Pelayanan Kesehatan di Jepang

Secara keseluruhan di Jepang pelayanan kesehatan sangat baik, namun demikian janganlah kaget bila si pasien harus membayar kepada rumah sakit yang melayani kesehatan itu dengan sangat mahal. Hal ini tentunya apabila si pasien tidak mempunyai asuransi, Untuk mengurangi beban pembayaran kesehatan yang sangat mahal itu, di Jepang tiap anggota keluarga sangat dianjurkan untuk masuk asuransi. Pemerintah akan menjamin sepenuhnya bila si pasien sakit tetapi mempunyai asuransi, untuk dilayani dengan sebaik-baiknya di rumah sakit tanpa si pasien harus memikirkan pembayaran yang sangat mahal.

Demikian pula bagi mahasiswa asing untuk masuk asuransi ini sangat dianjurkan terutama untuk mahasiswa yang membawa keluarga. Untuk mahasiswa asing ini meskipun telah memperoleh asuransi dari Monbukagakusho sebaiknya yang bersangkutan masuk lagi ke dalam asuransi yang lain seperti misalnya Asuransi Penduduk (Kokumin Hoken).

Asuransi dari Monbukagakusho hanya berlaku bagi yang belajar saja, tidak termasuk untuk keluarga. Untuk pembayaran kokumin hoken di kota memang jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan di daerah. Sebagai contoh, pembayaran kokumin hoken bagi mereka yang tinggal di kota Kyoto adalah sekitar ¥ 40.000 per tahun per orang, sedangkan di daerah hanya sekitar ¥ 24.000 per tahun per keluarga. Jumlah keluarga yang diasuransikan di sini adalah untuk kepala keluarga, istri ditambah maksimum dua orang anak. Pembayaran asuransi ini dilakukan dengan dicicil setiap dua bulan.

Keuntungan Mempunyai “Kokumin Hoken”.

Asuransi dari Monbukagakusho meskipun bisa di klaim tetapi uang penggantinya, sebanyak lebih kurang 80% akan diberikan setelah 1-2 bulan kemudian. Hal ini membawa konsekuensi terhadap para mahasiswa bahwa untuk setiap berobat harus membayar dulu dari uang sendiri. Padahal sekali berobat di Jepang, untuk penyakit flu saja misalnya, tidak kurang dari ¥ 10.000 sedangkan kalau mempunyai kokumin hoken hanya membayar sekitar ¥ 1.000. Uang pembayaran untuk berobat berdasarkan kokumin hoken ini bisa diklaim kembali kepada asuransi dari Monbukagakusho. Dengan demikian dari yang seharusnya membayar ¥ 10.000 pada akhir si mahasiswa secara riil hanya membayar ¥ 200. Penggantian biaya pengobatan bagi mahasiswa asing diberikan apabila mereka mengikuti National Health Insurance dan telah mendaftarkan diri ke AIEJ melalui bagian mahasiswa asing di perguruan tinggi masing-masing.

Hal-hal yang tidak dapat diklaim dalam Sistem Asuransi di
Jepang.

Di negara yang sudah maju, termasuk, termasuk Jepang, tidak semua pembayaran untuk berobat dapat diklaim kepada Asuransi. Seperti misalnya biaya untuk berobat pada waktu hamil, berobat untuk keperluan kecantikan, mengganti dua gigi yang paling depan (gigi seri), dan frame untuk kacamata jangan sekali-kali diklaim asuransi.

Pencegahan Penyakit.

Para mahasiswa yang belajar di luar negeri tentunya mempunyai tujuan untuk memperdalam ilmu di bidang keahliannya. Karena mempunyai tujuan ini maka para mahasiswa perlu melakukan pencegahan penyakit secara dini sebab bila sekali terkena penyakit berat sudah barang tentu akan mengganggu di dalam program studinya. Dari pengalaman mahasiswa Jepang sendiri, salah satu pencegahan terhadap penyakit ini dilakukan berdasarkan disiplin terhadap waktu makan. Pada umumnya orang Jepang berpendapat bahwa makan itu jangan karena lapar tetapi karena suatu keharusan. Jadi disiplin terhadap waktu makan harus tetap dipertahankan. Seperti diketahui di negara-negara sub tropis yang mempunyai 4 musim. Adanya perubahan iklim ini sering mengakibatkan para mahasiswa dari daerah tropis beserta keluarganya mengalami stress, dan tidak jarang di antara anggota keluarga mahasiswa tersebut ada yang sampai mengalami sakit cukup berat. Keadaan ini sebenarnya bisa diatasi bila makan dari makanan yang cukup bergizi secara terus diusahakan.

Iklan

Masakan Jepang Untuk Kesehatan


Jakarta – Masakan Jepang memang sudah populer di berbagai negara. Selain terkenal memakai bahan segar juga mempunyai cita rasa alami. Tak hanya itu bahan-bahan yang dipakai untuk memasak ternyata memiliki khasiat bagi kesehatan sejak ratusan tahun silam. Semuanya diungkap tuntas di buku yang satu ini!MySpace

Masakan Jepang memang sudah cukup terkenal sejak lama karena mengutamakan kesegaran bahan dan juga rempah-rempah pilihan yang banyak manfaatnya untuk kesehatan. Tidak hanya itu, beberapa jenis masakan masih diproses dengan cara tradisional sehingga cukup aman dari bahan-bahan tambahan yang berbahaya bagi kesehatan.

Di dalam buku Japanese Foods That Heal ini, diungkap secara rinci aneka bahan makanan yang dipakai sejak ratusan tahun silam oleh bangsa Jepang. Tak sekedar nama dan ciri-cirinya tetapi juga khasiat hebatnya bagi kesehatan.

Mulai dari miso, shoyu, jamur shiitake, mochi, tofu, mirin hingga teh Jepang. Ada juga penjelasan mengenai bahan yang masih asing di telinga kita. Sebut saja Kuzu, salah satu jenis akar-akaran seperti ginseng yang sangat baik dikonsumsi oleh para pria karena bisa membangkitkan stamina.

Disini juga dijelaskan kalau salah satu sup Jepang yang cukup terkenal, Miso, yang banyak manfaatnya bagi kesehatan. Seperti untuk mengurangi alergi, meningkatkan libido, mengurangi tekanan darah tinggi, osteoporosis dan masih banyak lagi. Bahkan bakteri baik yang terdapat didalamnya saat proses pembuatan mampu membunuh bakteri yang bersifat jahat.

Tiap cerita tentang bahan diikuti dengan resep-resep yang dibuat secara klasik dan tradisional. Setiap resep yang disajikan dalam buku ini cukup jelas dan diberikan beberapa penjelasan singkat tentang khasiat dan keunikan dari masakan tersebut. Cara membuatnya pun dijelaskan secara jelas dan mudah dimengerti bahkan untuk pemula sekalipun. Seperti Samurai Miso Soup, Creamy Curried Carrot Soup, atau Kyoto-Style Miso Soup yang mampu memulihkan tubuh yang sedang tak bersemangat.

Buku setebal 224 halaman yang ditulis oleh John & Jan Belleme ini disisipkan juga beberapa cerita tentang cara-cara pembuatan bahan-bahan yang sering digunakan dalam masakan Jepang seprti Brown Rice Syrup Melt, Umeboshi, atau acar Jepang, Amazake, dan juga Mi Jepang. Meskipun semua bahan-bahan tersebut sudah dapat dijumpai di supermarket, buku ini juga memberikan beberapa tips cara memilih bahan yang sudah jadi itu secara tepat.

Setiap uraian bahan dalam bab buku ini dilengkapi dengan penjelasan mengenai manfaat bahan buat kesehatan, bagaimana bahan dibuat secara tradisional, tips membeli bahan, cara memasak bahan plus resep-resepnya. Dengan demikian dijamin Anda tak bakal tersesat dalam memahami informasinya.

Bukan hanya ketrampilan memasak yang akan diasah tetapi juga pengetahuan bahan makanan Jepang terutama yang berkaitan dengan kesehatan juga didapat. Dengan pengantar lengkap tentang ‘Food is Medicine’ Anda bakal diajarkan memahami makanan sebagai obat. Jadi tak sekedar belanja bahan dan memasaknya serta rasanya enak. Makanan kembali diletakkan pada fungsi awalnya untuk menjaga kesehatan. Kalau Anda tergolong orang yang sangat teliti dalam menjaga kesehatan, buku ini layak anda miliki!

Apa Hubungan Kopi Dengan Kanker?

“Satu cangkir kopi sehari bisa mengurangi dampak kemungkinan terkena penyakit kanker mulut.”

Itu adalah hasil penelitian tim kedokteran dari universitas Tohoku yang diketuai Toru Naganuma yang melibatkan lebih dari 50,000 orang dalam kurun waktu 11 tahun meneliti kanker mulut dan oesophagus (semacam rongga yang menghubungkan tenggorokan dengan perut).

Selain kanker mulut, kopi juga bisa mengurangi dampak kemungkinan terkena penyakit diabetes, sakit jantung, parkinson, dll.

kopi jepang

Lalu apa penyebab utama kanker?

Rokok dan alkohol.

Dimana-mana, rokok dan alkohol selalu gak ada untungnya buat kesehatan kita.

Tapi kalo kamu pencinta kopi, jangan seneng dulu. Liat dulu kopi apa yang kamu minum; kalo kopi murahan ya percuma. Keseringan minum kopi-pun (4-5 kali sehari) bisa mengakibatkan penyakit lain seperti sakit lambung, sakit kepala, insomnia, dll.

Jadi intinya, minum aja secukupnya.

Kopi = Kouhii / コーヒー

Salah Paham Dokter Dengan Pasien Bisa Fatal

Untungnya belum ada kematian gara-gara miskomunikasi antara dokter dengan pasiennya. Ya… paling tidak belum ada yang ketahuan.

Tapi kalo soal kasus yang ringan-ringan seperti salah minum obat, salah diagnosis, dll, udah lumayan sering terjadi di rumah sakit Jepang kalo pasiennya adalah orang asing.

Bahasa yang berbeda memang telah lama menjadi kendala di Jepang, terutama di sektor kesehatan. Tapi untungnya sekarang ada pelayanan penterjemah medis di Jepang.

 

Para penterjemah ini akan membantu sang pasien untuk berkomunikasi dengan dokternya seperti yang dilakukan Mieko Shikayama yang menterjemahkan bahasa Jepang ke bahasa Portugis untuk Lidjane Shimabukuro, warga Brazil yang menetap di Izumisano, Osaka.

Sekarang pelayanan ini hanya terdapat di beberapa rumah sakit saja, belum diterapkan secara nasional, padahal sangat banyak orang asing yang secara terpaksa menahan sakitnya lantaran gak ngerti bahasa Jepang.

 

Jangankan orang asing, orang Jepang sendiri aja kadang-kadang gak ngerti apa yang dokter bilang karena saking banyaknya kata-kata medis yang aneh – apalagi kita!

Medis = 医療

Orang Gemuk Panjang Umur?

Sebaiknya kita menanggapi berita ini secara bijak.

Baru-baru ini Departemen Kesehatan, Buruh dan Kesejahteraan Jepang (Japanese Health, Labor and Welfare Ministry) mengumumkan bahwa berdasarkan penelitian mereka, orang yang memiliki kelebihan berat badan di umurnya yang ke 40 akan hidup lebih panjang daripada orang kurus di umur yang sama.

Penelitian skala besar ini juga menyebutkan bahwa orang-orang yang kurus kering mempunyai umur yang paling pendek dengan rata-rata 6 sampe 7 tahun “lewat” lebih dulu daripada orang gemuk – nah lho!

Sang ketua tim, profesor Ichiro Tsuji dari universitas Tohoku, memimpin penelitian ini sejak 12 tahun yang lalu dengan jumlah subjek yang mencapai 50,000 orang dari prefektur Miyagi yang berumur 40 tahun keatas.

Laporan ini jelas mencengangkan dunia kesehatan Jepang yang selalu menomor-satukan tubuh langsing nan seksi. Tapi…

Shinichi Kuriyama yang ikut memimpin tim tersebut menyebutkan bahwa orang-orang gak akan memperpanjang umur mereka secara otomatis hanya dengan menambah berat badan.

Dan yang harus diingat juga kalo biaya kesehatan orang gemuk rata-rata lebih mahal 30% daripada orang kurus.

Jadi, kamu pilih yang mana?

Japanese  Health, Labor and Welfare Ministry