelah itu baik nenek maupun sang pendeta pun tertidur.

Keesokan harinya, sebelum pergi meneruskan perjalanannya sang pendeta berkata,

“Semoga mulai hari ini berkat dari sang Budha selalu melimpahi kehidupanmu, nek!” dan pendeta pun pergi melanjutkan perjalanannya.

Ternyata semalam benar-benar turun salju dengan lebatnya. Jejak kaki nenek di kebun dan lumbung tetangganya pun sudah hilang tertutup oleh salju. Dan sejak saat itu kehidupan sang nenek yang baik hati itu pun benar-benar penuh dengan berkah. Ia tidak pernah lagi kekurangan makanan. Dan ia pun tetap selalu mau menolong orang yang sedang kesusahan. Sang pendeta Budha yang telah mengunjungi rumah sang nenek itu sesungguhnya adalah seorang pendeta besar Budha di Jepang.

—————————————————————————————————————————-

Nah… Menurut Anda, pesan moral apakah yang ingin disampaikan dari cerita di atas? Silakan tulis pendapat Anda di bagian Komentar.

 

Judul asli: Ato-kakushi no yuki (Jejak kaki yang tertutup salju) berasal dari Prefektur Hiroshima.

Istri Salju

Dahulu kala terdapatlah seorang pemuda yang hidup seorang diri. Pemuda itu tinggal di suatu daerah yang terkenal banyak sekali turun saljunya. Suatu hari, ia sedang bekerja membuat sandal jerami di dalam rumahnya. Saat itu salju sedang turun dengan lebatnya. Melihat hal tersebut, tiba-tiba sang pemuda berkata, “Ah, alangkah bahagianya bila aku bisa mendapatkan seorang istri yang cantik jelita dan berkulit putih seperti salju itu!” Setelah itu ia pun kembali bekerja di dalam rumahnya.

Malam harinya, ketika ia sedang tertidur, tiba-tiba dari arah pintu depan terdengar suara ketukan.

“Siapa gerangan yang datang pada malam-malam begini?” kata sang pemuda dalam hati.

Ketika dibukanya pintu depan rumahnya, ia sangat terkejut karena yang datang adalah seorang gadis berkulit putih yang sangat cantik jelita. Sang gadis itu berkata, “Jadikanlah aku istrimu!”

Mendengar hal itu ia hampir tidak dapat percaya pada apa yang dilihat dan didengarnya. Baru siang tadi ia berharap untuk mendapatkan seorang istri yang cantik jelita dan berkulit putih laksana salju, dan kini dihadapannya berdiri seorang gadis yang cantik seperti harapannya. Karena sang pemuda hanya diam dan tak kunjung menjawab, sang gadis pun berkata,

“Apakah engkau tidak menyukai aku?” tanyanya lirih.

“Oh, tidak! Aku sangat suka kepadamu, tapi masuklah dahulu” jawab sang pemuda dengan gugup. Maka sejak saat itu sang pemuda pun mendapatkan seorang istri sesuai dengan harapannya.

Istrinya tersebut sangat rajin bekerja. Sang suami sangat bahagia karenanya. Namun, ada suatu keanehan dari istrinya tersebut. Sang istri tidak pernah mau mandi. Beberapa kali sang suami meminta agar istrinya mandi, dengan halus ditolak oleh sang istri tersebut. Akhirnya sang suami meminta tolong pada seorang pelayan wanita agar mengantarkan sang istri untuk mandi dalam bak air hangat. Perlahan-lahan dilepaskannya baju dan semua hiasan rambut sang istri, lalu dimintanya untuk masuk ke dalam bak air hangat. Setelah itu ditinggalkannya ia sendirian agar dapat berendam dalam bak dengan santai. Tetapi keanehan kembali terjadi. Lama sekali sang istri tidak juga keluar dari dalam kamar mandi. Beberapa kali sang suami memanggilnya dari luar tetapi tak juga kunjung ada jawaban dari istrinya. Akhirnya dibukalah kamar mandi itu tetapi ia hanya bisa menemukan pakaian dan beberapa perhiasan sang istri saja. Sedangkan sang istri hilang entah kemana.

——————————————————————————–

Judul asli: Yuki Nyobo (Istri Salju) berasal dari Nagano.

Api Tahun Baru

Pada zaman dahulu kala di sebuah rumah kecil di sebuah desa hiduplah seorang ibu mertua dan menantu perempuannya. Menantunya tersebut adalah seorang perempuan yang rajin bekerja dan selalu mematuhi perkataan sang ibu mertua.

Suatu malam menjelang tahun baru, ibu mertua berpesan kepada menantunya agar menjaga api di tungku agar tetap menyala sepanjang tahun baru. Setelah itu, ibu mertua pergi tidur lebih dulu. Menjelang tengah malam, menantunya yang berbaring di dekat tungku perapian terbangun. Ia mendapati api di tungku telah padam. Ia menjadi gugup, lalu segera pergi ke gudang untuk mengambil kayu bakar. Namun, ternyata di gudang juga tidak terdapat kayu bakar lagi. Saat itu adalah musim dingin. Suhu udara di luar rumah sangat dingin. Namun karena ia harus segera mendapatkan kayu bakar dan api, maka ia pun segera pergi ke luar rumah untuk mencari ranting dan dahan kayu kering.

Ia menyusuri sungai di dekat rumahnya untuk mengumpulkan kayu bakar. Setelah terkumpul banyak, ia kini kebingungan dimana mencari api. Di sekitar rumahnya tidak ada rumah penduduk lainnya. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan menyusuri sungai tersebut. Mungkin ia akan bertemu dengan orang yang bisa memberinya api. Beberapa saat setelah ia berjalan, ia melihat suatu titik api di dekat jembatan yang melintasi sungai. Dengan penuh harap ia meneruskan langkahnya menuju titik api tersebut. Setelah dekat dengan asal titik api tersebut, ia melihat kurang lebih enam orang tua yang sedang duduk mengelilingi api unggun. Ia pun memberanikan diri menyapa mereka.

“Selamat malam!” sapa sang menantu.

“Selamat malam!” balas mereka.

“Maaf, bolehkah saya meminta api untuk menyalakan kayu di tungku perapian rumah kami?”

“Boleh saja. Silakan ambil sebanyak kau perlukan”

“Terima kasih sekali!”

“Tapi sebenarnya kami juga ingin minta tolong”

“Apa yang bisa saya bantu? Silakan katakan saja”

“Ehm… sebenarnya, salah seorang teman kami baru saja meninggal. Malam-malam begini kami kesulitan mencari kuil untuk menguburkannya. Maukah anda membawanya pulang? Besok pagi kami akan mengambilnya kembali”

“Oh… saya turut berduka cita…” kata sang menantu dengan sedih. Karena merasa sudah dibantu mendapatkan api, maka ia pun menyanggupi permintaan mereka. Akhirnya dengan menyeret tubuh orang yang sudah meninggal itu ia pun segera pulang. Sesampainya di rumah ia segera menuju gudang dan meletakkan bungkusan tubuh orang yang meninggal itu di gudang. Agar tidak ketahuan ibu mertuanya, maka ia meletakkan tumpukan jerami di atasnya. Kemudian ia segera ke tungku perapian di rumah dan menyalakan kembali apinya.

Keesokan harinya adalah tahun baru. Sang menantu dan ibu mertuanya sibuk menyiapkan masakan tahun baru. Mereka akan memasak berbagai masakan lezat untuk menyambut tahun baru. Saat itu sang menantu kebetulan pergi ke sungai untuk mengambil air, sedangkan sang ibu mertua memasak di dapur. Namun, ketika kayu di perapian mulai habis, ia segera pergi ke gudang hendak mengambil kayu bakar. Saat ia hendak mengambil kayu bakar dan sedikit jerami untuk menambah besar api di tungku ia melihat tumpukan jerami yang aneh. Ketika ia mencoba membuka tumpukan jerami itu, tiba-tiba ia sangat terkejut. Ternyata dari dalam tumpukan tersebut tersimpan banyak sekali kepingan emas. Ibu mertua sangat terkejut dan bercampur senang. Ia lalu memanggil menantunya untuk menanyakan hal tersebut.

Sang menantu pun menceritakan kejadian malam tahun baru saat ia bertemu dengan enam orang tua tersebut. Ternyata enam orang tua dan satu orang temannya yang telah meninggal itu adalah ke-7 Dewa Keberuntungan yang selalu datang ke bumi saat menjelang tahun baru. Mereka pun lalu memanjatkan rasa syukur kepada para dewa di langit.

——————————————————————————–

Judul asli: Ootoshi no Hi (Api Tahun Baru) yang berasal dari Prefektur Kyoto. Dalam kebudayaan Asia Timur, termasuk Jepang, Tujuh Dewa Keberuntungan ini selalu diharapkan kedatangannya saat tahun baru.

Pohon Tsubaki Berusia 88000 Tahun

Pada zaman dahulu kala, seorang dewa yang menguasai wilayah Kazusa, Shimousa dan wilayah sekitarnya (sekarang Prefektur Chiba), menanam sebutir benih pohon tsubaki. Benih itu kecil sekali, hingga kalau saja ada angin berhembus, meski tak kencang, pasti akan terbawa terbang. Karena tumbuh di daerah yang subur, maka benih tersebut tumbuh menjadi tunas dan lambat laun menjadi sebuah pohon yang besar.

Singkat cerita, selama 88000 tahun pohon tsubaki tersebut tumbuh menjadi pohon yang tinggi dan besar. Karena begitu tingginya, ujung pohon tersebut sampai menembus awan dan hampir-hampir mencapai langit. Cabang dan daun-daun pohon yang lebat tersebut memanjang hingga mencapai kira-kira tiga buah desa. Ketika bunga-bunga tsubaki yang berwarna merah itu bermekaran, langit di atasnya pun berubah menjadi merah. Sebaliknya, saat bunga-bunga tersebut berguguran ke bumi, warna bumi pun menjadi merah. Namun demikian, penduduk yang tinggal di sekitar pohon tsubaki tersebut bersyukur karena tanah pertaniannya selalu subur. Mereka hidup dengan tentram dan sentosa.

Sampai pada suatu hari, entah dari mana asalnya dan sejak kapan datangnya, tiba-tba saja di atas pohon tersebut telah tinggal seorang raksasa yang jahat. Keberadaan raksasa jahat tersebut membuat penduduk ketakutan. Jika malam tiba, suara tawa raksasa yang menyeramkan tersebut membahana, terbawa oleh hembusan angin hingga berpuluh-puluh kilometer. Mendengarkan suaranya saja anak-anak kecil akan menangis ketakutan dan burung-burung yang sedang bertengger di atas pohon akan menjadi kaku dan jatuh ke tanah. Gerakannya saja bisa membuat angin kencang yang siap memporak-porandakan atap rumah para penduduk. Bau nafasnya bisa membuat tanaman layu dan mati. Binatang ternak dan bahkan manusia sekalipun bisa dibuatnya pingsan. Keberadaan raksasa jahat itu telah membuat penduduk desa sangat ketakutan dan tidak berani keluar rumah. Akibatnya banyak lahan pertanian yang terbengkelai dan binatang ternak tidak mendapatkan makanan yang cukup.

Kejadian ini membuat dewa-dewa di kerajaan langit sedih dan marah. Mereka akhirnya mengutus puluhan ribu bala tentara untuk mengusir raksasa jahat tersebut. Bala tentara tersebut diperintahkan untuk mengepung pohon tsubaki tersebut dari bawah. Mereka berteriak ramai-ramai sambil mengacung-acungkan tombak maupun pedangnya. Beberapa pasukan panah juga telah melepaskan anak panahnya ke atas pohon. Tentu saja hal ini membuat sang raksasa terkejut bukan kepalang. Melihat dirinya sudah dikepung dari seluruh penjuru mata angin, ia jadi marah. Ia lalu menggoyang-goyangkan pohon itu dari atas.

Goyangan pohon yang keras tersebut menimbulkan bunyi gemuruh dan gempa yang dahsyat di atas tanah. Para prajurit pun lari tunggang langgang dibuatnya. Namun, bukan itu saja yang dilakukan oleh sang raksasa. Ia kemudian melompat turun ke tanah hingga menimbulkan bunyi bedebam yang luar biasa kerasnya. Bumm! Ia lalu memeluk batang pohon tsubaki yang besar tersebut. Dengan sekuat tenaga ia lalu mencabut pohon tersebut dan melemparkannya ke arah laut. Ketika pohon tersebut tercebur ke laut, percikan air laut naik sangat tinggi dan jatuh kembali seperti air terjun yang deras, sebagian percikan tersebut jatuh kembali ke laut dan sebagian lagi membanjiri ketiga desa tempat asal pohon tsubaki tersebut. Sang raksasa lalu melompat ke atas batang pohon yang mengambang di laut itu dan pergi entah kemana.

Sementara itu banjir besar yang melanda tiga desa itu akhirnya surut. Airnya tertampung di lubang bekas tercabutnya pohon tsubaki hingga membentuk sebuah danau yang lebar. Sang raksasa yang pergi itu tidak pernah kembali lagi, dan kehidupan desa tersebut berangsur-angsur tenang kembali. Oleh penduduk desa, danau baru tersebut diberi nama Danau Tsubaki.

Beribu-ribu tahun setelah kejadian itu, tepatnya ketika Zaman Edo, datanglah seorang saudagar yang bernama Shiraishi Jiroemon. Saudagar itu ingin membuka lahan pertanian di daerah tersebut. Namun, karena ada danau yang luas, maka ia memerintahkan para pekerjanya untuk menguras danau tersebut dan membuangnya ke laut. Daerah bekas danau tersebut akhirnya kering dan mulailah dibuka lahan pertanian yang luas. Daerah tersebut kini bernama Higata. Karena kesuburan tanahnya, daerah Higata banyak ditumbuhi pohon tsubaki. Saat musim semi tiba, daerah tersebut berubah menjadi merah laksana bunga pohon tsubaki yang berusia 88000 tahun.

——————————————————————————–

Judul asli: Hachiman Hassen no Tsubaki yang berasal dari Prefektur Chiba.

Kaguya Hime

Konon pada zaman dahulu kala hiduplah seorang kakek dan nenek yang miskin. Mereka hanya hidup berdua dan tidak mempunyai seorang anak pun. Pekerjaan sehari-hari mereka adalah membuat keranjang dari bambu. Karena itu hampir setiap hari kakek pergi ke hutan untuk memotong beberapa batang bambu. Bambu itu kemudian dibelah untuk dijadikan bahan pembuat keranjang.

Kaguya-hime

Suatu hari sang kakek sedang pergi ke hutan bambu untuk memotong bambu. Saat ia memilih-milih bambu, tiba-tiba ia melihat sebatang pohon bambu yang bersinar keemasan. Pohon bambu tersebut seakan-akan meminta kakek agar segera menebangnya. Kakek pun memotong pohon bambu itu. Betapa terkejut hatinya setelah memotong sebuah bambu karena dari dalamnya muncul sinar keemasan. “Apa ini ya?” tanya kakek dalam hati. Lalu didekatinya batang bambu yang mengeluarkan sinar keemasan itu. Ternyata dari dalam batang bambu tersebut terdapat seorang bayi perempuan yang mungil. Dengan gembira kakek membawa bayi itu pulang ke rumah. Kakek dan nenek merawat bayi perempuan itu dengan penuh kasih sayang. Mereka menamakannya Kaguya.

Sejak saat itu setiap kali kakek ke hutan untuk memotong bambu, ia selalu menemukan sebatang pohon bambu yang bersinar keemasan. Setelah dipotongnya ternyata batang bambu tersebut berisi uang emas. Dengan uang emas itu mereka tidak perlu lagi bekerja keras. Mereka hidup berkecukupan dalam membesarkan putri mereka.

Kaguya tumbuh menjadi seorang putri yang sangat cantik jelita. Rambutnya hitam bersinar, kulitnya kuning keemasan, dan wajahnya pun seakan-akan mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata. Berita tentang kecantikannya tersiar ke seluruh penjuru negeri. Setiap hari datang berbagai macam pria yang ingin meminangnya. Tetapi sang putri selalu menolaknya. Suatu hari datanglah lima orang yang ingin meminang sang putri. Sang putri memberikan lima buah syarat yang sangat berat kepada mereka.

Pria pertama bertugas mencarikan mangkuk asli sang Budha yang dapat mengeluarkan cahaya kemilauan. Pria kedua bertugas mencarikan bunga Azaela emas dan perak seperti dalam legenda. Pria ketiga bertugas mencarikan tikus api dari China. Pria keempat bertugas mencarikan permata naga yang berwarna-warni. Sedangkan pria kelima bertugas mencarikan kerang laut burung walet.

Namun setelah ditunggu beberapa waktu lamanya, kelima pria itu datang dengan membawa benda-benda palsu semua. Pria pertama membawa mangkuk biasa yang tidak mengeluarkan sinar sama sekali. Pria kedua datang dengan membawa tanaman bunga Azaela dengan sepuhan emas dan perak. Pria ketiga membawakan tikus-tikus yang bulunya diwarna dengan pewarna merah. Pria keempat membawakan batu permata biasa. Sedangkan pria kelima juga hanya membawakan kerang yang ia temukan di pantai. Akhirnya kelima pria itu tidak satupun yang berhasil meminang sang putri. Mereka pulang ke negerinya masing-masing dengan kecewa.

Suatu hari di musim gugur, dengan mata berkaca-kaca sang putri menatap cahaya bulan di langit.

“Putriku, apa yang sedang kau pikirkan?” tanya kakek dan nenek dengan khawatir.

“Kakek, Nenek, saat ini saya sedang sedih. Saya sebenarnya berasal dari negeri Bulan. Tanggal 15 bulan ini saya akan dijemput untuk kembali pulang ke negeri saya” kata sang putri dengan berlinang air mata.

Mendengar penjelasan sang putri, betapa sedih hati kakek dan nenek. Mereka tidak ingin kehilangan putrinya. Maka mereka melaporkan kepada penguasa daerah setempat agar mengirimkan pasukannya untuk menjaga sang putri.

Akhirnya, pada tanggal 15, ketika bulan sedang bersinar dengan terang, rumah sang putri dijaga oleh berpuluh-puluh samurai yang bersenjatakan panah dan tombak. Mereka berdiri di atap rumah dan sekeliling rumah sang putri. Ketika tepat tengah malam, tiba-tiba dari arah bulan purnama muncullah sebuah kereta yang bersinar terang. Saat pasukan panah sedang bersiap-siap mengarahkan anak panahnya ke atas, tiba-tiba cahaya menyilaukan terpancar dari kereta tersebut. Mata para samurai tidak bisa melihat dengan jelas. Pada saat itu seorang putri dari kereta tersebut turun dan menjemput Putri Kaguya dari dalam rumah.

Sebelum meninggalkan kakek dan neneknya, sang putri berpesan, “Kakek, Nenek! Jagalah kesehatan kalian. Terima kasih banyak atas kasih sayang kalian selama ini. Aku akan selalu merindukan kalian. Selamat tinggal!”

Putri Kaguya pun akhirnya terbang ke angkasa tanpa dapat dihalangi lagi. Kakek dan nenek sangat sedih melihat putri mereka satu-satunya meninggalkannya.

——————————————————————————–

Judul asli: Kaguya-hime (Putri Kaguya) yang kemungkinan berasal dari Prefektur Shizuoka. Cerita ini sebenarnya sudah ada sejak Zaman Heian, yang ditulis dalam Taketori Monogatari (Kisah Penebang Bambu). Kisah ini sangat terkenal di Jepang dan banyak disukai anak-anak maupun orang dewasa.