Selamat Tahun Baru 2012!

Selamat Tahun Baru 2012!
Meski telat saya mau mengucapkan

Selamat Tahun baru = Akemashite Omedetou / あけましておめでとう

Iklan

Tips Menghadapi Gempa Bumi Dengan Benar

Tips Menghadapi Gempa Dengan Benar

Berikut tips menghadapi gempa dengan benar:

Kalau kamu berada di rumah…

1. Berlindunglah di bawah meja. Hal ini bisa memberikan kamu ruang untuk bernapas jika bangunan runtuh. Jika meja-nya bergerak, cobalah untuk ikut bergerak mengikuti arah meja.

2. Sisi tembok atau tempat dimana kusen pintu berada adalah tempat terakhir yang akan runtuh. Jika meja tidak tersedia, berlindunglah disana.

3. Jauhi semua benda-benda pecah belah (jendela, cermin, lampu, lukisan, guci), rak buku, lemari, dan semua yang bisa jatuh.

4. Ambil sesuatu untuk melindungi kepala dan wajah kamu dari kemungkinan terkena puing-puing yang jatuh dan pecahan kaca.

5. Jika lampu mati, gunakan senter. Jangan gunakan lilin dan korek api selama atau setelah gempa. Jika ada kebocoran gas, ledakan dapat terjadi.

6. Jika kamu berada di dapur, cepat matikan kompor sebelum kamu berlindung di bawah meja.

Kalau kamu berada di gedung…

Jauhi jendela dan segera berlindung di bawah meja. Jangan pakai lift. Tidak perlu berebut lari keluar gedung ketakutan, apalagi sampe nginjak-nginjak orang lain yang terjatuh (kalau sudah waktunya, percuma lari-lari juga kan?).

Yang paling penting saat menghadapi gempa adalah mencoba untuk tetap tenang dan, tentu saja, berdoa.

Gempa bumi = Jishin / 地震

Pria Indonesia di mata wanita Jepang ??


ini hanya observasi pribadi dari pengalaman tinggal di Sapporo, kota dingin di utara Jepang, yang terkenal dengan Snow Festivalnya. Walaupun Sapporo menempati urutan kota terluas ketiga di Jepang, kota ini cukup jauh dari hiruk-pikuk metropolitan. Bersepeda sedikit saja keluar pusat kota, akan terasa keheningan pedesaan walau masih dipenuhi oleh apartemen2 khas Jepang yang didominasi bangunan kayu. Seorang teman Jepang pernah mengatakan bahwa di Sapporo jam berdetak lebih lambat dibandingkan Tokyo. Maksudnya, walau dengan etos kerja yang sama, orang Sapporo terlihat lebih santai dibandingkan dengan sesamanya di Tokyo. Namun demikian, tipikal orang Jepang yang ‘gila kerja’ juga terlihat dalam kehidupan keseharian di Sapporo.

Sabtu di Jepang adalah hari libur (dari kerja), tetapi kita akan tetap menemui banyak pria berjas hilir mudik di Sapporo Station (station utama dan yang terletak di pusat kota). Jas adalah seragam orang kantoran. Artinya, walaupun libur, masih banyak orang Jepang, khususnya pria, yang lembur kerja. Bahkan pemandangan yang sama bisa kita jumpai pada hari Minggu. Di Sabtu dan Minggu, khususnya di musim panas, akan sering terlihat ibu dan anak berjalan-jalan, menikmati keindahan Taman Odori, Maruyama, atau taman2 lain. Ada yang hanya berjalan-jalan, duduk santai bahkan bermain dengan anak2. Taman Odori adalah taman kota sepanjang hampir 1,2 km yang terletak tepat di tengah kota. Di taman inilah, saat musim dingin, diadakan Snow Festival yang sangat terkenal itu. Maruyama adalah taman di pusat kota juga, tapi tidak tepat di jantung kota seperti Odori. Di tengahnya ada danau kecil tempat orang naik perahu dan di musim panas, taman itu pusatnya barang2 loakan (flea market). Di musim dingin taman itu dijadikan tempat cross country ski sederhana. Yang menarik adalah jarang sekali terlihat bapak2 yang menemani anak2nya bermain. Kalau pun ada satu dua, biasanya mereka masih mengenakan jas yang artinya baru pulang lembur. Pemandangan yang sama pun akan dijumpai di kereta bawah tanah dan mall. Sangat sedikit terlihat keluarga utuh, bapak, ibu dan anak berjalan bersama.

Memang berbeda dengan kota-kota besar di Jepang, dimana nilai keluarga di Sapporo masih cukup tinggi. Menikah, memiliki anak dan hidup berkeluarga, masih merupakan bagian hidup yang dijalani sebagian besar penduduk Sapporo. Berbeda dengan apa yang pernah diamati dan diceritakan di Hiroshima, Kobe, Yokohama, dan beberapa kota2 besar lainnya. Di sana, sangat jarang melihat keluarga bermain di taman atau melihat ibu2 mendorong kereta bayi. Umumnya di taman2 mereka didominasi oleh remaja2 yang bermain dengan sesamanya.

Walaupun demikian, seperti halnya Jepang secara keseluruhan, pria lebih dominan dibandingkan dengan wanita. Dalam keluarga, perempuan bertanggung jawab semuanya, mulai dari mengurus suami dan rumah tangga. Tugas suami hanyalah bekerja mencari nafkah. Novel2 dan film2 Jepang, baik seting lama maupun baru pun secara tidak langsung menunjukan hal tersebut. Jika satu keluarga akan berpergian, maka sang istrilah yang menyiapkan semuanya. Bahkan, sampai menyiapkan dan memasukan semua barang ke dalam mobil pun di lakukan oleh istri. Suami tinggal masuk mobil dan menyetir. Yang sering terlihat di mall atau di taman pun sama. Suami tidak pernah direpotkan dengan urusan anak. Anak belepotan makanan, baju kotor, ganti topi, membersihkan muka, dan semua ‘tugas kecil’ dilakukan semuanya oleh istri.

Tampaknya, bagaimana pria lebih superior dari wanita sudah terlihat sejak remaja. Lebih dari sekali terlihat, pasangan remaja, jika berpergian, maka yang membawa tas atau beban lebih banyak adalah yang wanitanya. Bahkan satu dua kali terlihat jika hanya ada satu sepeda, maka yang pria yang naik sepeda, sementara yang wanita jalan!

Itulah budaya Jepang dan tampaknya tidak ada masalah dengannya. Ini terbukti, dengan budaya yang sudah ratusan tahun itu, Jepang tetap bertahan dan maju sampai seperti sekarang.

Tampaknya pandangan beberapa wanita Jepang tentang budaya itu sedikit berubah saat mengenal lebih dekat kehidupan warga Indonesia di sana. Di Sapporo, ada banyak orang2 Jepang, yang umumnya wanita, sering bergabung dengan acara2 mahasiwa dan keluarga Indonesia (banyak wanita karena yang pria lebih suka kerja dan mabuk). Mereka tentu mengamati hal2 sederhana yang ternyata terlihat luar biasa dengan budaya yang selama ini mereka jalani. Hal yang aneh untuk mereka melihat suami mencuci piring, atau suami membawa belanjaan di mall, atau suami yang menutup dan mengunci pintu saat sekeluarga berpergian, atau suami membantu mengganti baju anak di taman atau menyuapkan makanan kepada anaknya. Hal yang luar biasa juga untuk mereka melihat suami memasak dan menyiapkan makanan untuk istrinya, atau bermain dengan anak sementara istrinya duduk dan membaca.

Mereka pun merasa heran jika melihat mahasiswanya selalu mengantarkan dan tidak membiarkan mahasiswi pulang sendirian malam2. Jepang adalah salah satu negara teraman di dunia. Tidak ada kekhawatiran untuk pulang malam sendirian. Mereka lebih heran lagi jika tahu alasan mengantar tersebut bukan karena takut ada apa-apa di jalan, tapi karena menghargai mereka. Mereka juga akan terheran-heran jika ada yang rela memberikan sepedanya untuk dinaiki sementara yang punyanya berjalan. Pernah suatu kejadian, kita berjalan berlima, tiga pria (mhs Indonesia) dan dua wanita Jepang. Kita semua kebetulan membawa sepeda. Setengah mati kita memaksa dan juga meyakinkan mereka untuk memakai dua sepeda kita. Suatu hal yang sulit dengan bahasa yang pas-pasan dan perbedaan budaya bertolak belakang. Terus terang, saat itu kita menawarkan bukan karena to be gentle, tapi agar segera sampai ke tempat tujuan. Tapi tetap saja susah sehingga kita semua berjalan dan agak terlambat sampai. Di kejadian lain, dalam kasus seperti itu, akhirnya kita tidak lagi menawarkan sepeda tapi menyuruh dengan tegas, take this bike or we don’t go.

Kebetulan, di dalam acara kumpul2 atau diskusi membahas sesuatu, hampir semua orang Indonesia, adalah orang2 yang mau mendengar dan menghargai pendapat orang lain. Di setiap diskusi mereka, orang2 Jepang, umumnya diam dan manut saja. Mungkin karena masalah bahasa dan juga merasa posisinya hanya sebagai penggembira dalam kelompok. Tapi kita tetap dan selalu minta pendapat mereka. Kita jelaskan dulu apa yang sedang kita bahas dalam bhs Jepang oleh teman yang bisa. Dan kemudian kita persilahkan mereka bicara dalam bahasa Jepang dan nanti akan diterjemahkan. Mereka mungkin tidak percaya betapa kita mau repot2 menjelaskan dalam bahasa mereka dan kemudian mendengar pendapat kelompok penggembira seperti mereka.

Dalam banyak hal, mereka melihat bahwa bangsa Indonesia memiliki budaya yang lebih baik dibanding dengan budaya mereka, khususnya dalam hubungan pria dan wanita. Dua dari tiga teman wanita Jepang jika ditanya apakah suka dengan pria Indonesia, maka mereka menjawab suka dan yang ketiganya bahkan ingin menikah dengan pria Indonesia. Sebagian besar teman2 Jepang yang sering bergabung adalah mereka yang berumur minimal di akhir 20an, dimana melihat lawan jenis sudah tidak dari tampan dan gagahnya tapi sudah lebih pada karakternya. Bukti betapa ‘lakunya’ pria Indonesia di Jepang, adalah setidaknya di lingkungan Sapporo saja sudah ditemui sekitar enam keluarga, dimana suaminya adalah orang Indonesia.

Barangkali, kebetulan saja, orang2 Indonesia yang datang ke Jepang adalah orang2 pilihan. Tapi jika kita kenal lebih jauh dengan teman2 Jepang itu, kita akan tahu bahwa hampir semuanya sudah pernah ke Indonesia, khususnya Bali. Mereka sudah mengenal dan berinteraksi dengan pria Indonesia ‘langsung dari sumbernya’. Dan pendapat mereka tidak berubah bahwa pria Indonesia lebih menghargai wanita di bandingkan pria Jepang.

Perbandingan Jepang & Indonesia dalam Berbagai Situasi

Mau tau bedanya situasi & kondisi dalam berbagai situasi di Indonesia sama Jepang?

Ini dia sebagian dari hasil riset saya, alias hasil celingak-celinguk kiri-kanan, atas-bawah, depan-belakang pengamatan saya ngeliatin tingkah orang Jepang dan orang Indonesia. Emang sih apa yang saya tulis gak bisa menggambarkan kondisi di seluruh Jepang maupun kondisi di seluruh Indonesia. Karena memang saya belum pernah sampe keliling ke seluruh pelosok Jepang, apalagi keliling Indonesia yang luasnya segede gambreng! Tapi ya lumayanlah buat bahan perenungan.

# KETIKA DI KENDARAAN UMUM #
Japan: orang2 pada baca buku atau tidur.
Indo: orang2 pada ngobrol, ngegosip, ketawa-ketiwi cekikikan, ngelamun, dan tidur.

# KETIKA MAKAN DI KENDARAAN UMUM #
Japan: sampah sisa makanan disimpan ke dalam saku celana atau dimasukkan ke dalam tas, kemudian baru dibuang setelah nemu tong sampah.
Indo: dengan wajah tanpa dosa, sampah sisa makanan dibuang gitu aja di kolong bangku/dilempar ke luar jendela.

# KETIKA DI KELAS #
Japan: yang kosong adalah bangku kuliah paling belakang.
Indo: yang kosong adalah bangku kuliah paling depan.

# KETIKA DOSEN MEMBERIKAN KULIAH #
Japan: semua mahasiswa sunyi senyap mendengarkan dengan serius.
Indo: tengok ke kiri, ada yg ngobrol. tengok ke kanan, ada yg baca komik. tengok ke belakang, pada tidur. cuman barisan depan aja yg anteng dengerin, itu pun karena duduk pas di depan hidung dosen!

# KETIKA DIBERI TUGAS OLEH DOSEN #
Japan: hari itu juga, siang/malemnya langsung nyerbu perpustakaan atau browsing internet buat cari data.
Indo: kalau masih ada hari esok, ngapain dikerjain hari ini!

# KETIKA DI MASJID HENDAK SHALAT JUMAT #
Japan: jamaah berebut duduk di shaf terdepan.
Indo: jamaah berebut nyari tempat PW (Posisi Wuenak) di deket tembok paling belakang biar bisa nyender/di bawah kipas angin biar gak kepanasan & tidurnya nyenyak.

# KETIKA TERLAMBAT MASUK KELAS #
Japan: memohon maaf sambil membungkukkan badan 90 derajat, dan menunjukkan ekspresi malu + menyesal gak akan mengulangi lagi.
Indo: slonong boy & slonong girl masuk gitu aja tanpa bilang permisi ke dosen sama sekali.

# KETIKA NONTON KONSER BAND #
Japan: walau konser band rock cadas sekalipun kayak Dai atau X-Japan, penontonnya tetap tertib & gak anarkis.
Indo: jangankan band rock, konser sekelas band Peter Pan yg lagunya cengeng aja sampe makan korban jiwa!

# KETIKA DI JALAN RAYA #
Japan: mobil sangat jarang (kecuali di kota besar). padahal jepang kan negara produsen mobil terbesar di dunia, mobilnya pada ke mana ya?
Indo: jalanan macet, sampe2 saya susah nyebrang & sering keserempet motor yg jalannya ugal-ugalan.

# KETIKA JAM KANTOR #
Japan: jalanan sepiiiii banget, kayak kota mati.
Indo: PNS pake seragam coklat2 pada keluyuran di mall-mall.

# KETIKA BUANG SAMPAH #
Japan: sampah dibuang sesuai jenisnya. sampah organik dibuang di tempat sampah khusus organik, sampah anorganik dibuang di tempat sampah anorganik.
Indo: mau organik kek, anorganik kek, bangke binatang kek, semuanya tumplek jadi 1 dalam kantong kresek.

# KETIKA BARANG ELEKTRONIK RUSAK #
Japan: langsung dibuang ke tempat sampah atau didaur ulang.
Indo: diservis! sayang kan beli mahal2, mana kreditnya belum lunas lagi!

# KETIKA BERANGKAT KE KAMPUS/SEKOLAH #
Japan: berangkat ke sekolah/kampus naik kereta/bus kota.
Indo: berangkat ke sekolah pake mobil babeh atau yg dibeliin pake duit babeh! tetep aja babeh2 juga…!

# KETIKA BERANGKAT KE KANTOR #
Japan: berangkat naik kereta/bus kota. mobil cuma dipake saat acara keluarga atau yg bersifat mendesak aja.
Indo: gengsi dooonk… masa’ naik angkot?!

# KETIKA JANJIAN BERTEMU #
Japan: ting…tong…semuanya datang tepat pada jam yg disepakati.
Indo: salah 1 pihak pasti ada dibiarkan sampai berjamur & berkerak gara2 kelamaan nunggu!

# KETIKA BERJALAN DI PAGI HARI #
Japan: orang2 pada jalan super cepat kayak dikejar doggy, karena khawatir telat ke kantor/sekolah.
Indo: nyantai aja cing…! si boss juga paling datengnya telat!

CATATAN:
bukan bermaksud menjelek-jelekkan bangsa sendiri. saya pun sadar bahwa saya seorang Indonesia. tapi ini hanya sebagai bahan perenungan kita sebagai bangsa yang tentunya tidak mau terus terpuruk. Maju atau mundurnya suatu bangsa itu bukan dikarenakan sumber daya alam atau kecerdasan bangsanya semata, tapi lebih disebabkan oleh ATTITUDEalias sikapnya! bagaimana mau jadi juara kalau bersikap seperti pecundang? bagaimana mau jadi kaya kalau bersikap seperti orang miskin? di balik cerita ini semua, tentunya sangat banyak hal positif bangsa indonesia jika dibandingkan dengan jepang. tapi untuk apa membesar2kan semua itu jika hanya membuat kita besar kepala! terus-menerus dinina bobokan oleh ungkapan bahwa kita ini bangsa besar yg kaya sumber daya alamnya, tapi buktinya? jelas sekali bangsa ini ada masalah besar dalam hal ATTITUDE.

makanya… ayo donk berubah!!! siapa lagi yang akan melakukan perubahan itu jika bukan dimulai oleh kita sendiri?! kapan lagi melakukan perubahan itu jika tidak dimulai sekarang juga?!

Sebelum Pergi ke Jepang, Baca ini Dulu Yah!

kalau kamu berencana pergi ke jepang. entah dalam rangka wisata atau studi ada baiknya kamu mengetahui beberapa karakter khas orang jepang.
jadi ya… anggap aja tulisan ini sebagai touris guide kamu sebelum kamu pergi ke jepang. berikut ini beberapa tips yg sebaiknya kamu perhatikan.

1. siapin kartu nama

ketika pertama kali bertemu, umumnya orang jepang suka tukeran kartu nama dgn orang yg baru dia kenal. tujuannya biar mereka bisa ngebaca & melafalkan nama orang yg baru dikenalnya itu dgn benar. soalnya lidah orang jepang gak seperti lidah orang indonesia yg bisa lancar mengeja apa aja. sedangkan orang jepang biasanya suka kesulitan menyebutkan beberapa huruf. misalnya aja dalam penyebutan nama. karena mereka gak bisa menyebut kata yg berakhiran huruf konsonan, jadi mereka suka nambahin satu huruf vokal di akhir kata tersebut. contohnya, nama saya adalah ‘dimas’, tapi teman-teman saya gak bisa bilang ‘dimas’. jadi akhirnya ketika mereka bilang/manggil ‘dimas’, mereka suka nambahin huruf ‘u’ di belakang nama saya. jadilah saya dipanggil ‘dimasu’ oleh mereka.

2. merespon pembicaraan

kalau dalam istilah bahasa jepangnya disebut dgn ‘aizuchi’. sebenernya kalau yg ini sih gak cuma orang jepang aja ya. saya kira siapa pun orangnya pasti akan tersinggung kalau pembicaraannya gak direspon oleh lawan bicara. tapi ada satu hal yg unik kalau buat orang jepang. kebiasaan orang Jepang ini berbeda dgn kebiasaan orang Indonesia yg gak mau disela ketika sedang berbicara. orang Indonesia justru akan marah kalau disela saat sedang berbicara. tapi untuk orang Jepang, disela saat bicara malah merupakan tanda buat mereka bahwa pembicaraan mereka disimak oleh si pendengar.

3. Disiplin

yang ini saya kira juga udah jadi rahasia umum. orang Jepang sangat terkenal dgn kedisiplinan mereka. kalau mereka bikin janji ketemuan, biasanya mereka akan sudah ada di tempat sekitar 5-10 menit sebelum waktu yg disepakati. saya juga gak mau menyalahkan orang Indonesia tukang ngaret lho! gak semua orang Indonesia tidak disiplin atau tidak tepat waktu, tapi ada kecenderungan tidak menghargai waktu (hehe…itu sih sama aja ya?!)
khusus soal budaya ngaret ini, ada teori yg dikemukakan oleh pakar bahasa tentang kebiasaan orang Indonesia yg gak menghargai waktu, yaitu orang Indonesia gak menepati waktu karena dalam bahasa Indonesia gak ada �fkala�f (tense). beda dgn bahasa inggris dan jepang yg ada tense-nya. misalnya dalam kata ‘makan’, dalam bahasa Indonesia, kata �fmakan�f tidak mengalami perubahan bentuk meskipun digunakan dalam bentuk sedang terjadi atau bentuk lampau. ini berbeda dgn bahasa Jepang dimana kata �ftaberu�f akan mengalami bentuk kalau digunakan untuk menyatakan sedang makan �ftabete iru�f dan kalau digunakan untuk menyatakan sudah makan berubah menjadi�ftabeta�f.

4. jaga kebersihan

selain disiplin dalam hal waktu, orang jepang juga disiplin dalam membuang sampah. gak kayak orang indonesia yg suka seenaknya aja buang sampah. gak peduli di jalan, di bus, di angkot, dan yg paling favorit yaitu di sungai. orang Jepang udah terbiasa membuang sampah pada tempat-tempat tertentu dan pada hari-hari tertentu pula. di Jepang sampah dibagi beberapa jenis dan hari pembuangan sampah-sampah ini berbeda-beda tergantung jenisnya. jenis-jenis sampah tersebut dan hari pembuangannya adalah sebagai berikut :

a. sampah yg dapat dibakar.
misalnya: sampah kertas
hari pembuangan: Senin, Rabu, Jumat
b. sampah yg tidak dapat dibakar
misalnya: barang-barang dari kaca, barang-barang dari plastik,
barang-barang dari logam
hari pembuangan: Kamis

c. sampah besar
misalnya: perabot rumah tangga, barang-barang eletronik, sepeda
hari pembuangan: Selasa minggu ketiga

d. sampah yg bisa didaur ulang
misalnya: kaleng bekas, botol bekas, koran bekas
hari pembuangan: Selasa minggu kedua dan keempat.

5. jangan ngajak makan makanan pedas.

wahahaha… kalau yg ini sih lagi-lagi pengalaman pribadi. gak mau diceritain ah… soalnya memalukan! maksudnya memalukan untuk saya-nya! hehe…
pokoknya yg jelas jangan sekali-sekali ngajak oang Jepang makan makanan yg pedas. orang Jepang gak suka makanan pedas karena makanan pedas bisa bikin mereka sakit perut dan mencret-mencret. soalnya mereka udah terbiasa sama makanan mereka yg pada umumnya tawar, segar, atau mentah.

6. jangan ngeludah sembarangan.

orang Indonesia suka ngeludah di sembarang tempat, gak peduli pas lagi jalan atau saat sedang mengemudikan kendaraan. �eCuah�f di sana, �ecuah�f di sini buat orang Indonesia itu hal lumrah. malah pernah waktu saya naik angkot di Indonesia mau pergi dari rumah ke mall, di sebelah saya ada ibu-ibu lagi batuk-batuk. dan tiba-tiba “cuiihhhh…” ngeludah di dalam angkot itu! oh nooo…. waktu itu saya langsung bergidik ngerasa jijik. bagi orang Jepang meludah sembarangan itu gak baik. soalnya mungkin aja kan ada bibit penyakit yg diterbangkan angin kalau udah kering. lain halnya dgn kentut. di Indonesia kentut di tempat umum dianggap hal jorok & memalukan. kalau di Jepang itu dianggap sebagai sesuatu yg lumrah. tapi asal kentutnya gak bau banget aja! hehehe..

7. mengerti bahasa tubuh mereka

dalam istilah jepang ada yg disebut ‘miburi’ atau bahasa isyarat/bahasa tubuh. ini penting untuk kamu ketahui soalnya ada beberapa bahasa tubuh yg artinya beda antara yg biasa dilakukan orang indonesia dgn yg biasa dilakukan orang jepang. misalnya, orang Indonesia menunjuk dirinya dgn menepuk dadanya. memegang dada bagi orang Jepang bukan berarti �fsaya�f seperti di Indonesia, melainkan mengekspresikan kelegaan atau ketenangan. sedangkan untuk menunjukkan diri sendiri, orang Jepang menunjuk hidungnya. terus pada saat menyentuh benda yg panas, orang Jepang akan segera memegang telinganya, sedangkan orang Indonesia akan meniup tangan atau jari yg tadi terkena panas. miburi lain yg berbeda antara di Indonesia dgn di Jepang adalah mengacungkan jempol. di Indonesia artinya hebat, oke, mantap, nah kalau di Jepang artinya dia (laki-laki), atau ayah.

8. warna-warna

dalam kehidupan orang Jepang, pada dasarnya warna itu dibagi 2, yaitu warna laki-laki dan warna perempuan. warna perempuan seperti merah muda (pink), kuning, orange, dan ungu. sedangkan warna laki-laki biasanya hitam, coklat, biru dll. Jadi, kalau mau ngasih sesuatu ke orang Jepang harus disesuaikan warna benda yg akan diberikan dgn jenis kelamin orang yg menerima. Kalau gak gitu pemberian kamu tadi akan sia-sia.

9. kata sapaan

ada banyak kata sapaan dalam bahasa Jepang, seperti -san, -sama, -chan, -kun. Tiap-tiap kata sapaan tadi memiliki fungsi dan aturan pemakaian tersendiri. yang paling umum dipakai adalah -san. �f-San�f ini dipakai untuk menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara yang diletakkan setelah nama orang. gak bisa dipakai untuk menyebutkan diri sendiri atau setelah nama sendiri. �f-sama�f dipakai setelah nama orang yang sangat-sangat dihormati. �f-kun�f dipakai setelah nama anak laki-laki dan �f-chan�f dipakai setelah nama anak perempuan. Misalnya: Nakashima-san, Fukuda-sama, Taro-kun, Aiko-chan.

10. karaoke

orang jepang suka banget pergi ke karaoke. jadi kalau kamu baru berkenalan dgn orang jepang, jangan sungkan-sungkan buat ngajak dia berkaraoke bareng kamu. tapi karaoke-an aja lho… jangan yg pake plus-plus! hehe…

oke… kamu sekarang udah tau sedikit panduan yg mesti dilakukan saat kamu baru tiba di jepang. memang sih butuh sedikit penyesuaian untuk iklim budaya yg berbeda dgn budaya kita di indonesia. tapi ya sebagaimana pepatah bilang, ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’. otomatis kita kudu ngerti dan menghormati budaya orang lain juga kan.

yooo… semuanya selamat datang di jepang…
mata aimashoo!!!

10 rahasia Sukses orang Jepang

Apa sajakah sikap-sikap orang Jepang yang bisa kita contoh biar bisa sukses kayak bangsa mereka ??
Berikut adalah 10 rahasia Sukses orang Jepang :

1. Kerja Keras

Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.

2. Malu

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

3. Hidup Hemat

Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.

4. Loyalitas

Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.

5. Inovasi

Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.

6. Pantang Menyerah

Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia . Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini

7. Budaya Baca

Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

8. Kerjasama Kelompok

Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok” . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.

9. Mandiri

Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

10. Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua

Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini.

Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.

Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.